Mohon tunggu...
Gatot Tri
Gatot Tri Mohon Tunggu... Swasta

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Jangan Buru-buru Panik Bila Akun Media Sosial Kita Diretas

14 Februari 2019   11:41 Diperbarui: 14 Februari 2019   12:26 0 13 4 Mohon Tunggu...
Jangan Buru-buru Panik Bila Akun Media Sosial Kita Diretas
ilustrasi (sumber: frank_peters/Shutterstock)

Bulan lalu akun Twitter saya diretas oleh seseorang. Saya merasa aneh saja dengan performanya yang agak berbeda. Saya cek di menu pengaturan (setting), ternyata ada dua device yang login dengan akun saya, satu di gawai saya dan satu lagi di device si peretas. Saya meyakini itu adalah device si peretas karena saya sudah lama menghapus aplikasi tersebut di gawai milik saya lainnya.

Aksi pengusiran penyusup pun dimulai. Saya ketuk-ketuk di sejumlah opsi di menu pengaturan dan syukurlah akhirnya beres. Tapi tidak lama si peretas masuk lagi ke akun saya. Mungkin karena sudah berjiwa nakal sejak dahulu kala, si peretas selalu berusaha mengusik rumah orang lain.

Akhirnya saya pun meluangkan waktu sejenak untuk sesuatu yang membuang-buang waktu ini. Beberapa saat kemudian, gawai saya bisa terbebas dari penyusup. Meski begitu saya secara berkala melakukan pengecekan akun Twitter saya kalau-kalau ia kembali lagi.

Sebenarnya saya lihat tidak ada yang terenggut dari akun Twitter saya dari aktivitas si peretas, jadi kemungkinan ia adalah hacker yang singgah atau mengawasi (spying) aktivitas saya. Saya cek cuitan saya tidak ada yang hilang atau dimanipulasi. Cuitan juga tidak sampai 30 kali buat apa? Hehe. Maklum saya itu biasanya nge-ROM (Read Only Member) saja di grup media sosial (medsos) manapun saya berada.

Siapapun peretas gawai saya, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari sana. Misalnya akun Twitter saya, saya hanya mengikuti empat akun saja termasuk Kompasiana. Sebelumnya lima, karena ada satu akun yang sudah tidak digunakan oleh sang empunya akun, maka saya hapus. 

Akun Instagram saya juga hanya follow akun-akun fotografi dan arsitektur, segelintir teman dan saudara. Facebook tidak punya, LinkedIn tidak punya. Akun ebanking apalagi. Jadi tidak ada sesuatu yang spesial dari gawai saya jika seseorang hendak meretasnya. Daftar kata sandi atau password juga tidak saya simpan di gawai saya. Ada beberapa kata sandi yang saya simpan di gawai saya, tetapi tetap saya enkripsi sendiri. 

Lagu-lagu dalam format mp3? Nihil. Apalagi file video, kecuali sejumlah file gambar atau video dari beberapa grup Whatsapp yang saya ikuti. Foto-foto yang saya simpan juga merupakan dokumentasi pribadi yang tidak penting buat si peretas. Sebagian besar file gambar, foto, video sudah saya salin atau pindahkan ke media lain. Jadi jika ada seseorang yang ingin meretas gawai saya, sepertinya mereka hanya membuang waktu saja.

Peretasan akun medsos serupa pernah dialami oleh salah satu kerabat saya yang akun Facebook-nya diretas oleh seseorang. Ia mengetahuinya setelah muncul postingan bernada negatif yang berasal dari akun kerabat saya. Karena ia orangnya praktis, maka ia pun segera membuat akun baru. Akun lamanya ia biarkan saja sembari menginformasikan kepada circle-nya tentang akun Facebook barunya.

Saya, dan juga Anda pasti merasa khawatir jika akun medsos kita diretas. Jika akun medsos kita diretas, langkah pertama adalah jangan buru-buru panik. Cek aktivitas di akun medsos Anda. 

Jika ada aktivitas yang tidak biasa, misalnya Anda menemukan adanya postingan atau komentar yang tidak lazim yang datang dari akun medsos Anda padahal Anda merasa tidak melakukan itu, segera berikan klarifikasi bahwa postingan atau komentar tersebut bukan dari Anda. Sampaikan bahwa akun Anda diretas.

Langkah berikutnya, cek pada bagian profil atau data diri Anda untuk memastikan data-data personal Anda tidak berubah, terutama alamat email. Mengapa alamat email penting untuk dicek? Ini karena berkaitan dengan langkah berikutnya yaitu memperbarui atau me-reset kata sandi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x