Gatot Tri
Gatot Tri

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Jadikan Perilaku Jujur sebagai "Personal Branding"

30 Agustus 2018   12:27 Diperbarui: 30 Agustus 2018   17:23 2374 6 2
Jadikan Perilaku Jujur sebagai "Personal Branding"
sumber ilustrasi: SHUTTERSTOCK

Beberapa hari lalu ketika menghadiri sebuah undangan, saya bertemu dengan salah seorang pensiunan dari sebuah perusahaan swasta. Kami mengobrol banyak hal, salah satunya tentang pengalamannya ketika masih bekerja di perusahaan itu. Sebagai orang yang lebih muda, saya merasa perlu menimba pengetahuan sebanyak-banyaknya dari para senior, apapun jabatannya.

Seseorang yang berbicara dengan saya itu -- sebut saja Pak A - memiliki posisi di bagian collector atau penagihan yang berada di bawah bagian keuangan. Setahu saya pekerjaan itu membuatnya kerap membawa uang tunai. Saya tahu karena dulu saya juga pernah bertugas menagih pembayaran ke klien.

Bagi sebagian orang pekerjaan itu riskan apalagi membawa uang banyak. Dulu saya merasa was-was ketika membawa uang di tas yang jumlahnya berlipat-lipat dari gaji bulanan saya. Saya merasa beberapa pasang mata menatap tas saya padahal itu hanya perasaan saya saja. Tapi sebenarnya saya.. Tunggu... Kok malah cerita tentang saya. Maaf kebiasaan saya suka ngalor-ngidul, harap maklum. Baiklah, kita kembali ke cerita Pak A.

Pak A punya prinsip bekerja dengan sebaik-baiknya dan profesional. Satu hal yang menjadi pedomannya dalam bekerja adalah kejujuran. Pak A selalu ingat pesan almarhumah sang istri bahwa bekerja itu harus jujur. Pesan sang istri tercinta itu ia resapi dalam-dalam ke hati. Terbukti ia dipercaya memegang tugas itu bertahun-tahun lamanya hingga ia pensiun dari perusahaan tersebut.

Buah dari kejujurannya itu berbuah manis. Perusahaan tempat Pak A bekerja pernah memberikan penghargaan kepadanya sebagai karyawan paling jujur. Untuk itu perusahaan tersebut memberikan hadiah beasiswa bagi putranya sejak SMA hingga lulus Sarjana.

Hadiah tersebut sangat berarti bagi Pak A yang sehari-hari hidup sederhana. Untuk membantu keuangan rumah tangga, almarhumah sang istri dulu pernah berjualan makanan di pasar. Kini kedua putranya telah lulus Sarjana dan telah bekerja di salah satu perusahaan yang produknya dikenal luas di Indonesia. Karir mereka juga terbilang sukses.

Nah, saya melihat kejujuran Pak A tersebut, baik beliau sadari atau tidak, merupakan personal branding dirinya. Perusahaan tempat beliau bekerja memiliki persepsi positif terhadap Pak A lewat kejujurannya. Bahkan mungkin juga puas dengan kinerjanya.

Personal branding pada dasarnya merupakan praktik pemasaran diri dan karir seseorang sebagai sebuah merek (Wikipedia). Meski mengusung kata "branding", personal branding bukan bermaksud memandang manusia sebagai merek.

Personal branding merupakan segala hal baik dan otentik yang nampak dari individu yang menimbulkan persepsi positif di mata orang lain atau institusi, yang mendorong orang lain atau institusi tersebut untuk memberikan respon yang positif pula.  

Perusahaan dan rekan kerja Pak A memiliki persepsi bahwa Pak A sebagai karyawan yang jujur sehingga mendorong perusahaan tempat ia bekerja tetap mempertahankannya bekerja di perusahaan tersebut hingga masa pensiun tiba. Perusahaan juga memberikan pengakuan dalam bentuk penghargaan sebagai karyawan paling jujur serta rewards berupa beasiswa untuk putranya.

Nilai kejujuran yang dianut Pak A ini kerap dipahami sebagai citra atau image. Pengertian mengenai citra sendiri pernah dikumpulkan oleh Kompasianer Armunanto Heri. Dari sejumlah pengertian tentang citra tersebut, saya dapat merangkumnya sebagai kesan yang muncul atau dimunculkan dari suatu individu atau institusi yang tertanam di benak pihak lain, yang menciptakan suatu reputasi individu atau institusi tersebut.

Citra bisa bersifat positif atau negatif. Segala hal yang dilakukan untuk membangun ataupun meruntuhkan citra lazim disebut dengan pencitraan. Pencitraan ini bisa diramu sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kesan positif atau negatif tergantung dari sisi mana memandangnya.

Personal branding dan pencitraan adalah dua hal yang nampaknya sama padahal sebenarnya berbeda. Pak A bekerja dengan jujur bukan karena ingin membentuk pencitraan tentang dirinya agar dinilai jujur, tetapi karena mungkin ia beranggapan bahwa nilai-nilai kejujuran akan membawa kebaikan bagi kehidupannya, kehidupan rekan kerjanya ataupun keberlangsungan perusahaan serta membawa pahala baginya.

Bagaimana jika Pak A termakan godaan dan menggunakan uang perusahaan untuk kesenangan pribadinya? Perusahaan pasti akan tergoncang, arus kas menjadi tidak lancar. Bisa-bisa gaji karyawan juga tersendat. Apalagi jika uang perusahaan yang ia salah gunakan nilainya sangat besar.

Kejujuran Pak A adalah personal branding beliau. Personal branding menitikberatkan pada sisi value atau nilai yang positif yang melekat pada diri seseorang. Nilai kejujuran yang ada pada diri Pak A sehari-hari dikenali dengan jelas oleh perusahaan tempat ia bekerja lewat perilakunya di kantor sehari-hari.

Saya hendak memberikan contoh lain. Dulu pernah punya teman seorang pegawai negeri sipil atau PNS di sebuah institusi pendidikan. Ia ternyata punya keahlian desain grafis. Jadi ia kerap menerima "orderan" dari kantornya untuk merancang poster, banner, apapun yang memerlukan jasanya untuk keperluan kantornya.

Nah, teman saya ini secara tidak sadar menciptakan personal branding keahliannya yaitu desain grafis yang ia kerjakan di sela-sela tugas rutinnya sehari-hari. Awalnya satu-dua rekan kantor yang tahu skill-nya, lama-lama tersebar hingga seluruh kantor. Jadi kalau kantornya hendak membuat sesuatu hal misalnya membuat poster, ia kerap ditunjuk untuk mengerjakannya. 

Nampak jelas perbedaan personal branding dan pencitraan. Pencitraan cenderung merupakan polesan terhadap sesuatu hal, penampilan atau perilaku sehingga menimbulkan kesan agar orang lain memandang seseorang atau institusi secara positif atau negatif. 

Oleh karena cenderung artifisial karena tidak melekat pada individu atau institusi atau tidak otentik, pencitraan sering hanya bersifat sementara hingga suatu tujuan tercapai.

Personal branding Pak A jelas sukses tanpa balutan pencitraan yang dibuat-buat. Bahkan ia juga tidak bilang-bilang ke teman-temannya sebagai orang yang jujur. Saya meyakini nilai kejujuran telah tertanam pada diri Pak A sejak lama meski almarhumah sang istri kerap mengingatkannya agar bekerja dengan penuh kejujuran. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2