Gapey Sandy
Gapey Sandy Kompasianer, Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Buzzer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

8 Tips Praktis Jadi "Food Photographer"

17 Juli 2018   10:40 Diperbarui: 17 Juli 2018   13:54 1921 8 3
8 Tips Praktis Jadi "Food Photographer"
Fellexandro Ruby sedang memeragakan memotret makanan. (Foto: Gapey Sandy)

"Story telling dalam setiap karya foto makanan saya, hanya ada satu kata. Yaitu, RASA."

Adalah Fellexandro Ruby, food photographer yang membeberkan 8 tips praktis untuk menjadi seorang tukang foto makanan. Apa? Tukang foto makanan? Ya, belakangan profesi ini semakin bergemerincing pundi-pundi uang, lantaran semakin banyak pemilik brand makanan (pun minuman) yang kepingin produknya tampil memikat di samudera media-media massa apalagi di media sosial.

"Kalau lihat foto produk Chitato dan Amanda Brownies yang baru, maka itulah diantara hasil karya foto saya," ujar Ruby, sapaan akrabnya. Dan, kalau penasaran mau lihat tampilan karya-karya foto Ruby lainnya, silakan saja buka akun instagramnya, @captainruby

"Dulu, saya juga blogger. Saya menulis curhatan-curhatan sejak 2009. Kemudian berubah fokus menulis blog dengan passion seputar makanan. Lalu, bergeser sedikit menjadi fotografer makanan sampai sekarang," ujar Ruby mengawali paparan singkatnya di acara Taste of Macao yang menggemakan kampanye "2018 Macao Year Of The Gastronomy" di Nusa Indonesian Gastronomy Restaurant, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu, 14 Juli kemarin.

Spanduk yang mengusung tema 2018 Macao Year Of Gastronomy. (Foto: macaotourism.gov.mo)
Spanduk yang mengusung tema 2018 Macao Year Of Gastronomy. (Foto: macaotourism.gov.mo)
Menurut Ruby, siapa pun kita bahkan dengan latar belakang profesi apapun, malah yang tidak punya hubungan sama sekali dengan fotografi sekalipun, bisa mempelajari dengan mendalam apa yang namanya food photography

"Fotografi menurut saya adalah sebuah skill yang bisa dipelajari oleh semua orang. Bedanya cuma, harus diakui, kalau yang punya keturunan mata seni - apakah turunan dari orangtua, atau kebiasaan sehari-hari yang selalu mengekspose seni -, biasanya akan lebih cepat belajarnya," katanya.

Dari perjalanannya sebagai professional food photographer, Ruby menyebut satu kata sebagai yang paling mewakili dari setiap karya jepretannya. Apa itu? Tak lain adalah: rasa. "Rasa adalah kombinasi dari berbagai macam hal, penciuman, pendengaran, penglihatan, kecap lidah bahkan emosi. Story telling dalam food photograhy saya, yang paling simple adalah diartikan dengan kata "rasa". Tampilkan "rasa" dalam setiap food photography," pesan Ruby.

Tapi jangan gegabah memaknai rasa untuk kemudian asal-asalan memotret makanan. Bisa-bisa hasilnya malah foto yang gagal. Artinya, makanan yang semestinya punya rasa sedap, tampilan fotonya malah bisa jadi terbalik alias kurang sedap.

Teori dan praktik memotret makanan bersama Fellexandro Ruby, food photographer. (Foto: Gapey Sandy)
Teori dan praktik memotret makanan bersama Fellexandro Ruby, food photographer. (Foto: Gapey Sandy)
Ruby sendiri harus melakukan banyak "ritual" sebelum memotret makanan. Pernak-pernik properti harus disiapkan lebih dulu, bukan cuma makanannya doang. Malah asal tahu saja, pengalaman Ruby untuk memilih gelas sebagai obyek foto saja, harus melakukan dua kali meeting dengan pihak advertising agency dan klien. Tambah lagi, musti memilih beberapa gelas saja dari sekian ratus gelas yang dinominasikan. Tuh, enggak gampang kaaaannnn...

"Detil-detil property harus diperhatikan secara seksama, termasuk misalnya pemilihan detil gelas. Percaya enggak percaya, saya, agency dan client, harus melakukan dua meeting khusus hanya untuk memilih gelas yang akan dijadikan obyek fotonya. Bersama dengan food stylist kita memilih beberapa gelas saja dari ratusan gelas yang diajukan sebagai contoh," ungkap sang captainruby.

Untuk menjadi juru foto mumpuni, lanjut Ruby, tidak usah dipusingkan dengan kamera apa yang dipergunakan. "Yang penting adalah kita harus paham dengan kamera apa yang kita gunakan itu. Ingat, ada pepatah bijak mengatakan: Camera is secondary. The number one is the person behind the camera. Camkan itu dengan baik," nasihat "sang kapten".

Kompasianer Indria Salim menjajal bidik foto makanan. (Foto: Gapey Sandy)
Kompasianer Indria Salim menjajal bidik foto makanan. (Foto: Gapey Sandy)
8 Tips Praktis Non Teknis Menjadi Food Photographer

Berikut ini, 8 tips yang disodorkan Ruby untuk menjadi juru foto makanan:

Tips #1: Berteman dengan jendela. "Jendela itu penting, karena food photography yang paling baik adalah foto dengan cahaya natural. Cahaya matahari lebih baik. Sinar matahari yang 'jatuh' ke makanan itu jauh lebih colorful dan lebih enak untuk dilihat," ujarnya.

Bersahabat dengan jendela, tips untuk juru potret makanan. (Foto: gotomalls.com)
Bersahabat dengan jendela, tips untuk juru potret makanan. (Foto: gotomalls.com)
Tips #2: Cahaya dari KKB (Kiri Kanan Belakang). Ruby mengingatkan, arah datangnya cahaya sangat menentukan kualitas hasil foto. Makanya, perhatikan aturan KKB tersebut.

"Perhatikan juga arah datangnya cahaya dengan cara melihat bayangan dari benda yang menjadi obyek foto. Dibandingkan dengan cahaya yang datang dari arah depan obyek foto, maka cahaya yang datang dari arah samping adalah lebih bagus lagi. Kalau cahaya datang dari arah depan, maka obyek foto akan terlihat flat, sedangkan kalau dari samping menjadi semakin terlihat dimensi dari obyek fotonya," terang Ruby.

Untuk lebih mudahnya, Ruby berpesan, sebaiknya arahkan cahaya agar datang dari arah jam 9 sampai jam 3. Kalaupun dari arah jam 12, maka itu artinya dari arah belakang makanan. Artinya, dari sisi kiri, kanan maupun belakang (KKB).

Menu Lacassa Soup, kuliner Macao. Pencahayaan dari arah belakang terlihat dari bayangan mangkuknya. (Foto: Gapey Sandy)
Menu Lacassa Soup, kuliner Macao. Pencahayaan dari arah belakang terlihat dari bayangan mangkuknya. (Foto: Gapey Sandy)
Tips #3: Buat agak gelap sedikit, dibandingkan terlalu terang.

Untuk tips yang satu ini, Ruby memberi contoh, kalau obyek foto yang akan dipotret berwarna kuning, tetapi kita memotretnya dengan terlalu terang bahkan menggunakan lampu flash, maka hasilnya, warna obyek foto yang tadinya kuning bisa malah menjadi putih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2