Gapey Sandy
Gapey Sandy Kompasianer, Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Buzzer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Heboh Serbet sebagai Hadiah Lomba Baca Puisi di Banten

4 Mei 2018   10:20 Diperbarui: 4 Mei 2018   13:36 2801 19 11
Heboh Serbet sebagai Hadiah Lomba Baca Puisi di Banten
Hadiah Juara 2 Lomba Baca Puisi berupa 2 helai serbet. (Foto: FB Banten News)

Puluhan seniman dari Banten, kemarin (3/5) meradang. Mereka enggak bisa terima kalau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Pemprov Banten memberi hadiah lomba baca puisi yang dianggap menistakan karya seni sekaligus harga diri seniman.

Betapa tidak, hadiah untuk juara kedua lomba baca puisi terkait Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diselenggarakan Dindikbud Pemprov Banten, nyatanya "hanya" dua helai serbet, kain lap.

Hadiah ini dianggap oleh para seniman sebagai tidak etis. Bahkan ketika kasus ini menjadi viral di dunia maya, banyak netizen yang mencibir mengapa sampai sedemikian tega Dindikbud Pemprov Banten memberi hadiah 'abal-abal' seperti itu.

Di depan kantor Dindikbud Pemprov Banten, para seniman melakukan aksi ruwatan bertajuk 'Zikir Serbet'. Mereka menampilkan atraksi seni. Mulai dari membaca puisi, melukis, tari, hingga aksi teatrikal.

Menurut salah seorang seniman Banten, Purwo Rubiono, 'Zikir Serbet' merupakan sikap seniman Banten merespons penghargaan atas hadiah dua serbet untuk pemenang lomba puisi. "Itu menurut teman-teman penyair sebagai pelecehan. Penyelenggara dinilai tidak paham pada event-event kebudayaan," ujarnya seperti dikutip detik.com.

Jadi Headline di koran lokal hari ini. (Foto: Gapey Sandy)
Jadi Headline di koran lokal hari ini. (Foto: Gapey Sandy)

Selain dinilai sebagai pelecehan, Dindikbud Pemprov Banten yang di dalamnya juga mengatur dan mengoordinasikan event budaya, dinilai lupa pada hakikat kebudayaan. Insiden miris dua helai serbet untuk menilai sebuah karya puisi, diminta Purwo yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Musik DKB, jangan sampai terjadi lagi.

Meminta tanggapan terkait masalah ini, penulis melakukan wawancara dengan salah seorang seniman Banten yang dipandang cukup senior dan dihormati, yaitu Toto ST Radik selaku Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Kesenian Banten(DKB).

Toto ST Radik adalah penyair kelahiran Singarajan, Serang, Banten. Terlahir pada 30 Juni 1965 dari ayah H Mohamad Suhud dan Ibu Hj Ratu Tuchaeni. Toto pernah merain penghargaan dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) pada 2000, atas kumpulan puisinya 'Indonesia Setengah Tiang'.

Wawancara dengan Toto ST Radik yang masih mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pariwisata Kota Serang, Banten, sekaligus pengajar puisi ini, dilakukan menggunakan fitur WhatsApp! Call, pada Jumat pagi ini, 4 Mei 2018:

o o o O o o o

Toto ST Radik, Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Kesenian Banten. (Foto: Dokpri. Toto ST Radik)
Toto ST Radik, Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Kesenian Banten. (Foto: Dokpri. Toto ST Radik)

Bagaimana menanggapi kasus dua helai serbet sebagai hadiah ke-2 lomba baca puisi Hardiknas yang diselenggatakan Dindikbud Pemprov Benten?

Sebetulnya kemarin saya sudah dapat kabar dari teman-teman yang datang ke Dindikbud Provinsi Banten. Mereka sudah mendapat penjelasan bahwa kegiatan itu sebenarnya untuk kegiatan internal pegawai. Tetapi kemudian ada masyarakat, pelajar yang mendaftar, dan diterima pendaftarannya, mungkin itu kekeliruannya. Jadi untuk kegiatan internal tapi menerima pendaftaran peserta dari luar.

Menurut teman-teman pelaku seni di sini, pihak Sekretaris Dindikbud Pemprov Banten Joko Waluyo sudah menjelaskan bahwa, kegiatan tersebut awalnya ditujukan untuk kalangan internal, jadi hadiahnya pun sekadar hadiah-hadiah hiburan saja. Celakanya, panitia malah menerima pendaftaran, dan kebetulan, pemenang kedua adalah anak mahasiswa yang kemudian hadiahnya berupa serbet. Jadi ramelah. Jadi memang agak kurang pantas, kurang layak memberikan hadiah untuk lomba baca puisi berupa serbet.

Hari ini, saya juga baru baca, bahwa ternyata yang ikut kegiatan lomba nyanyi solo vokal hadiahnya bakul nasi.

Alibi Dindikbud Pemprov Banten, kegiatan ini memang untuk peserta dari kalangan internal, lalu ada kekeliruan pendaftaran, bagaimana menanggapinya?

Ya, kalau teman-teman di sini sih menilai, kalau memang kegiatan tersebut hanya untuk peserta kalangan internal, ya konsisten untuk kalangan internal saja, sehingga ketika juga menerima pendaftaran dari peserta luar, jelas merupakan suatu hal yang bisa dianggap keliru. Sehingga teman-teman pelaku seni menilai hal tersebut sebagai suatu hal yang tidak menghargai.

Sementara ini dari pihak Dindikbus Pemprov Banten sudah minta maaf. Teman-teman pelaku seni, kemarin siang itu juga sudah langsung pulang, tapi sebagian masih ramai juga di media sosial.

Toto ST Radik dalam ilustrasi foto. (Foto: dapurkata45.blogspot.com)
Toto ST Radik dalam ilustrasi foto. (Foto: dapurkata45.blogspot.com)

Jadi sebaiknya kasus apresiasi berupa serbet ini diselesaikan?

Karena pihak Dindikbud sudah mengajukan permintaan maaf, ya okelah itu diterima saja, tetapi jangan sampai diulangi lagi pada waktu-waktu mendatang. Ini menjadi perhatian juga bagi dinas-dinas yang lain, sehingga kalau menyelenggarakan lomba baca puisi atau lomba seni lainnya, hadiah-hadiahnya sekalipun hiburan harus diperhitungkan secara matang, jangan sampai membuat persoalan. Karena kalau serbet itu 'kan konotasinya menjadi bahagian dari barang-barang dapur, termasuk bakul nasi dan sebagainya. Hadiah-hadiah itu sebaiknya dipilih supaya hadiahnya lebih nyambung dengan kegiatan acara sehingga lebih elegan.

Juga mungkin sebaiknya hadiah-hadiah lomba itu diumumkan sejak awal sebelum pelaksanaan lomba?

Hahahaaa ... sebaiknya begitu. Ada atau tidak ada hadiah sebaiknya diumumkan di awal, misalnya hadiahnya trophy dan sebagainya, atau tidak ada hadiahnya sama sekali kecuali berupa buku dan sebagainya. Sebaiknya diumumkan di awal, sehingga publik yang mau mendaftar akan melakukan pertimbangan terlebih dahulu.

Aksi teatrikal seniman Banten bertema Zikir Serbet. (Foto: indolah.com)
Aksi teatrikal seniman Banten bertema Zikir Serbet. (Foto: indolah.com)

Meskipun alibinya adalah kegiatan tersebut dimaksudkan untuk internal, tapi melihat hadiah-hadiahnya berupa serbet, bakul nasi, bagaimana dikaitkan dengan apresiasi seni dan sastra, menurut Anda? 

Kalau menurut saya sih, hadiah-hadiah itu enggak layak, enggak pantas untuk lomba baca puisi, menulis puisi, juga lomba nyanyi solo vokal. Mustinya hadiah-hadiah itu disesuaikan dengan seni dan budaya itu sendiri. Hadiahnya 'kan bisa dipilih, misalnya hadiah itu akan berupa buku puisi yang walaupun harganya sama-sama murah, tapi kan lebih elegan dan nyambung dengan sifat lombanya.

Jadi memang ketidaktahuan, ketidakpahaman tentang apresiasi kesenian ini yang harus diubah mentalnya.

Bagaimana mencari solusi atas kasus serbet yang dianggap tidak mengapresiasi karya seni dan juga para seniman itu sendiri?

Sementara ini sih, Ketua Dewan Kesenian Banten dan teman-teman pelaku seni di sini sudah menyatakan siap untuk memediasi pertemuan antara Dindikbud Pemprov Banten dengan para seniman. (*)

o o o O o o o

Chavchay Syaifullah, Ketua Umum Dewan Kesenian Banten. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah)
Chavchay Syaifullah, Ketua Umum Dewan Kesenian Banten. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah)

Persoalan Etika, Tak Ada Pelanggaran Hukum

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Banten (DKB) periode 2015-2018, Chavchay Syaifullah dalam wawancara dengan penulis (Jumat, 4/5) juga menegaskan hal senada. Menurut Chavchay, kasus serbet ini musti diselesaikan, utamanya oleh pihak Dindikbud itu sendiri.

“Mengapa demikian? Pertama, kasus serbet ini adalah kasus yang muncul dari pekerjaan Biro Umum Dindikbud Pemprov Banten, sudah barang tentu yang mampu menyelesaikan secara tegas itu adalah pihak Dindikbud. Adapun DKB, dalam hal ini posisinya hanya mewakili suara-suara seniman terutama dari kalangan sastrawan yang marah terhadap aksi yang dilakukan oleh staf-staf dari Dindikbud yang tergabung dalam kepanitiaan peringatan Hardiknas itu,” ujarnya di sambungan telepon.

Yang kedua, lanjut Chavchay, DKB berusaha untuk menjadi jembatan antara pihak penyelenggara yang terdiri dari staf-staf Dindikbud, pihak pemenang lomba baca puisi, dan pihak para senimannya itu sendiri.

“Sedangkan yang ketiga, sebagai bentuk keprihatinan kita, juga sebagai apresiasi kita kepada para pemenang lomba atau juara ke-1, 2 dan 3, DKB bersama sejumlah penyair yang turut menyatakan empati atas kasus serbet ini telah menyediakan berbagai hadiah tambahan berupa trophy, uang, dan juga buku-buku puisi,” tutur Chavchay yang belum bisa menyebut berapa uang tunai yang bakal diserahkan kepada para pemenang. “Kita tidak melakukan aksi pengumpulan uang, ini dari uang kas DKB saja. Ini bukan dana dari APBD, APBN, ini uang kas DKB.”

Aksi teatrikal seniman Banten dalam Zikir Serbet. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah).
Aksi teatrikal seniman Banten dalam Zikir Serbet. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah).

Chavchay menegaskan, kasus serbet yang dijadikan hadiah bagi juara lomba baca puisi Hardiknas ini lebih cenderung kepada masalah etika. “Hadiah itu ‘kan merupakan bentuk penghargaan. Artinya, apapun bentuk hadiah itu, sebagai penerima ya harus menerima, namanya juga sebagai hadiah dari orang lain. Nah, persoalan sesudah kita menerima lalu tidak sesuai, tidak cocok atau ada alasan-alasan spesifik tertentu, bahkan mengembalikan hadiahnya itu juga kepada si pemberi ‘kan adalah merupakan hak dari si penerima. Tapi karena ini sifatnya hadiah dan tidak terikat sejak awal, maka tidak ada persoalan hukum,” jelasnya.

Dikatakan Chavchay, pada saat pihak Dindikbud Pemprov Banten sudah menyatakan bahwa ini merupakan hadiah-hadiah yang sebetulnya sejak awal dikhususkan untuk kalangan internal dan sebagai hadiah hiburan karena memang lomba-lomba ini dianggap sebagai lomba-lomba hiburan, jadi ya tidak ada masalah.

Aksi teatrikal seniman Banten dalam Zikir Serbet. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah).
Aksi teatrikal seniman Banten dalam Zikir Serbet. (Foto: Dokpri. Chavchay Syaifullah).

“Berbeda ketika ini menjadi sebuah lomba prestasi, kemudian diperuntukkan untuk publik, teranggarkan oleh Dindikbud Banten kemudian hadiahnya berupa serbet, maka ini akan menjadi masalah, utamanya masalah hukum karena menyangkut masalah keuangan, administrasi dan sebagainya,” katanya lagi.

Menurut Chavhay, yang bablas dalam kegiatan lomba baca puisi ini adalah masalah hiburan yang bablas menjadi acara semacam lomba prestasi dan bersifat terbuka untuk umum. “Dan hadiah pun, sebetulnya menjadi derajat dari penyelenggara. Taruhlah misalnya ini acara untuk internal, walaupun internal tapi karena dia menjadi lomba, menjadi sebuah ajang kompetisi, harusnya hadiah-hadiah ini dipikirkan secara baik, sehingga bisa merangsang potensi seni di kalangan birokrasi Dindikbud itu sendiri. Kalau misalnya acara untuk internal dan peserta internal tapi kemudian karena internal maka hadiahnya seenak-enaknya seperti serbet, bakul nasi, garpu, maka tidak akan ada rangsangan potensi seni budaya di kalangan internal. Padahal, staf-staf Dindikbud adalah bumper dari strategi pengembangan kesenian di kalangan masyarakat Banten,” prihatin Chavchay menutup wawancara by phone dengan penulis. (*)