Gapey Sandy
Gapey Sandy Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Keblinger, Mblenger

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Lomba Fotografi Angkat Potensi Lokal Tangsel

8 Desember 2017   06:48 Diperbarui: 8 Desember 2017   10:20 1307 3 3
Lomba Fotografi Angkat Potensi Lokal Tangsel
Hasil karya peserta lomba fotografi dipamerkan di sisi jembatan yang melintasi Sungai Cisadane, yang sekaligus menjadi batas wilayah Kecamatan Setu - Tangsel dengan Kecamatan Cisauk - Tangerang. (Foto: Gapey Sandy)

Siapa lagi yang mau memajukan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kalau bukan warga masyarakatnya sendiri. Pikiran inilah yang salah satunya melandasi niat Panitia Festival Industri Kreatif Keranggan menyelenggarakan Lomba Fotografi. 

Mengambil tema 'Sungai Cisadane dan Local Pride', panitia mencatat 50 peserta antusias mengikuti lomba pada Rabu, 6 Desember kemarin. Sedangkan festivalnya, berlangsung pada 5 -- 7 Desember di lokasi Ecowisata Keranggan yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Keranggan adalah 1 dari 6 kelurahan yang ada di Kecamatan Setu, Tangsel. Lainnya adalah Kelurahan Setu, Muncul, Babakan, Bakti Jaya dan Kademangan. Dari 6 kelurahan ini, luas Keranggan termasuk yang paling kecil, 1,70 km2. Terluas, Kelurahan Setu dengan 3,64 km2.

Biarpun wilayahnya sempit tapi Keranggan justru jadi pionir untuk geliat membangun ekonomi kerakyatan. Usaha Kecil Menengah (UKM) menjamur bak cendawan di musim hujan. Mulai dari pengolahan Kacang Sangrai, Opak Singkong, Keripik Pisang, kue kering Kembang Goyang dan masih banyak lagi.

Tulisan soal bisnis Kacang Sangrai dan Keripik Pisang produksi UKM Keranggan, sudah pernah saya tulis di Kompasiana. Posisi Keranggan sendiri, kalau dari arah Pamulang, terus saja menuju ke Muncul, dan ketika sampai di perempatan Kampus ITI Serpong, masih lurus lagi ke Jalan Muncul lalu Jalan JLS menuju ke Cisauk - Tangerang.

Nah, kaitannya dengan lomba fotografi, sentra-sentra produksi UKM ini jualah yang menjadi target bidikan lensa-lensa kamera milik para peserta. Sesudah jam makan siang, para peserta yang berkumpul di Saung Cisadane -- sisi kiri jembatan yang melintasi Sungai Cisadane dan menuju wilayah Cisauk, Tangerang -- mulai bergerak menuju lokasi hunting foto.

Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Oh ya, by the way ... saya menjadi 1 dari 3 juri lomba fotografi yang ditunjuk panitia. Dua rekan juri lainnya adalah Nico Freida, fotografer profesional yang juga traveler. Lalu, Kevin Gunadjaja, anak muda yang sudah menjalankan usaha studio foto.

Panitia rupanya sudah membuat plotting secara ketat. Dengan berjalan kaki sekitar 300 meter dari Saung Cisadane, rupanya peserta diarahkan untuk memotret kegiatan warga di sisi sebelah Utara jembatan yang melintasi Sungai Cisadane. 

Obyek foto yang dijumpai adalah warga yang sedang mengayuh perahu getek bambu, sejumlah anak yang riang gembira mandi di sungai, juga warga yang terlihat sibuk menjala ikan.

Mengapa Sungai Cisadane?

Ya, karena daya tarik Keranggan, salah satunya adalah karena wilayahnya berbatasan langsung dengan sungai yang sumber airnya berasal dari Gunung Pangrango di Jawa Barat ini. Tak ayal, Sungai Cisadane menyatu dengan kehidupan masyarakat Kelurahan Keranggan. Selain terkenal dengan hasil perikanannya yang lumayan ada, daerah aliran sungai ini jua yang sekarang sedang nge-hits untuk ditampilkan sebagai bahagian dari pengembangan Ecowisata Keranggan.

Para peserta pun berjajar di sepanjang bibir sungai yang dipenuhi bebatuan koral aneka ukuran. Mereka seru-seruan menjepret apa saja yang menjadi daya tarik bidikan lensa kameranya.

Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)
Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)
Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Opak Singkong Keranggan

Puas menghabiskan durasi waktu yang disediakan panitia, para peserta kemudian diarahkan menuju lokasi hunting foto kedua. Enggak jauh-jauh amat sih, masih dalam satu area, yaitu pusat produksi Opak. Sudah tahu Opak 'kan? Seperti kerupuk yang sangat tipis dan kaku. Terbuat dari bahan dasar singkong.

Di sini, ada 8 ibu rumah tangga yang sehari-harinya membuat Opak. Mereka bekerja sendiri-sendiri. Artinya, tempat tinggal mereka menjadi home industry. Yup, industri rumahan yang memproduksi Opak. Tetapi, karena ada 8 rumah yang memproduksi Opak, maka jadilah kawasan ini mirip jadi semacam sentra produksi Opak.

Dari hasil wawancara dengan salah seorang ibu yang sedang menjemur Opak, rupanya home industry Opak ini belum begitu lama berdirinya. Baru sekitar 3 - 5 tahun belakangan. Ya, mungkin saja, mereka membuat Opak sudak sejak puluhan tahun lalu, tapi untuk menjadi serius seperti sentra produksi, baru beberapa tahun belakangan saja.

"Kira-kira sejak sekitar 4 tahun lalu, kita mulai rame-rame buat Opak," ujar Rasi'ah, nenek usia 75 tahun itu kepada saya.

Rasi'ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Rasi'ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Rasi'ah, dalam sehari ia biasa mengolah 15 kg Singkong untuk dijadikan Opak. "Paling-paling, Opak yang bisa dihasilkan mencapai 400 sampai 500 lembar. Lembaran Opak mentah dari bahan baku Singkong ini kemudian dicetak sehingga ukurannya sama dan standar. Cetakannya cuma dari tutup toples plastik aja," jelasnya sambil bilang bahwa cukup 2 jam saja proses penjemuran berlangsung.

Tangan terampil Rasi'ah nampak asyik membolak-balik Opak yang sedang dijemur beralaskan mirip pagar bambu. Warna Opak mentah ini agak keputihan. Ya, maklum aja, 'kan berbahan dasar Singkong. Diameter lingkarannya sekitar sejengkal. Ketipisannya? Wah, ukuran millimeter deh kayaknya.

"Untuk membuat Opak, enggak pake bumbu macem-macem. Cukup Singkong sama garam aja," tukas Rasi'ah membeberkan resep sederhananya.

Eh, ngomong-ngomong berapa harga Opak yang dijual Rasi'ah?

Murah bingit. Untuk 100 Opak, harga yang dipatok "cuma" Rp 20 ribu. Jadi, kalau Rasi'ah bisa bikin 500 Opak, maka ia akan mengantongi duit Rp 100 ribu. Kalau dalam sebulan Rasi'ah terus produksi Opak, tentu saja tinggal mengalikan Rp 100 ribu dengan 30 hari, sehingga totalnya Rp 3 juta.

"Komunitas" ibu-ibu pembuat Opak Singkong ini boleh jadi enggak ada matinya, karena bahan dasar Singkong termasuk yang masih gampang dicari. Meskipun, kadang-kadang ya rada seret juga menemukan "si ketela pohon" ini.

Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)
Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah memotret di Sungai Cisadane dan sentra produksi Opak Singkong, panitia meminta para peserta kembali ke pos semula, Saung Cisadane. Karena, ada 1 bus yang sudah menunggu untuk mengangkut semua peserta menuju ke plotting lokasi hunting foto berikutnya. Hmmm, apa itu?

Ya, tidak salah lagi. Inilah yang sekaligus menjadi primadona Keranggan, apalagi kalau bukan sentra produksi Kacang Sangrai!

Bus mulai bergerak. Di atas bus, para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Summarecon, Serpong ini, mulai sibuk mempersiapkan kembali "senjata"-nya: kamera. Termasuk Shania, mahasiswi UMN Fakultas Teknik & Informatika semester I. Sungguh, melihat Shania, saya seperti melihat tampilan member AKB48, heheheheee ... Mungil, unyu-unyu dengan rambutnya yang pirang dan diikat ekor kuda.

"Seru banget deh lomba fotografi ini. Selain membangkitkan minat, bakat dan passion kita-kita, juga melatih praktik hunting foto. Apalagi, aku sendiri punya tugas kuliah untuk menyerahkan hasil hunting foto berupa story telling yang harus di-upload ke Instagram. Jadinya, ya memang harus sering-sering pergi kemana 'gitu, untuk hunting foto," ujarnya didampingi Ricky Yantho, juga mahasiswa UMN.

Ricky dan Shania, peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)
Ricky dan Shania, peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Shania tak menampik bahwa lomba fotografi ini muatan untuk mengangkat potensi lokal kedaerahan begitu kental sekali. Artinya, memang sesuai tema yang digancang panitia. "Lomba fotografi ini bisa membantu mengembangkan potensi Kelurahan Keranggan. Bagus 'kan. Positif untuk mengangkat Keranggan berikut potensinya yang ada," kata Shania yang kepada saya juga mengaku bahwa baru-baru ini saja tertarik fotografi. "Palingan awalnya ya untuk foto Instagrammable."

Kacang Sangrai Keranggan

Jarak lokasi sentra produksi Kacang Sangrai dengan Saung Cisadane tidak begitu jauh, ya sekitar 1 -- 2 km. Di lokasi ini, para peserta langsung menuju "dapur" produksi penyangraian. Secara bergiliran mereka masuk ke "dapur" dan melihat sendiri ada seorang pekerja yang sedang menyangrai. Media sangrainya seperti wajan yang mirip kuali. Bahan bakarnya pakai kayu bakar lho. Jadi, ya bisa dibayangkan, para peserta langsung terpapar hawa cukup panas selama di area "dapur".

Tapi, meski bercucuran keringat dan menahan hawa panas, kamera-kamera terus bekerja mengambil gambar. Maklum, berasa epic banget deh bisa melihat langsung proses penyangraian yang mungkin selama ini belum pernah mereka bayangkan gimana praktiknya. Wkwkwkkkk ... maklum 'kids jaman now'.

Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)
Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)

Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)
Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)

Di luar "dapur" penyangraian, para peserta masih bisa memfoto pasangan suami istri, Na'ih (65) dan Mamnu'ah (60) yang sedang memilah-milih kacang hasil penyangraian untuk siap dikemas.

Ketika saya tanya, berapa banyak kacang kulit yang biasa diproses, Na'ih menjawab dengan jawaban yang bikin saya kaget. "Biasanya, selama 1 sampai 2 minggu, kita proses 6 ton kacang kulit. Sekarang, kacang sudah makin sulit diperoleh dari lokasi di sekitar kawasan sini. Jadi, kita pesan kacang dari Cilegon, Jonggol, Sumedang dan lain-lain. Untuk setiap 6 ton kacang kulit ini, kita biasa beli seharga Rp 90 juta," ujarnya.

Menurut Na'ih lagi, dari sebanyak 6 ton kacang kulit tadi, ia kemudian menjualnya dalam hitungan liter, bukan kilogram. "Untuk Kacang Sangrai kering, dijual Rp 8 ribu per liter. Sedangkan yang basah, Rp 9 ribu per liter. Ongkos lain yang harus dikeluarkan adalah untuk kayu bakar dan pekerja penyangraian. Harga kayu bakar untuk 1 bak mobil terbuka jenis Cary seharga Rp 300 -- Rp 500 ribu. Sedangkan untuk ukuran angkut 1 truk, harga kayu bakarnya Rp 1.250.000," jelas Na'ih sembari menyebut upah pekerja penyangrai adalah Rp 50 ribu untuk menyangrai sebanyak 1 kuintal kacang kulit dengan durasi sekitar 1 jam.

Na'ih dan Mamnu'ah kompak menjawab sekitar tahun 2005 sebagai start awal membuka usaha Kacang Sangrai ini. "Sekarang, anak saya yang mengendalikan usaha ini," ujar Na'ih.

Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)
Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)

Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)
Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)

Lewat waktu Ashar, karya-karya foto dikumpulkan. Mereka masing-masing menyetorkan 3 foto terbaik. Sehingga total, ada 150 karya foto. Dari jumlah sebanyak ini, langsung diseleksi pakai sistem gugur dengan acuan kesesuaian tema, menjadi 50 karya foto saja. Setelah itu, tim juri menyeleksi 3 foto paling the best sebagai juara 1, 2 dan 3.

Empat Kawasan Industri Tangsel

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel, Maya Mardiana dalam sambutannya mengiringi lomba fotografi dan aneka lomba lainnya mengatakan, ada empat kawasan industri yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)
Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)

Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)
Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)

"Empat kawasan industri di Tangsel adalah industri tempe di Kedaung -- Ciputat, industri konveksi di Jurangmangu, industri kuliner - kreatif - ecowisata di Keranggan -- Setu, dan industri kerajinan pernik di Ciputat Timur. Karena itu, perlu ada kolaborasi yang baik dari semua pihak, seperti akademisi, kalangan bisnis, community dan Pemerintah sebagai fasilitator. Sehingga kolaborasi ini akan membawa hasil dan berdampak positif bagi masyarakat. Kalau Keranggan ingin terus mengembangkan ecowisata, maka kawasan ini harus eye catching. Caranya, selalu kedepankan kreativitas dan karya produktif terbaik," tutur Maya dari atas panggung utama.

Semoga Keranggan semakin terus maju. Keranggan semakin jadi teladan.