Mohon tunggu...
kusnun daroini
kusnun daroini Mohon Tunggu... Petani - Pemerhati sosial politik dan kebudayaan dan sosial wolker

Pemerhati / penulis lepas

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Hari Santri dan refleksi "Resolusi Jihad" KH. Hasyim Asyari."

23 November 2018   22:32 Diperbarui: 9 Desember 2019   08:03 430
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Suasana panas yang membakar semangat penduduk Kota Surabaya akibat pengaruh Resolusi Jihad dan pidato yang disampaikan Bung Tomo, makin memuncak sewaktu kapal perang Inggris HMS Wavenley menurunkan pasukan di dermaga Modderlust Surabaya pada 25 Oktober 1945. Karena tokoh-tokoh Surabaya menolak penurunan pasukan Inggris ke Surabaya, maka pihak Inggris mengirim Captain Mac Donald dan Pembantu Letnan Gordon Smith untuk menemui Gubernur. Bersandarnya HMS Wavenley sendiri pada dasarnya merupakan hasil perundingan yang sulit, karena sehari sebelumnya, tanggal 24 Oktober 1945, sewaktu diadakan perundingan di Modderlust antara utusan Sekutu yang diwakili Colonel Carwood dan pihak TKRL yang diwakili Oemar Said, J.Soelamet, Hermawan, dan Nizam Zachman terjadi jalan buntu. Semua permintaan Sekutu ditolak.

4 hari Perang Kota  sebelum Perang  10 November Meledak.

Sebelum pecahnya perang smesta 10 Novemeber ternyata ada rangkaian peristiwa yang tidak tercata dalam sejarah resmi yang sudah kita kenal..

Selain faktor utama tentang seruan jihad Oleh PBNU dan Pidato Bung tomo, ada beberapa faktor yang memicu dan menggiring para pemuda dan pejuang untuk segera mengambil sikap tegas untuk melawan. Padahal sikap menolak dan melawan ini sangat bertentangan dengan kebijakan para pejabat tinggi negara yang berada di Jakarta. Pasalnya menurut penilaian Soekarno dan kawan-kawan adalah balatentara sekutu mendarat tersebut hanyalah utusan resmi untuk menangani interniran dan melucuti para tawanan perang Jepang sekaligus melucuti persenjatan dan peralatan perang. Karena perang sudah usai.

Apapun alasannya, bahwa ketika warga asing apalagi dilengkapi dengan satuan tempur dengan kekuatan penuh melakukan invansi teritori , adalah sebuah penghinaan dan pelecehan bagi kedaulatan negara dan bangsa Indonesia. Selebihnya, ingatan kolektif bangsa Indonesia yang barusan meneriakkan pekik kemerdekaan akan selalu terutama pada politik kolonialist yang masih terus menghantui dalam pikiran mereka. 

Arogansi sekutu inilah yang kemudian memicu dan membakar semangat perlawanan Para laskar santri dan segenap pemuda kota yang dikenal dengan arek-arek surabaya untuk melebur dan bersatu padu mengepung pos-pos pertahanan yang ada dikota. Tepatnya pada tanggal 26 Oktober jam 16.00 secara sporadis dengan persenjatan seadanya, dan tanpa adanya komando, didahului dengan pekikan Takbir berartus-ratus santri beserta pemuda tersebut   menyerang post Belanda yang berada di Benteng miring di sebelah utara gedung Sekolah Al-Irsyad.

Terjadilah clash-fisik antara sekutu dengan satuan gelombang para laskar dan pemuda kota yang sangat tidak seimbang tersebut. Dengan persenjataan seadanya mulai bambu runcing, tombak, keris, samurai, senapan rampasan  diiringi dengan lemparan batu, akhirnya puluhan pejuang bertumbangan bersimbah darah oleh berondongan senapan sekutu yang serba  canggih kala itu.

Pagi hari tanggal 27 Oktober 1945 kota Surabaya gemetar diguncang kemarahan, sebab di tengah beredarnya kabar gugurnya santri dan pemuda yang mengepung pos pertahanan Sekutu di Sekolah Al-Irsyad beredar pula kabar bahwa Sekutu diam-diam mendaratkan lebih banyak pasukan ke Surabaya untuk memperkuat pos-pos pertahanannya. Dan warga kampung mulai memasang barikade-barikade di gerbang masuk kampungnya dengan kayu, bambu, drum, meja, kursi, ban, gedek, kawat, dll.

Diperkirakan pada jam 09.00 di atas langit Surabaya melayang-layang pesawat militer jenis Dakota dari Jakarta menebarkan ribuan selebaran yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.C.Hawthorn yang berisi perintah kepada penduduk Surabaya untuk menyerahkan segala persenjataan dan peralatan Jepang kepada Sekutu. Perintah itu disertai ancaman, bahwa apabila masih ada orang membawa senjata akan langsung ditembak di Ancaman Sekutu yang ditanda-tangani Mayor Jenderal D.G.Hawthorn itu disambut caci-maki dan tantangan oleh penduduk Surabaya. Suasana makin tegang. 

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba muncul kelompok-kelompok pasukan Brigade 49 Mahratta bergerak ke jalan raya utama Surabaya, melewati kantor Gubernuran sambil menempelkan selebaran-selebaran sepanjang jalan yang mereka lewati. Tindakan pasukan Inggris-India ini menyulut amarah para pemimpin dan seluruh penduduk Surabaya. Kira-kira jam 12.00 pecah pertempuran di depan Rumah Sakit Darmo yang dalam sekejap diikuti pertempuran di semua pos pertahanan Inggris di Keputran, Kayoon, Gubeng, Simpang, Ketabang, Kompleks HBS, Gemblongan, Dinoyo, Wonokromo, Palmboom, Lindeteves, Onderlingbelang, Benteng Miring.

Berlanjut pada Tanggal 28 Oktober 1945, TKR sebagai aparat pertahanan dan keamanan Negara yang harus tunduk dan patuh pada perintah pemerintah pusat di Jakarta, ternyata terprovokasi perlawanan arek-arek Surabaya, sehingga tanpa sadar ikut bertempur mengepung dan memburu tentara Inggris. Oleh karena sebagian besar TKR adalah didikan PETA, Heiho dan Hisbullah, jumlah tentara Inggris yang tewas pun dengan cepat bertambah. Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang menyaksikan pasukannya akan habis, buru-buru menghubungi atasannya: Jenderal Christison di Singapura. Mallaby minta agar dilakukan gencatan senjata, penghentian tembak-menembak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun