Mohon tunggu...
Goenawan
Goenawan Mohon Tunggu...

Insinyur mesin dari ITS Surabaya, mendalami sistem kontrol otomatis di Taiwan, pernah bekerja di beberapa perusahaan ternama sbg Engineer dan di Managemen. Sekarang menekuni pasar Modal dan pasar Uang.\r\n\r\nSemua tulisan saya asli bukan hasil mencontek, tetapi anda boleh meng-copy paste sebagian atau seluruhnya tulisan saya di kompasiana tanpa perlu izin apapaun dari saya. Lebih baik jika dicantumkan sumbernya, tetapi tanpa ditulis sumbernyapun. it's ok

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jokowi Gagal Kampanye di ITB

18 April 2014   13:06 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:31 147 1 11 Mohon Tunggu...

Jokowi capres yang tidak tahu malu? Harusnya secara etika sudah tahu bahwa kampus bukan tempat untuk kampanye. Kampus adalah tempat belajar dan menggunakan rasio tanpa intervensi politik apalagi pembodohan dan pencitraan.

Dengan mendeklarasikan diri sebagai capres dan saat ini adalah bulan - bulan pemilu, harusnya sebagai orang yang pernah kuliah Jokowi tau etika. Berbicara di kampus dengan label capres adalah tabu. Cara - cara manipulatif yang mengatasnamakan kuliah umum, benar - benar menghina akal sehat. Semudah itukah mahasiswa dipikir bisa dibodohi dengan kata - kata?

Kampanye di jam kerja, memakai fasilitas negara dan melanggar etika kampus? Apakah seperti ini kualitas capres yang dikatakan bersih? Jika hal - hal yang terang benderang saja dilanggar, apalagi wilayah abu - abu dan tersembunyi dari mata publik. Saya tidak mau berprasangka biarlah publik menilai sendiri tingkat kejujuran Jokowi.

Mahasiswa ITB di bully pendukung Jokowi

Meskipun jelas - jelas Jokowi melanggar tradisi kampanye di kampus, tetapi tidak demikian buruk dimata pemujanya. Alih - alih meminta maaf, justru pendukung Jokowi secara terorganisasi melakukan bully di media sosial?

Mengapa saya sebut terorganisir?


  1. Bahasa yang dipakai membully sama (terindikasi hasil briefing oleh korlapnya).
  2. Akun - akun nya banyak, tetapi satu akun bisa berjam jam nongkrongi komputer (emang pengangguran seharian di komputer cuma buat ngebully dengan bahasa yang diulang - ulang?)
  3. Thema bully selalu sama, walaupun yang dibully berbeda. Antara lain merendahkan harga diri yang di bully, menyerang personaliti dengan kata kata, "profesor abal - abal", "labil" dan memutar balikkan identitas ke profesionalan seseorang.
  4. Personality obyek di cari dari google, hanya orang kurang kerjaan yang mau googling hanya untuk membully. Bukannya mengetahui duduk persoalan justru menyerang pribadi.
  5. Mereka hanya bisa membully, tidak pernah paham permasalahan nya. Maklum ini abg - abg yang mengandalkan kata - kata kotor yang pengetahuannya kosong.


Apakah Pantas seorang Capres memelihara tukang bully?

Hanya Jokowi yang punya tim bully yang bekerja secara masif siang malam 24 jam. Silahkan cek di komentar kompas dot com atau portal - portal berita lain. mereka selalu mendominasi sampai lebih dari 80%. Kontradiksi jika melihat perolehan suara pilegnya yang kurang dari 20%.

harusnya sebagai capres Jokowi mengajari tim nya untuk menjaga sopan santun. Bukan sebaliknya bersembunyi di balik akun jadi jadian untuk menyerang dan merendahkan orang atau kelompok yang dianggap tidak mendukung Jokowi.

Sungguh ironi, seorang  yang gelar sarjana saja tidak punya menghina seorang profesor sebagai bodoh. Soerang mahasiswa dari universitas antah berantah bisa bilang mahasiswa ITB labil. Hah? harusnya pendukung Jokowi membeli cermin yang besar sebelum berkomentar menghina.

Tidak perlu beralasan apakah membully melanggar hukum atau tidak. karena etika dan tata krama itu harusnya yang dikedepankan untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Bukan sebalikknya bersembunyi di balik pasal - pasal KUHP atau konstitusi yang mungkin bisa di pelintir.

Jika demi kekuasaan etika dan tata krama di langgar, kita bisa menyimpulkan kekuasaan seperti apakah yang akan kita petik nantinya. Karena buah tidak akan berbeda dari pohonnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x