Mohon tunggu...
Fina Alvi Latifah
Fina Alvi Latifah Mohon Tunggu...

Berupaya untuk terus berani!!

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Anak Kuliahan: Etika Hidup di Asrama

2 Mei 2017   08:23 Diperbarui: 2 Mei 2017   08:57 782 0 1 Mohon Tunggu...

Setiap individu yang tergabung di masyarakat haruslah memperhatikan etika hidup bermasyarakat. Etika bukan berarti sekedar apa yang baik dan apa yang buruk, menurut penulis pribadi etika lebih kepada aturan bersikap baik dalam menjalani kehidupan. Dikatakan beretika ketika kita memiliki upaya menjaga sikap dan prilaku, bagaimana pun etika kita mencerminkan tentang ‘watak’ maka dari itu memutuskan beretika yang baik juga upaya membentuk kepribadian dan sebagai upaya menyempurna. Islam sendiri sebagai agama yang rahmatan lil alamin sejak tujuan disebarkannya, dalam hal etika sangat memperhatikan hubungan satu individu dengan lainnya.

Sebagaimana salah satu ayat di dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisa/4:36) disebutkan secara tekstual potongan ayat itu mengajak kita untuk berbuat baik kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibn sabil dan budak. Maka dari itu jika kita bertindak bertentangan mengganggu atau sampai menyakiti, tentunya hal ini tidak mencerminkan semangat keimanan kita dan menunjukkan pada orang lain, utamanya diri kita sendiri bahwa kita tidak cukup baik dalam beretika.

Keberagaman adalah Tantangan
Judul di sub ini sebenarnya sudah sedikit mewakili apa yang saya alami di asrama tempat saya untuk sementara tinggal. Kebetulan kampus saya di daerah Fatmawati Jaksel adalah salah satu yang memberikan beasiswa kepada mahasiswi/mahasiswanya. Salah satu fasilitas yang diberikan secara gratis adalah asrama. Soal mahasiswi/mahasiswa di kampus saya pun, sengaja dilakukan seleksi dari berbagai daerah, karena itu saat ini kenalan saya berasal dari Sabang sampai Merauke bahkan beberapa berasal dari Negri Jiran dan Singapura. Saya sendiri berasal dari Bali tempat yang dijuluki seribu pura.

Dulu waktu saya masih SD sering disuruh ibu bapak guru untuk mengingat-ingat dan melafalkan slogan Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tapi tetap satu. Saya rasa dan sadari dulu saya asbut(asal sebut) dan cuma ikut-ikutan seperti kawan-kawan yang duduk di bangku sekitar saya, waktu kecil kesadaran tentang menyatukan keragaman hanya sekedar ejaan yang dibaca di buku PPKN saja. Sekarang ketika saya berinteraksi dengan berbagai macam orang dari berbagai daerah baru terasa makna Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman yang begitu terasa! Beberapa teman saya berasal dari Lombok, saya curiga dia tinggal di daerah pesisir, sekilas diperhatikan orang Lombok teman saya ini kalo ngomong selalu tegang dengan suara yang kencang. Ada juga yang dari Bengkulu, entah mereka tinggalnya di daerah mana hanya saja intonasi mereka itu juga kencang. Pembaca yang budiman mungkin akan langsung paham jika sudah mencoba sendiri, hidup bersama dengan orang beda daerah.

Berhubung teman-teman saya dari berbagai daerah, tentunya banyak hal yang mesti saya pelajari ulang soal etika, kalau pepatah Jawa bilang“Ngaji Rasa”. Hal yang saya usahakan ketika bersama mereka adalah meningkatkan rasa peduli, karena akan susah sendiri kalo sedari awal sudah punya mindset acuh tak acuh. Kebayang, saya bakal gontok-gontokan terus dengan orang dari banyak daerah kalo cuma mentingin Ego diri sendiri. Jadi mindset yang digunakan itu mesti melihat orang yang beda dari kita adalah sesuatu yang unik dan spesial, melihat orang lain sebagaimana orang lain enggak usah dipaksain menggunakan parameter diri sendiri.

Kepekaan itu dilatih, kuncinya cuman M.A.U (aja).
Beberapa hari ini di kamar saya, sedang booming mempergunakan aplikasi karaoke Smule (pada tahu kan?). Untungnya saya hilang minat ketika pertama kali mencoba, ini karena suara saya terdengar parau bikin trauma ke saya waktu mendengarnya. Tapi untuk beberapa teman yang menikmati meski dengan derajat keparauan yang sama, mereka memilih untuk lanjut melantunkan tembang-tembang dari A sampai Z. Untuk hari pertama mencoba aplikasi ini, saya tidak merasa terganggu.

Menyikapi hal itu adalah euforia (pikir saya) nyatanya tidak demikian, beberapa hari selanjutnya hal ini tetap berlangsung. Saya sungguh kebingungan mengahadapi hal itu, masalahnya mereka nembang dari pagi sampe malam hari. Saya hendak memberi tahu tapi sedikit khawatir kalo-kalo tersinggung. Walhasil di benak saya jadi geger sendiri melewati beberapa hari penuh suara, hinga dua hari setelahnya teman saya itu akhirnya berhenti benyanyi karena sariawan akibat dinding gusinya tertojos sikat gigi(saya turut prihatin).

Untuk fenomena yang baru saya alami ini, sebenarnya agak heran dengan orang-orang yang enggak peka sama kehidupan di sekitar mereka, padahal persoalan peka itu enggak cukup rumit dipelajari. Kuncinya itu cuma mau, mau lebih peduli, mau mengerti kadaan di sekitar kita, dan mau bertindak yang benar. Bersamaan dengan kelimbungan saya tentang fenomena itu, saya jadi teringat sebuah tulisan yang menceritakan tentang kepibadian orang-orang yang berada di korporasi dari“Manual of Mental Disorder” dari WHO* yang menurut saya punya sedikit kesesuaian dengan orang-orang yang enggak peka tentang kehidupan di sekitar mereka.

Dan jika memenuhi enam poin yang disebutkan, individu itu bisa dikelompokkan sebagai psikopat. Poin-poin itu diantaranya; Pertama, ketidak pedulian atas perasaan orang lain.Kedua, ketidak mampuan mengelola hubungan dalam jangka panjang. Ketiga, ketidak hati-hatian dan ketidak pedulian atas keselamatan pihak lain. Keempat, ketidak mampuan untuk merasa bersalah. Kelima, kegagalan dalam mematuhi norma sosial dalam prilakunya.Untuk yang keenam ‘berbohong dan menipu’ untung saja teman saya tidak memenuhi poin terakhir ini. Tapi untuk kepedulian bersama sebenernya enggak harus ditunjukin ciri-ciri psikopat dulu kan, baru kemudian mau peduli.

Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat dalam kehidupan sosial sehari-hari kita.

*Jalal, Tentang Orang-orang yang Gila Duit dan Gila Kuasa artikel yang terbit di Geotimes.

 

VIDEO PILIHAN