Sirajul Fuad Zis
Sirajul Fuad Zis Public Relations

Penulis, Pengamat Komunikasi, Planner

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Belajar dari Seorang Profesional "Public Relations"

10 Maret 2018   20:36 Diperbarui: 10 Maret 2018   21:09 412 0 0
Belajar dari Seorang Profesional "Public Relations"
Dian Hapsari Firasati (Area Manager Communication & CSR Pertamina MOR III)

Proses belajar selagi umur di kandung badan masih perlu diasah terus menerus di setiap waktu. Pada kesempatan ini, saya coba sedikit berbagi tentang pengalaman saya berintearaksi dengan seorang profesional Pertamina yang bergerak pada profesi Public Relations. Ada yang sudah tahu apa itu Public Relations? Atau masih belum terlalu paham dengan sebutan ini?. Dalam Bahasa Indonesia biasa disebut dengan profesi Hubungan Masyrakat.

Profesi ini memberikan gerak ruang banyak berinteraksi dengan masyarakat yang ada di sekitar lingkungan, mitra, atau pihak-pihak yang terkait dengan sebuah perusahaan dan instansi. Profesional yang saya ingin kisahkan adalah Ibu Dian Hapsari Firasati. Beliau biasa di Panggil "Sari". Ibu Sari termasuk Public Relations yang masih muda menjabat sebagai Area Manager Communications & CSR Jawa Bagian Barat.

Ibu Sari menjabat di kantor Pertamina Marketing Operation Rehion III yang berlamat di Jl. Kramat Raya No 59 Jakarta Pusat. Pertemuan saya dengan Ibu Sari merupakan warna baru yang saya lihat nyata bagi dunia Public Relations. Ibu Sebenarnya tidak memiliki latarbelakang dunia komunikasi pada masa perkuliahan. Beliau kuliah pada jurusan Ilmu Hukum di Universitas Padjajaran Bandung.

Mengamati kepemimpinan dari Ibu Sari sebagai pemimpin, beliau memiliki sikap rendah hati, supel dan mudah bergaul dengan tim di kantor. Saya sebagai mahasiswa yang pernah magang, mendampingi perjalanan dinas beliau sangat bangga banyak belajar mengenai sikap-sikap yang diambil oleh seorang Public Relations dalam membina hubungan dengan mitra kerja. Salah satu hal yang saya ingat sebagai orang yang memiliki latarbelakang komunikasi adalah Ibu Sari setiap pagi datang ke kantor pada jam kerja, tidak pernah merasa malu bahkan sungkan mengucapkan selamat pagi kepada saya.

Ucapan selamat pagi itu, sangat berarti bagi saya mahasiswa magang yang baru kenal, apalagi ditambah dengan senyum beliau yang khas. Kecerdasan pemimpin mengambil alih emosional tim untuk bisa bekerjasama dalam satu visi yang sama, itu yang saya lihat dari beliau. Banyak orang yang sudah berada di ruangan pemimpin, hilang arah tanpa kendali bahkan bagaikan raja kepada bawahan.

Pada hari pertama Ibu Sari masuk kerja, seorang karyawan yang bernama Taufiq atau saya biasa kami panggil mas "Opik" menawarkan warteg yang lezat di sekitar area kantor MOR III. Penawaran tersebut disambut baik oleh Ibu Sari dan Mbak Alih yang tergabung di dalam tim Communication & CSR JBB. Kami pergi bersama menuju warteg dengan berjalan kaki. Meskipun sudah ditawarkan driver pergi dengan mobil yang sudah di sediakan oleh kantor, namun tidak mengurunkan niat Ibu Sari untuk berjalan kaki bersama tim.

Peristiwa-peristiwa kecil seperti ini, menjadi perhatian bagi saya seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi. Bahwasanya pemimpin yang dikagumi oleh bawahan bukan seorang Pemimpin yang memiliki kelebihan harta, fashion, dan barang antik yang dipakai, melainkan bisa berbaur dengan anggota dalam bekerja.

Pelajaran penting yang dapat saya ambil dari seorang Ibu Sari adalah bisa bercanda dengan berbagai pihak. Sewaktu saya dan Ibu Sari waktu itu mengikuti kegiatan CSR di Kampung Baduy, berhubung ada pembagian tugas kelompok antara menghendel media dan mengunjugi suku Baduy di Lebak Banten. Saya kebagian untuk menghendel media gathering bersama Ibu Sari. Ada empat jam waktu yang tidak terpakai sebelum media gatheringdimulai, Ibu Sari pun memutuskan untuk berkeliling di sekitar Banten, akhirnya tempat yang kami lirik adalah Durian Jatohan H.Arif. Selama perjelanan Ibu juga orang yang dapat diajak bercanda, begitu sampai pada media gathering tetap memiliki keceriaan.

Saya Bersama Ibu Sari
Saya Bersama Ibu Sari

Saya tahu, beliau pasti dalam keadaan letih dan capek karena keadaan badan beliau kurang baik, ditambah perjalanan Jakarta menuju Banten dan keliling-keliling. Beliau seorang Public Relations, garda terdepan yang bertanggungjawab pada Pertamina tidak pernah mengeluh dan melihatkan bahwa sedang letih. Terkenang suara enerjik beliau membuat saya semangat lebih banyak belajar agar menjadi seorang Public Relations agar terlihat ceria di setiap keadaan.

Saya mengamati bukan pada peristiwa demikian, banyak peristiwa saya amati dalam gerak aktivitas Ibu Sari, beliau tetap menjadi orang yang tangguh untuk tidak bermuka masam. Bagi calon Public Relations, semoga banyak Ibu Sari lain yang ada di dunia, mengisi dunia kerja dengan penuh semangat dan bentuk bakti kepada instansi. Blog Sirajul Fuad Zis