Mohon tunggu...
Yudel Neno
Yudel Neno Mohon Tunggu... Penulis - Penenun Huruf

Anggota Komunitas Penulis Kompasiana Kupang NTT (Kampung NTT)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memorial Seputar Situs Budaya Suku Boti

22 Oktober 2018   23:57 Diperbarui: 23 Oktober 2018   07:01 669
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Catatan Pendahuluan

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW)-Kupang dalam kerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan tinggi, menyelenggarakan satu event dialogal yakni Sekolah Perdamaian II, dengan tema : Berbeda Tetapi Bisa Hidup Bersama Dengan Damai. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari (18-19/10/2018). Seluruh catatan ini, merupakan rangkuman dari kunjungan di Suku Boti (Kamis, 18/10/18).

Para peserta terdiri dari agama yang berbeda-beda yakni Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, dan Hindu. Jumlah peserta 100 orang.

Kegiatan ini dimulai di aula UKAW-Kupang. Sesusai jadwal, pada Kamis, 18/10/18, para peserta berangkat ke Boti (salah satu situs budaya) di daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).  Untuk diketahui, wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota Kabupaten TTS. Secara administratif, kini menjadi Desa Boti, Kecamatan Kie.

Melepaspergikan para peserta Sekolah Perdamaian II, Gubernur NTT yakni Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan tentang pentingnya perdamaian tidak hanya antar sesama yang beragama tetapi juga dengan sesama yang berbudaya, mengingat bahwa Bangsa Indonesia pada umumnya dan Propinsi NTT khususnya, masyarakatnya bercorak multikultural.

Para peserta berangkat dari UKAW tepat pukul 08.15 pagi -WITA. Ada tiga bus Damri dan satu bus Sinar Gemilang digunakan sebagai kendaraan transportasi. Perjalanan ini menyenangkan walaupun cuaca begitu panas. Apalagi medan menuju Boti, jalannya berliku-liku.

Maklumlah, jalannya sementara diperbaiki, jadi tebaran debu banyak kali menghalangi pandangan pengemudi bus. Rombongan ini didampingi dua pendamping yakni Pater Hendrik Maku, SVD dan Pendeta Lidya Muni.

Setibanya kami di Boti, banyak di antara kami kagum dengan situasi dan penampilan mereka. Situasi, penampilan, kondisi perumahan dan perkampungan benar-benar menunjukkan kondisi tradisional yang masih tetap dipertahankan hingga sekarang.

Kami mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi istana Raja Boti. Untuk diketahui, Raja Boti bernama Namah Benu dan kini Raja Ketiga. Atas perintah Raja, kami disambut dengan Natoni, oleh seorang bapak (maaf tidak sempat tahu namanya).

Seusai itu, Raja pun menyambut kami dalam bahasa Dawan kaya ungkapan. Sambutan Raja ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bapak Yusak Taneo (Mantan Kepala Kankemenag Kab. TTS).

"Saya senang, kami dikunjung hari ini. Dengan kunjungan ini, kami tahu bahwa kita semua di bawah bumi pertiwi Indonesia ini, masih bersaudara. Pertemuan hari ini merupakan pertemuan dalam nama Tuhan. Untuk kami, kedatangan kamu semua bertemu kami di tempat ini, sama halnya bertemu dengan Tuhan. Ketika kami bertemu kamu di tempat ini, sama juga kami bertemu dengan Tuhan," pungkas Raja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun