Mohon tunggu...
Fitri Manalu
Fitri Manalu Mohon Tunggu... Suka Menulis Cerita

Best in Fiction pada Kompasiana Award Tahun 2016, admin komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat (Rumpies The Club), dan penyuka tanaman.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memahami Perempuan Tak Cukup Bermodal Teori Buku

12 Juni 2021   22:29 Diperbarui: 12 Juni 2021   23:00 138 13 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memahami Perempuan Tak Cukup Bermodal Teori Buku
Ilustrasi: tanda tanya di benak perempuan Sumber: tecnicadellascuolla.it

Hingga hari ini, perempuan sering dituding terlalu mengandalkan perasaan. Sebutan emosional, minim logika, tidak objektif, dan sejenisnya sering dialamatkan pada makhluk yang memiliki kodrat mengandung, melahirkan, dan menyusui di muka bumi ini. Benarkah perempuan harus pasrah saja dengan stereotip semacam ini?

Hingga hari ini, perempuan sering dituding terlalu mengandalkan perasaan. Sebutan emosional, minim logika, tidak objektif, dan sejenisnya sering dialamatkan pada makhluk yang memiliki kodrat mengandung, melahirkan, dan menyusui di muka bumi ini. Benarkah perempuan harus pasrah saja dengan stereotip semacam ini?

Sejak kecil, seorang perempuan memang sudah dicekoki berbagai ajaran dalam bentuk kalimat-kalimat yang terkesan menyudutkan. Perempuan harus bermain boneka, membantu pekerjaan rumah tangga, bicara lemah lembut, menurut, dan masih banyak lagi. Akhirnya, perempuan tumbuh dalam segala keterbatasan ruang gerak dan pikir yang membuatnya tidak merdeka layaknya kaum laki-laki.

Saat beranjak dewasa, batasan perempuan pun bertambah-tambah jenisnya. Perempuan dengan baju terbuka, merokok, atau keluar malam, rentan dicap nakal dan murahan. Sebaliknya, cap tersebut tidak berlaku untuk kaum laki-laki. Jika suami main mata dengan perempuan lain, maka yang pertama disalahkan adalah istri karena dianggap tidak memberikan pelayanan terbaik. Sebaliknya, jika istri yang ketahuan khilaf, hujatan keluarga hingga masyarakat akan terus mengalir seperti banjir.

Tak dapat dipungkiri, masyarakat dengan budaya patriarkinya memiliki andil besar dalam menempatkan perempuan dalam bingkai keterbatasan ini. Seorang perempuan yang bertindak di luar nilai-nilai yang diciptakan masyarakat akan dianggap kebablasan alias melanggar. Citra buruk pun melekat. Mulai dari gosip di lingkungan sekitar hingga ramai-ramai di media sosial menjadi risiko yang harus dijalani. Memilih jalan untuk berbeda memang tidak pernah mudah. Stigma nakal atau liar adalah contoh ganjaran yang harus siap diterima bila nekat menempuh jalan ini.

Lantas, makhluk seperti apakah sebenarnya perempuan itu? Telah banyak penelitian atau kajian yang membahas panjang lebar tentang makhluk bernama perempuan. Salah satunya menurut Ragini Verma, PhD dosen pada University Pennsylvania di Philadelphia. Penelitian mereka menemukan adanya perbedaan signifikan antara sirkuit otak perempuan dan laki-laki, bahkan ketika mereka melakukan hal yang sama. Perempuan lebih sering menggunakan otak kanannya, hal tersebut yang menjadi alasan perempuan lebih mampu melihat dari berbagai sudut pandang dan menarik kesimpulan.

Masih berdasarkan penelitian Ragini Verma, otak perempuan lebih bisa mengaitkan memori dan keadaan sosial, ini yang menjadi alasan perempuan lebih sering mengandalkan perasaan. Menurut kajian Tel Aviv, perempuan dapat menyerap informasi lima kali lebih cepat dibandingkan laki-laki. Inilah yang menjadi alasan perempuan lebih cepat menyimpulkan sesuatu dibanding laki-laki.

Hasil penelitian yang menyatakan bahwa perempuan lebih sering mengandalkan perasaan sering dijadikan pembenaran untuk selalu menjadikan perempuan nomor dua dalam banyak aspek kehidupan. Subordinasi perempuan ini menjadikan kedudukan, fungsi, dan peran perempuan seakan-akan menjadi lebih rendah dibanding laki-laki. Fatalnya, tidak hanya penelitian saja, agama pun kerap digunakan untuk menguatkan kedudukan kaum laki-laki dibandingkan perempuan.

Satu hal lain yang cukup sering dilupakan, stereotip terhadap perempuan tersebut juga mengingkari kenyataan bahwa setiap perempuan adalah pribadi yang unik. Tidak ada perempuan yang persis sama di muka bumi ini, entah itu hati, pikir, dan jiwanya. Setiap perempuan lahir dan dibesarkan dengan cara yang berbeda dan tumbuh dengan pengalaman yang berbeda pula.

Karena itulah, perempuan tidak dapat digeneralisasi. Hasil kajian bahkan teori dalam buku tidak serta merta dapat dijadikan acuan mutlak untuk memahami makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Jika demikian, maka akan sama saja dengan menempatkan kembali perempuan dalam bingkai keterbatasan yang telah diciptakan oleh masyarakat sejak lama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x