Mohon tunggu...
Fitria Nurbaidah
Fitria Nurbaidah Mohon Tunggu...

Berjalan dan berbincang| Berjalan dan berfikir| Berjalan lalu menulis

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Melepas Rindu di Gunung Merbabu: Kenapa Saya Naik Gunung?

25 November 2018   20:20 Diperbarui: 27 November 2018   11:56 0 3 0 Mohon Tunggu...
Melepas Rindu di Gunung Merbabu: Kenapa Saya Naik Gunung?
Dokpri

Sudah tiga tahun lamanya saya berhenti melakukan pendakian. Pendakian terakhir saya lakukan di Gunung Lawu pada akhir tahun 2015 ketika pulang ke rumah si Mbah di Magetan. Setelah itu, saya berjanji pada ibu untuk tidak mendaki kembali, sebuah janji yang sudah lama ingin ibu saya dengar.

Hal ini dikarenakan ibu saya tidak pernah merasa tenang setiap anak putri nya ini meminta izin untuk mendaki gunung. Menurut beliau pendakian gunung adalah sebuah aktifitas yang beresiko tinggi.

Selain itu tas ransel yang tinggi dan berat itu yang harus selalu saya gendong selama pendakian membuat beliau selalu geleng-geleng kepala dan khawatir putrinya akan limbung ditengah jalan pendakian. 

Dokpri
Dokpri
Desember 2009 merupakan awal pertama saya mengenal pendakian gunung, waktu itu teman kuliah saya mengajak untuk melakukan pendakian ke gunung Gede. 

Dengan modal kepercayaan diri dan latihan fisik sebelumnya, saya pun memutuskan untuk ikut. Walaupun cuaca saat pendakian hujan sehingga tidak mendapatkan panorama kawah di Puncak Gede, namun tetap saja membuat saya menagih untuk melakukan pendakian-pendakian gunung lainnya. 

Dokpri
Dokpri
Pendakian gunung sesungguhnya bukanlah aktivitas yang ringan dan menyenangkan, benar lah apa yang Ibu saya khawatirkan. Jalan-jalan yang terjal dan berkerikil dengan kanan kiri jurang akan selalu menjadi bagian dari sebuah pendakialn gunung. 

Maka dari itu, persiapan seperti latihan fisik yang mencukupi, kebutuhan logistik yang mencukupi, penggunaan pakaian dan sepatu yang sesuai, serta pengetahuan akan jalur pendakian sangat diperlukan. Ingat untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap aktifitas pendakian. 

Dokpri
Dokpri
Selama pendakian saat kaki sudah letih berjalan ataupun disaat malam yang dinginnya begitu mengigit, saya sering berbincang kepada diri saya sendiri "ngapain saya naik gunung, buat apa...". Namun entah mengapa ada hal yang selalu membuat saya ingin kembali bercengkrama dengan gunung, seperti saat ini. Saat ini akhir September 2018, saya kembali menjajakan kaki di sebuah gunung, kali ini gunung Merbabu yang menjadi pilihan. 

Setalah vacuum selama 3 tahun dan berusaha keras untuk membuang jauh gambaran tentang gunung, hati dan pikiran saya seperti merajuk untuk segera bertemu dan merasakan "rasa" itu kembali. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan yang baru bisa dirasakan ketika kita mengalaminya. 

Berada di hamparan luas padang rumput di gunung dengan bernaungkan langit biru, awan putih yang mengarak, dan hangatnya matahari pagi adalah sebuah kemesraan bersama alam dalam bingkai kesederhaaan namun memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang teramat sangat bagi jiwa ini. 

Itulah rasa yang saya rindukan, rasa yang akhirnya berhasil saya jumpai kembali saat duduk terdiam di hamparan padang savanna Gunung Merbabu. Sebuah rasa yang tidak dapat diganti dengan belanja barang-barang di online shop, jalan-jalan di mall, atau makan di restoran dengan design interior yang memikat.

Dokpri
Dokpri
Bukanlah puncak gunung yang saya kejar ataupun saya rindukan dalam setiap pendakian. Puncak adalah sebuah bonus merupakan sebuah pernyataan yang saya sangat amini. Sehingga, saya tidak pernah bersedih ataupun terlalu memburu puncak saat cuaca memang tidak memungkinkan ataupun disaat kondisi fisik kurang mendukung. 

Karena yang membuat saya jatuh hati pada gunung bukanlah saat saya berada di puncak namun saat saya berada dalam dekapan alam Sang Gunung. Seperti saat di danau sagaranakan gunung rinjani, ranu kumbolo gunung semeru, suryakencana ataupun mandalawangi di gunung gede dan pangrango, semuanya menawarkan rasa yang sama yakni ketentraman jiwa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2