Humaniora

Satu Hari Ziarah and Silaturahmi

12 Desember 2017   22:22 Diperbarui: 12 Desember 2017   22:34 895 0 0
Satu Hari Ziarah and Silaturahmi
dokumentasi pribadi

Pada hari Rabu (29/11) mahasiswa PAI angkatan 2015 kelas H mengadakan ziarah dan silaturrahmi ke kabupaten Kediri -- Jombang - Mojokerto. Tempat pertama yang kami kunjungi untuk berziarah adalah makam mbah Washil. Kemudian makam pendiri pondok Pesantren Lirboyo dan diakhiri di makam Syekh Ihsan Jampes. 

Di sela ziarah, kami juga besilaturahim ke rumah salah satu anggota yakni saudara Abu, Pondok Pesantren Banin Banat Al-Mubtadi-ien, kediaman dosen pengampu mata kuliah SKI untuk semester 5 ini yakni Ust. M. Imamul Muttaqien yang merangkap menjadi pendamping rombongan, ziarah ke makam Kyai Wahab Hasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang dan diakhiri di kediaman salah satu anggota kami di Mojokerto yaitu Sukma Qonitah.

Makam Syekh Washil

Syekh Wasil alias Mbah Wasil, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli dimungkinkan adalah seorang ulama besar dari Persia (Ngerum) yang datang ke Kediri untuk membahas kitab musyarar atas undangan dari Raja Jayabaya. Tokoh inilah yang kemudian berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Kediri. 

Sebagai seorang ulama besar atau tokoh penting yang berjasa mengembangkan Islam di Kediri maka wajar jika setelah meninggal beliau mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Kompleks bangunan makam Setono Gedong merupakan salah satu wujud penghormatan yang diberikan oleh masyarakat terhadap jasa beliau dalam mengembangkan agama Islam di Kediri.


Syekh Wasil atau Mbah Wasil adalah tokoh penyebar agama Islam di Kediri yang hidup sejaman dengan para Wali Songo. Tokoh ini dimungkinkan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan seorang wali, yaitu Sunan Drajat yang merupakan putra kedua dari Sunan Ampel. Untuk mengetahui lebih jauh, silahkan kunjungi http://imamlirboyo.blogdetik.com/2009/10/23/mbah-wasil-kediri-siapa-dia atau artikel terkait mbah Washil lainnya.

Sebelum mencapai makam, kami melewati Masjid Setono Gedong. Bekas bangunan yang terdapat di belakang masjid Setono Gedong sekarang adalah bekas bangunan masjid bukan bekas bangunan candi. Terdapat beberapa indikasi bahwa reruntuhan bangunan tersebut merupakan bekas bangunan masjid.       

Saat memasuki pelataran makam, kami diarahkan oleh penjaga untuk masuk. Setelah melewati teras, terdapat pintu masuk yang tidak begitu tinggi. Peziarah dewasa amupun remaja harus menundukkan kepala agar bisa melewati pintu tersebut. Konon, hal ini mengajarkan peziarah agar tunduk dan ta'dzim kepada Allah, tidak senantiasa mengangkap kepala terus-menerus.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Dari pintu masuk kami berbelok ke arah kanan dan mengambil posisi duduk di luar pagar besi yang mengelilingi makam. Sebagaimana yang dilakukan saat ziarah, kami membaca tahlil yang dipimpin oleh salah satu anggota kami yaitu Muhammad Lathif S.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Kediaman Abu Bakar

Selepas dari Makam Syekh Washil, kami transit terlebih dahulu khususnya silatuahim ke kediaman saudara Abu. Sayangnya kedua orang tua Abu sedang berada di kantor sehingga tidak dapat menyambut dan menemui kami. Berhubung adzan Dzhuhur sudah bekumandang di tengah perjalanan tadi, kami bergantian untuk melaksanakan salat Dzuhur setelah mengisi energi atau makan telebih dahulu.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
PPSM Banin Banat Al-Mubtadi-ien Badal Ngadiluwih Kediri

Kedatangan kami di sana disambut oleh salah satu pengurus. Sayangnya, pengasuh pondok atau bapak K.H. Muhammad Asrori Alfa tidak dapat menyambut kami langsung dikarenakan beliau masih memiliki kepentingan di luar Pesantren. Sehingga kami hanya berbincang sebentar bersama pengurus tersebut sebelum melanjutkan ke destinasi selanjutnya untuk mempersingkat waktu.

Pondok Pesantren Lirboyo

Pondok Pesantren ini merupakan pondok pesantren salafi terbesar yang memiliki lulusan-lulusan handal dan terpercaya. Karena saat itu sudah memasuki masa liburan Maulid Nabi, santri-santri yang berlalu lalang sepanjang jalan yang kami lewati tidak begitu banyak. Saat kami memasuki pelataran makam pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, tampak beberapa santri maupun peziarah duduk bersila khidmah dalam bacaannya. Kami pun segera mengambil posisi untuk membaca tahlil bersama yang dipimpin salah satu anggota kami yaitu Ahmad Tajuddin.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Makam Syekh Ihsan Jampes

Karya monumental yang membuat namanya melambung hingga ke mancanegara adalah kitab Siraj at-Thalibin. Kitab tasawuf ini berisikan komentar atas traktat Imam al-Ghazali, pentolan sufi terkemuka abad pertengahan yang wafat pada 1111 Masehi itu.

Kitab Siraj at-Thalibin yang disusun pada 1933 ini tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga banyak diminati Barat, seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia. Sebagian perguruan tinggi Islam mancanegara bahkan menjadikannya sebagai rujukan resmi. Kitab ini, misalnya, dijadikan kajian oleh mahasiswa pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

Popularitas kitab tersebut pun sampai di telinga penguasa Mesir ketika itu, Raja Faruq.
Pada 1934 sang raja mengirim utusan ke Dusun Jampes untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, beliau memilih untuk mengabdi kepada masyarakat di kampung halamannya.

Pembacaan tahlil di makam beliau dipimpin langsung oleh dosen pengampu mata kuliah SKI sekaligus ketua rombongan kami, Ust. M. Imamul Muttaqien.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3