Mohon tunggu...
FISIP UAJY
FISIP UAJY Mohon Tunggu... Dosen - Instagram: @fisip_uajy | Email: fisip.info@uajy.ac.id | www.fisip.uajy.ac.id

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta | Akun dikelola oleh Tim Informasi dan Komunikasi FISIP UAJY

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tantangan Kolaborasi dan Mobilitas Global Pasca Covid-19

28 Mei 2020   17:44 Diperbarui: 28 Mei 2020   17:35 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Berbeda dari negara-negara di atas, Taiwan tidak memberlakukan lockdown di negaranya, semua aktivitas berjalan seperti biasa. Hal tersebut dikarenakan angka kasus yang sangat kecil yaitu hanya 440 kasus dan semuanya hampir sembuh total dan tertangani dengan baik. Meskipun demikian, mayarakat di Taiwan diwajibkan menggunakan masker dan diberlakukan pengecekan suhu serta disinfektan otomatis di tempat-tempat umum guna meminimalisir kontak langsung.

"Keberhasilan pencegahan penularan virus di Taiwan dikarenakan pemerintahnya yang gesit dalam merespon isu virus ini pada awal kemunculannya," tutur Vincent selaku mahasiswa UAJY yang mengikuti pogram double degree di National Cheng Kung University, Taiwan.

Untuk memaksimalkan upaya pencegahan, setiap negara tersebut juga memiliki strategi komunikasi berbeda-beda, khususnya bagi WNI yang ada di masing-masing negara.

Di Spanyol, informasi mengenai update Covid-19 secara formal disampaikan melalui akun media sosial KBRI dan secara informal disampaikan melalui grup-grup Whatsapp.

Timor Leste menggunakan komunitas-komunitas WNI yang tersebar di berbagai distrik untuk menyampaikan informasi, juga melalui rohaniawan yang disampaikan di gereja dan masjid.

Filipina memanfaatkan pesan singkat atau SMS yang dikirim secara personal kepada setiap masyarakatnya.

Sedangkan Jerman memaksimalkan akun media sosial baik itu Facebook, Instagram, maupun website. Tidak hanya itu mereka juga sering mengadakan Vidcon atau Webinar dengan sejumlah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman.  

Adanya pandemi ini tentu akan membawa perubahan di kemudian hari pasca wabah ini berlalu.

Susan berujar, "Akan lebih banyak kreativitas untuk membangun dan mengejar ketertinggalan di bidang ekonom. Akan terjadi pergeseran culture yang mana digital meeting, video conference dan sejenisnya akan menjadi sarana yang sangat digandrungi dan dilakukan setiap orang," tambahnya.

Respon yang benar ialah tindakan yang sangat penting dilakukan untuk menyikapi realitas maupun perubahan yang dihadapi di masa mendatang.

Menurut Vincent, ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan di masa pandemi ini, "Prevention, transparancy, and people. Tindakan pencegahan, transparasi data terupdate, dan bersama-sama melawan Covid-19."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun