Mohon tunggu...
Firna Zahwa Firdausi
Firna Zahwa Firdausi Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Terus Berkarya !!!

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Sosok Perempuan Hebat, Sehari-hari Bertugas Menjadi Pak Ogah demi Putra-putranya

4 Desember 2021   17:50 Diperbarui: 4 Desember 2021   23:01 1615
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Aksi Bu Paiyem sosok Pak Ogah wanita saat sedang mengatur lalu lintas di pertigaan Jalan Wates yang mengarah ke Jalan Nitipuran (foto oleh Firna).

Yogyakarta - Seorang wanita paruh baya dengan rompi jingga terlihat sedang mengatur pengendara di tengah hiruk pikuknya Jalan Wates. Tongkat bendera tergenggam kuat, tampak tegas mengarahkan pengendara. Caping dan kacamata hitam menjadi pelindung dikala terik matahari yang berlari menusuk kulit. Wanita itu berjalan kesana kemari mengatur pengendara yang sedang lalu-lalang. Bahkan tanpa rasa takut ia memasang badan di tengah jalan untuk menjaga keadaan tetap aman. Peluh cucuran keringat membasahi wajah yang begitu tampak letih. Tetapi senyum indahnya tetap ia pancarkan kepada semua pengguna jalan.

Bagi sebagain orang menganggap menjadi seorang pengatur lalu lintas atau yang sering dikenal dengan Pak Ogah, bukalah hal yang lazim dilakukan oleh wanita. Namun inilah kisah dari wanita hebat dan kuat, puspita dengan pesona menakjubkan. Meski beribu luka dan perihnya kehidupan yang datang secara mengerikan, tapi sakit dan letih ketika bekerja tetap ia sampingan. Hanya untuk menghidupi buah hati yang sangat dicinta. Inilah sosok wanita itu, namanya Bu Paiyem (nama samaran) yang saat ini berumur kurang lebih lima puluh tahun. Ia adalah sosok wanita tangguh yang bekerja tanpa henti dan tanpa rasa takut.

Awalnya Bu Paiyem dahulu bekerja sebagai pedagang angkringan di persimpangan Jalan Wates yang mengarah ke Jalan Nitipuran, tempat ia bekerja menjadi pengatur lalu lintas sekarang. Namun karena adanya PPKM pada saat itu ditambah lagi dengan jari tangannya yang sedang patah. Hal itulah yang membuat Bu Paiyem mengalami kesulitan saat menjalankan usaha angkringannya. Inilah jalan rezeki yang diberikan Tuhan kepada Bu Paiyem karena kebetulan yang menjadi Pak Ogah sebelum Bu Paiyem di pertigaan itu sedang tidak bisa bekerja. Jadi ia dengan sigap menggantikan posisi Pak Ogah yang dahulu untuk mengatur lalu lintas di pertigaan itu agar kondisi jalan tetap aman.

Sukarela demi keselamatan pengendara.

Menurut Bu Paiyem sosok pengatur lalu lintas di Jalan Wates dengan peluit yang selalu menggantung dilenganya itu mengatakan bahwa menjadi Pak Ogah adalah suatu pekerjaan yang sukarela dan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Menjadi seorang pengatur lalu lintas menurut ia lebih banyak risikonya daripada menjadi seorang wirausaha sebab menjadi seorang pengatur lintas bertanggung jawab atas nyawa seseorang. Oleh karena itu Bu Paiyem melakukan pekerjaannya sebagai Pak Ogah dengan hati yang sangat tulus dan ikhlas untuk membantu pengendara agar tidak terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

"Saya melakukan pekerjan ini dengan sukarela, ketika saya sebrangkan motor atau mobil terus dikasih uang saya sangat berterima kasih dan ndk juga yo ndk apa-apa. Saya dengan hati ikhlas membantu orang-orang disini yang penting selamat semuanya gitu. Daripada ada yang bertengkar dan kecelakaan, saya sendiri yang merasa bersalah mbak, begitu mbak. Jadi kalau mengatur pengendara terus semuanya selamat alhamdulillahirobbilalamin," tutur Bu Paiyem yang ditemui di tempat ia bekerja ketika ia sedang beristirahat.

Bekerja demi untuk membahagiakan anak-anak.

Ketika matahari mulai terbit ia langsung bergegas menuju ke Jalan Wates tempat ia bekerja. Pekerjan itu ia lakukan hampir setiap hari dari pagi hingga sore, bahkan biasanya juga hingga matahari berpamitan untuk memanggil bulan. Pekerjan yang ia lakoni saat ini adalah pekerjaan yang sangat mulia dimatanya. Tak ada rasa malu sedikitpun didalam kamus hidupnya ketika ia menjadi seorang pengatur lalu lintas. Ia bahkan sangat mensyukuri hidupnya menjadi seorang Pak Ogah yang terpenting baginya pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang halal di mata Tuhan.

"Walaupun dibilang apalah sama orang-orang diluaran sana yang penting saya tidak menganggu orang, yang penting saya memiliki pekerjaan yang halal untuk anak-anak saya, begitu saja mbak. Yah beginilah mbak, semuanya mengalir begitu saja. Yah yang paling penting semuanya ini untuk anak-anak saya mbak. Alhamdulillah juga saya masih memiliki orang tua yang juga turut membantu saya dalam membiayai anak-anak saya ini," tutur Bu Paiyem sambil tersenyum dengan sangat tulus.

Hal yang membuat Bu Paiyem terus semangat dan pantang menyerah dalam menjalani hari-harinya yang sangat begitu keras karena adanya tuntunan ekonomi yang harus ia tanggung. Walaupun beribu sakit dan luka akibat lelahnya bekerja namun ia sangat kuat bertahan untuk melawan keadaan. Hal itu ia lakukan karena ia adalah seorang ibu tunggal yang harus merawat, membesarkan dan membiayai kelima anaknya yang saat ini semuanya masih bersekolah. Meskipun upah yang ia dapatkan dari bekerja sebagai seorang pengatur lalu lintas tidak seberapa. Namun dengan penghasilan itulah Bu Paiyem dapat memberi makan dan membiayai kelima putranya untuk menggapai mimpi-mimpi mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun