Mohon tunggu...
Arief Firhanusa
Arief Firhanusa Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Pria yang sangat gentar pada ular

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Cukup, Roro Fitria, Tak Perlu Pamer Lagi

26 Mei 2015   11:57 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:35 497 3 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cukup, Roro Fitria, Tak Perlu Pamer Lagi
Hiburan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Jauh sebelum kasak-kusuk prostitusi online, layar TV sudah dibuat ribut oleh Syahrini yang sangat hobi pamer pundi-pundi, naik jet, nunggang Lamborghini, foto-foto di Eropa, dan semacamnya. Kini, begitu marak kabar tentang prostitusi dan dunia esek-esek yang (konon) melibatkan sebagian artis, fenomena memamerkan kekayaan muncul kembali.

Salah satu artis yang tampak sibuk memamerkan harta ini adalah Roro Fitria. Pemain sinetron Islam KTP kelahiran Jogjakarta itu meloncat dari satu stasiun TV ke stasiun lainnya untuk diinterview mengenai harta kekayaannya. Sebuah pameran yang tadinya untuk membantah bahwa dirinya terlibat dalam bisnis esek-esek, seperti disebutkan oleh mucikari RA yang kini masih mendekam di kantor polisi, namun kadarnya sudah melampaui batas.

Dalam program "Hitam Putih" Trans 7, misalnya saja, Roro menunjukkan perhiasan-perhiasan yang dikenakannya, diantaranya berlian, mutiara, gading gajah, dan emas serta baju yang menggunakan swarovski. Dia menjelaskan harga seluruh barang yang ia pakai saat itu, mulai dari perhiasan yang keseluruhannya bernilai Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah) dan baju senilai Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Selain itu Roro juga memperlihatkan beberapa perhiasan yang dibawanya dalam tas dengan nilai sekitar Rp 3.200.000.000 (tiga miliar dua ratus juta rupiah).

"Hitam Putih" eipsode "Women Talk" tersebut memang bisa dibilang ugal-ugalan. Pasalnya, Selain Roro Fitria juga ditampilkan Fifi Buntaran dan Linda Rasyid yang juga pamer duit. Fifi, misalnya, memaparkan soal arisan brondong dan beberapa arisan lain yang ia ikuti, diantaranya arisan dengan setoran Rp 1.000.000 (satu juta rupiah), Rp.5.000.000 (lima jua rupiah) sampai Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Kemudian Linda juga membeberkan harga sepatu yang dipakainya senilai Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) dan perhiasan senilai Rp 10.000.000.

Akibatnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegurnya pada 21 Mei silam. KPI menilai adegan tersebut tidak pantas untuk ditayangkan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang beragam. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindungan remaja, penggolongan program siaran serta larangan menampilkan materi gaya hidup konsumtif dan hedonistik.

Sebelumnya, KPI juga mengedarkan surat yang muatannya sama, bahwa TV dilarang menyiarkan sikap pamer harta di kalangan artis, seperti bisa dibaca di sini. Surat edaran KPI Pusat ini dimaksudkan agar lembaga penyiaran menyajikan konten siaran yang bermanfaat bagi masyarakat dan bukan menimbulkan kesenjangan sosial, sebagai tindaklanjut dari aduan masyarakat tentang maraknya tayangan artis dengan perilaku adu pamer kekayaan, gaya hidup konsumtif dan hedonistik, mulai dari harga jam tangan, sepatu, pakaian, tas, perhiasan emas dan berlian, deposito, buku tabungan secara detail hingga nominalnya.

Kembali ke Roro Fitria. Sikapnya memamerkan harta benda awalnya bisa kita pahami sebagai bentuk protes keras atas pencantuman namanya dalam "daftar gelap" artis yang mau diajak "gelap-gelapan", plus tarif Rp 60 juta. Siapapun tentu marah bila dituduh, apalagi difitnah. Esensi yang ingin disampaikannya, "Ini loh, tanpa harus melakoni kehidupan keruh sebagai PSK saya sudah sangat mapan, kok."

Namun, saya sendiri menilai Roro sudah melewati batas kewajaran mengingat puluhan juta orang di luar sana masih hidup dalam kemiskinan. Masyarakat masih sensitif akibat perekonomian yang sulit. Bagi pemirsa TV yang miliuner, atau katakanlah jutawan, menerima sikap pamer itu sebagai hal biasa. Namun bagi penonton TV yang tiap detik pusing lantaran memikul beban memberi makan anak-anaknya, sikap pamer akan menciptakan mimpi, frustrasi, dan keputusasaan.

Sebab itu, sudahlah, Roro, sudahi saja sikap pamer tersebut sebab bukan manfaat yang didapat, melainkan mudarat. Kita semua sudah sangat yakin kok bahwa Anda memang kaya tanpa perlu melakukan perbuatan nista. Kita menghargai Anda sebagai pelaku kesenian yang berbakat dan bernilai jual.

Untuk televisi, mohon tidak mengumbar hal-hal senisitif -- di antaranya menayangkan kekayaan artis -- demi mengejar target pemirsa. Ingat, televisi bersiaran menggunakan frekuensi milik publik, termasuk di antaranya mereka yang hidup di kolong jembatan. Tolong hormati masyarakat dengan tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan kesenjagan sosial.

-Arief Firhanusa-

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x