Mohon tunggu...
Dzulfikar
Dzulfikar Mohon Tunggu... Content Creator

SEO Content Writer yang mencoba menafsirkan ide dengan kumpulan kata yang sederhana. Aktif menulis di blog bangdzul.com dan menvisualisasikannya di vlog youtube.com/dzulfikaralala

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Memelihara Impian, Merajut Kehidupan Melalui Tulisan

21 November 2014   12:43 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:14 124 11 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memelihara Impian, Merajut Kehidupan Melalui Tulisan
Ritual Simbolik penyerahan hadiah dari kompetisi blog (dok.vivanews)

[caption id="" align="aligncenter" width="576" caption="Jalan-Jalan ke Bali diongkisin Pertamina gara-gara menulis (dok.R Fadli)"][/caption] Bermula ketika SMA di Yogyakarta, saya mengenal sebuah majalah bernama KUNTUM. Majalah tersebut adalah salah satu pelarian saya dari rutinitas yang membosankan selain majalah ANNIDA yang memuat cerpen-cerpen penulis jebolan FLP, Novel, serta buku-buku lainnya. Kami berlomba-lomba membaca sebanyak-banyaknya, maklumlah masa SMA masih saling adu gengsi. Disisi lain memang tidak ada hiburan lain yang bisa kami dapatkan selain olahraga di sore hari dan membaca di malam hari. Begitulah sedikit kisah kehidupan kami di asrama.

Dari kebiasaan itulah saya mengenal beberapa penulis novel yang kini namanya tak asing lagi seperti duo bersaudara Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, Izzatul Jannah, Gola Gong, Pipit Senja yang juga seorang Kompasianer serta beberapa penulis lainnya. Untunglah saat itu radio tidak dilarang di asrama. Jadi, kami masih bisa mengetahui berita seputar Yogyakarta maupun dunia melalui sebuah radio. Ada saatnya kami memiliki siaran favorit. Dan salah satunya program curhat-curhatan ala radio yang dibacakan hingga seantero Yogyakarta tahu.

Dari situlah mungkin keisengan saya berbuah hal yang tak diduga. Pertama, untuk yang pertama kalinya saya mengirimkan sebuah tulisan sederhana tentang sosok Agus Salim yang menguasai berbagai bahasa. Ternyata tulisan tersebut dimuat di Majalah Kuntum. Sayang saya lupa dimana menyimpan majalah tersebut pada edisi dimana tulisan saya dimuat. Secara mengejutkan Kuntum juga mengirimkan saya sebuah kaus dagadu sebagai merchandise. Selain bahagia tentu saja pengalaman tersebut tidak mungkin terlupakan. Karena untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat di sebuah majalah remaja.

Kedua, saya menyesal sekali karena tidak sempat mendengarkan curhatan yang saya kirimkan ke radio yasikafm. Aneh ya, padahal saya sudah tahu isinya tapi berdebar-debar menunggu surat itu disiarkan. Untunglah ada salah seorang teman yang sempat mendengarkan disaat saya keluar asrama. Tapi entahlah apakah si dia mendengarkannya pada saluran yang sama.

***

[caption id="" align="aligncenter" width="576" caption="Mendapatkan sahabat baru gara-gara nangkring (dok.Harja Saputra)"][/caption]

Delapan tahun kemudian akhirnya saya bergabung dengan Kompasiana tepatnya pada tahun 2010. Kompasiana kemudian saya jadikan sebagai labuhan disaat saya merasa penat mengisi hari-hari dengan mengajar di sebuah bimbingan belajar. Saat itu memang banyak kompasianers yang mengenal saya sebagai guru bimbingan belajar. Namun akhirnya saya benar-benar pindah dan mengajar di sekolah pada tahun 2012.

Proses pergantian tersebut tak lain dikarenakan saya ingin mengisi waktu senggang dengan menghadiri berbagai pelatihan blogshop yang diadakan oleh Kompasiana dan acara nangkring lainnya.

Tak ada penyesalan karena harus meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan gaji lumayan dan fasilitas yang memadai. Kemudian saya mencari apa yang selama ini saya cari. Melalui blog ini-lah dahaga saya setidaknya bisa dipenuhi. Melalui Kompasiana saya mendapatkan banyak hal hingga akhirnya pada tahun 2012 saya bisa memenangi sebuah kompetisi blog.

[caption id="" align="aligncenter" width="540" caption="Manggung bareng penulis top Ahmad Fuadi (dok. Dwi Purwanti)"][/caption]

Kompetisi blog tersebut sangat unik. Dengan tema mengulas sebuah Film Negeri Lima Menara yang diadaptasi dari Novel dengan Judul yang sama, akhirnya setelah satu tahun berlalu saya dipertemukan lagi dengan sosok penulisnya dalam satu panggung. Saat itu Ahmad Fuadi hadir sebagai pengisi acara di Kompasianival 2013 sedangkan saya secara sukarela menawarkan diri pada Kompasiana sebagai host-nya. Sungguh sebuah rencana Tuhan yang tak terduga sebelumnya. Awalnya hanya ikut lomba blognya, setahun kemudian barulah bertemu kembali dalam satu panggung dan sempat banyak berdialog ringan dibelakang panggung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN