Mohon tunggu...
Fifin Nurdiyana
Fifin Nurdiyana Mohon Tunggu... Administrasi - PNS

PNS, Social Worker, Blogger and also a Mom

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Candu Ngafe, Berbahayakah?

21 Januari 2021   00:07 Diperbarui: 21 Januari 2021   00:16 1603
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi dari Pixabay.com

Kebiasaan Mahal dan Membahayakan Kesehatan

Begitu besarnya dampak kecanduan ngafe, sampai Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun mengimbau kepada masyarakat (terutama kaum milenial) untuk mengurangi kegemaran ngopi di kafe jika ingin memperbaiki kualitas perekonomiannya. Meski banyak menuai pro kontra, namun itulah fakta yang harus kita akui, suka tidak suka.

Bayangkan, seorang Menteri dan ahli keuangan sekelas Sri Mulyani saja begitu menyoroti kebiasaan ngopi di kafe sebagai salah satu pengaruh besar kondisi perekonomian masyarakat, masa iya kita nggak percaya ? Tentu bu Menteri berbicara dengan nalar dan ilmu yang mumpuni, bukan asal-asalan.

Terlepas dari kegemaran ngafe, saya jujur mengakui bahwa ngafe adalah kebiasaan yang mahal. Padahal, saya dan suami tergolong ngafe di kelas menengah, dimana sekali ngafe untuk dua jenis minuman saja bisa menghabiskan sekitar Rp. 50.000,- an. Bisa dibayangkan dong jika saya ngafe bisa 2-3 kali sehari dan setiap hari. Walaupun, tak jarang juga kami ditraktir oleh kawan hehe...yang jelas, bagi saya dan suami yang PNS, biaya itu tergolong cukup mahal.

Dan itu baru dari sisi anggaran ya. Belum lagi dampak bagi kesehatan. Ya, kebiasaan ngafe bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan kita. Coba bayangkan, setiap ngafe yang diminum kalau bukan kopi pasti teh dan segala macam turunannya. Rasanya nggak mungkin kita ngafe pesennya air mineral saja, bukan ?

Selama ngafe hanya sesekali mungkin masih tidak ada masalah. Tapi bagaimana jika ngafe sudah menjadi kebiasaan ? seperti saya dan suami yang setiap hari lebih banyak minum "berwarna dan berasa" ketimbang air mineral yang "tidak berwarna dan berasa". Sudah pasti, kami akan diliputi kegelisahan akan bahaya diabetes, ancaman infeksi saluran kemih (ISK), kolesterol yang meningkat, jantung, batu ginjal, dll. Belum lagi ritual pelengkap ngafe seperti merokok dan nge-vape, sang penghirup asap rokok pun terkena imbasnya. 

Apalagi jika imun kita sedang tidak bagus, sudah pasti gejala-gejala penyakit akan mudah menyerang. Barangkali, lebih singkatnya ketika kita terbiasa ngafe itu artinya kita juga terbiasa dengan gaya hidup yang tidak sehat. Nah lo !

Lalu Bagaimana Menyiasati Bagi Yang Sudah Terbiasa Ngafe ?

Bagi beberapa orang, menghilangkan kebiasaan mungkin suatu perkara yang tidak mudah. Bahkan, meski kita tahu dampak buruknya, namun tetap dilakukan. Sama halnya dengan kebiasaan ngafe, saya dan suami saja sampai detik ini belum bisa menghilangkannya.

Tapi, meski demikian, saya dan suami mencoba untuk lebih bijak dalam menyiasati kebiasaan ngafe agar tidak terlalu membawa dampak buruk pada diri kita baik secara keuangan rumah tangga maupun kesehatan.

Sedikit tips, hindari makan/ nyemil saat ngafe. Lebih baik isi perut terlebih dahulu sebelum ngafe sehingga tidak "lapar mata" saat di kafe. Setidaknya ini bisa lebih menghemat biaya ngafe. Toh, kebanyakan tujuan ngafe adalah "membeli suasana" bukan ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun