Media

Televisi, Informasi atau Bisnis?

11 Desember 2018   07:20 Diperbarui: 11 Desember 2018   07:32 155 0 0

Globalisasi yang kini tengah mencapai puncaknya, membuat banyak orang di seluruh belahan dunia berlomba-lomba untuk bersaing demi mendapatkan martabat dan penghargaan. Kedual hal di atas tentu merupakan sebuah keuntungan yang bisa didapatkan oleh seseorang yang berhasil berkonstribusi dalam upaya pengembangan sumber daya maupun teknologi yang akan memberikan perkembangan yang signifikan untuk dunia. 

Konstribusi sumber daya ialah seperti sumber daya manusia yang selalu giat dalam mengenyam pendidikan hingga S3, dimana nantinya pola pikir kritis yang disertai dengan logika logis itu akan memberikan dunia kemudahan dalam menghadapi tantangan ke depannya. 

Dalam bidang teknologi misalnya seperti semakin banyak media-media informasi canggih yang dapat saling menghubungkan orang yang satu dengan yang lainnya tanpa harus takut dengan jarak yang memisahkan mereka. 

Media yang dapat digunakan dalam menunjang kelancaran komunikasi antar sesama ialah dengan media baru (new media) dan juga media konvensional.

Salah satu media konvensional yang cukup banyak digunakan masyarakat khususnya di Indonesia ialah televisi. Hingga kini ada lebih dari 100 televisi (baik nasional maupun lokal) yang ada di Indonesia dimana di antaranya ialah Trans TV dan Trans 7 yang  merupakan anak dari perusahaan Trans Corp.

 MNC Group yang membawahi  MNC TV; Global TV dan juga RCTI, dan masih banyak lainnya. 

Selain sebagai media komunikasi dan penyampaian informasi, televisi yang diwakilkan oleh beberapa contoh nama stasiun televisi di atas juga memiliki fungsi lain yang juga sangat berguna bagi beberapa oknum terutama sang pemilik dari stasiun televisi tersebut. Fungsi lain itu ialah politik, budaya hingga bisnis.

Fungsi bisnis, saya rasa merupakan fungsi yang sering muncul di televisi setelah informasi dan politik. Banyak pihak yang memanfaatkan media konvensional ini sebagai media berbisnis yang tentunya hanya untuk keuntugan pribadi. 

contohnya iklan-iklan produk di setiap pembatas segmen, seperti Mastin sebagai bisnis produk kecantikan. Mulanya masyarakat tidak tahu sebenarnya apa itu Mastin hingga akhirnya muncul sebuah iklan yang berdurasi hampir satu menit itu dengan pengemasan yang unk sehingga meuat khalayak tidak kesulitaan dalam mengingat promosi yang dilakukan Mastin.

Contoh lain misalnya iklan perumahan elit. Pemilik dari bisnis ini benar-benar memanfaatkan media televisi dalam melakukan promosi bisnisnya. Iklan yang sudah dimodifikasi dengan gambar-gambar yang unik, musik-musik yang asik dan menenangkan ini diharapkan pembisnis dapat menarik minat penonton agar dapat memilih perumahan tersebut.

Hal ini memberikan kreasi tayangan pada media televisi dimana penonton mungkin akan merasa tidak bosan dengan hadirnya konten-konten menarik yang berupa iklan itu. 

Hanya saja, para konten creator yang kini telah banyak membuat banyak kreasi konten, benar-benar memanfaatkan televisi sebagai media promosi dan berbisnisnya sehingga televisi sedikit mengurangi esensinya sebagai media konvensional yang bertujuan untuk menyebarkan dan menginformasikan suatu hal kepada khalayak. 

Iklan bisnis ini saya rasa tidakk hanya menguntungkan satu pihak saja (si pemilik bisnis), namun stasiun televisi yang ikut menyebarkan dan menginformasikan tentang iklan bisnis itu pun juga akan mendapat keuntungan. Wajar saja jika kini sangat banyak kita temukan iklan-iklan bisnis bermunculan di setiap jeda segmen acara atau program acara televisi. 

Hal ini bukan berarti tidak boleh menurut saya, hanya saja hal ini membuat televisi mengurangi esensinya sebagai media yang menyampaikan informasi seputar dunia. Maka dari itu saya berharap para pemilik stasiun televisi dan juga pemilik bisnis bisa memilih media maupun konten yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sebelumnya.

Sumber:

Cangara, Hafied. 2016. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada