Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

PSSI Pihak yang Paling Bertanggungjawab dalam Tragedi Kanjuruhan

4 Oktober 2022   16:58 Diperbarui: 4 Oktober 2022   18:00 249 26 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Semua pendukung, fans, atau supporter klub sepakbola harus menyadari bahwa pertandingan sepakbola pasti akan mendapati momen menang dan kalah.

Kalah dalam pertandingan hari ini, bukan berarti saat besok bertanding kita akan kalah lagi. Itulah esensi sebuah permainan dan kompetisi olahraga, kalah menang biasa saja, itu yang harus benar-benar disadari.

Selain itu, sadari pula bahwa masih ada kehidupan di luar stadion. Oleh sebab itu mari kita semua bersikap sewajarnya saja, kecintaan dan fanatisme berlebihan dalam hal apapun tak terbatas pada sepakbola, lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.

Meskipun kita tahu juga, sepakbola seperti sudah menyatu ke dalam genetik sebagian besar masyarakat Indonesia. Dari pedesaan hingga perkotaan, sepakbola sudah menjadi sebuah hiburan dan kemeriahan bersama melampaui sekat-sekat sosial.

Unfortunately, magnitude yang begitu besar tersebut, tak mampu dikelola dengan baik oleh para elite pengurus PSSI dari masa ke masa dan stakeholder yang terlibat dalam persepakbolaan nasional.

Prestasi sepakbola Indonesia, tak pernah bisa jauh dari hanya sekedar berkutat di level Asia Tenggara itupun lebih sering menjadi juara dua. 

Cerita kejayaan masa lalu saat menahan seri raksasa sepakbola dunia pada tahun 1960-an Uni Soviet dalam play off kualifikasi Olimpiade, terus menerus diulang, lantaran tak ada lagi prestasi sepakbola setelah itu.

Hingga saat ini, prestasi terbaik timnas sepakbola Indonesia di kancah internasional adalah meraih medali perunggu dalam perhelatan Asian Games tahun 1958.

Kemudian sempat lolos ke Semifinal Asian Games 1986, dan 2 kali meraih medali emas Sea Games 1987 dan 1991, udah itu saja.

Namun, masyarakat Indonesia tetap mencintai sepakbola begitu rupa, hal yang menjadi paradoks menarik untuk diamati, karena mereka begitu mencintai sesuatu yang jelas tak mampu menghadirkan kebanggaan sebagai juara.

Lebih jauh lagi, mungkin hanya di Indonesia yang wajah dan nama pengurus federasi sepakbolanya lebih banyak terdengar dan terlihat di media massa dibanding para pemain nasionalnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan