Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Prancis dan Charlie Hebdo, Pertarungan Keyakinan atau Ego?

30 Oktober 2020   18:14 Diperbarui: 30 Oktober 2020   18:25 386
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rentetan kejadian teror yang menyebabkan 4 orang harus kehilangan nyawanya dengan cara mengerikan di Prancis dalam 2 minggu terakhir membuat saya berpikir.

Apakah sebuah keyakinan memang harus dipertahankan sedemikian rupa sehingga membuat nyawa manusia seperti tak berharga lagi?

Keyakinan yang saya maksud tak terbatas pada keyakinan dalam agama, tetapi juga keyakinan terhadap prinsip-prinsip bernegara, seperti Prancis mempertahankan  prinsip sekularisme dalam kebebasan berekpresi.

Seperti diketahui kejadian teror di Prancis dua minggu lalu awalnya dipicu oleh seorang guru bernama Samuel Paty yang menunjukan karikatur satir Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan oleh tabloid mingguan Charlie Hebdo kepada para muridnya dalam sebuah pelajaran tentang kebebasan berekspresi.

Saat itu Paty memang mempersilahkan murid-muridnya yang beragama Islam untuk keluar jika gambar karikatur itu dianggap mengganggunya.

Namun rupanya tindakan Paty itu tak cukup, beberapa murid yang muslim kemudian mengadukan yang dilakukan Paty tersebut kepada orang tuanya sehingga kemudian menimbulkan kontroversi diantara mereka yang kemudian berujung pada pemenggalan sang guru oleh seorang pemuda imigran dari Chechnya.

Sontak kejadian ini ramai menjadi bahan perbincangan warga Prancis dan juga masyarakat Islam dunia apalagi kemudian respon Presiden Prancis Emanuelle Macron dianggap menghina Islam.

Sejumlah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam mengecam keras sikap Macron  yang terkesan membela pembuat dan publikasi karikatur satir Nabi Muhammad Saw yang dilakukan oleh tabloid Charlie Hebdo.

Bukan kali ini saja Charlie Hebdo dan berbagai karikatur satirnya ini menyinggung umat Islam dan umat beragama lain.

Charlie Hebdo terlihat begitu piawai menggunakan Undang Undang Kebebasan Pers di Prancis hingga batas wilayah abu-abu dalam upaya menancapkan eksistensinya.

Karikatur Satir Rasulallah diterbitkan beberapa kali mulai dari tahun 2006, meskipun karikatur itu aslinya milik salah satu media Denmark yang dirilis tahun 2005.

Lantas tahun 2011 Charlie Hebdo kembali merilis karikatur Nabi Muhammad Saw di sampul depannya dengan caption bernada mencemooh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun