Mohon tunggu...
Fery. W
Fery. W Mohon Tunggu... Analyst

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Fin Cen Files Sebut Dugaan Aliran Dana Ilegal di Perbankan Indonesia Sebesar 7,46 Triliun

22 September 2020   11:23 Diperbarui: 22 September 2020   12:22 189 29 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fin Cen Files Sebut Dugaan Aliran Dana Ilegal di Perbankan Indonesia Sebesar 7,46 Triliun
IComplyis.com

FinCen Files merilis sejumlah bocoran dokumen transaksi keuangan  kotor di Perbankan dunia senilai US$ 2 triliun atau senilai Rp. 28.000 triliun.

Dokumen itu mengungkapkan berbagai praktek transaksi berbau ilegal oleh sejumlah bank besar di dunia yang dilakukan oleh para pelaku tindak kriminal dalam upaya memindahkan uang kotor yang diduga hasil kejahatannya ke seluruh dunia.

Dalam dokumen itu juga disebutkan terdapat aliran dana yang janggal baik yang keluar maupun masuk ke Indonesia melalui bank-bank besar senilai US$ 504,65 juta atau setara dengan Rp. 7,46 trliun.

Mengutip laman media online Kompas.Com, dokumen itu menunjukan terdapat jumlah uang masuk ke Indonesia yang diduga kotor ini sebesar US$ 218,49 juta dan yang keluar dari Indonesia senilai US$ 286,16 juta.

Transaksi tersebut awalnya diproses melalui empat bank raksasa dunia yang berbasis di Amerika Serikat diantaranya, The Bank of New York Mellon sebanyak 312 transaksi.

Kemudian, Deutsche Bank AG sebanyak 49 transaksi, Standard Chartered Bank PLC sebanyak 116 transaksi, dan  JP Morgan Chase and Co sebanyak 19 tramsaksi.

Transaksi yang dianggap mencurigakan ini dilaporkan oleh ke-4 bank ini kepada FinCen. Dalam laporan itu diungkapkan terdapat 19 bank di Indonesia yang menjadi tujuan atau asal dana transaksi janggal tersebut.

Ke-19 bank tersebut antara lain Bank DBS Indonesia, Bank Mandiri, Bank Windu Kentjana Internasional, CIMB Niaga Bank, HSBC Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank BCA, OCBC NISP, Bank Danamon, Bank UOB Indonesia serta Commonwealth Bank.

Selain itu, ada Panin Bank, Bank BNP Parahiyangan, Bank Chinatrust Indonesia, ICBC Bank Indonesia, Stanchart Bank Indonesia, Bank of India Indonesia dan Citibank Indonesia.

Menanggapi bocoran dokumen FinCen ini, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi (PPATK)  juga mencatatkan hal yang sama terkait aliran dana yang diduga kotor itu, namun mereka tak mau menjelaskan secara rinci. Karena menurut PPATK sebenarnya dokumen ini merupakan informasi intelejen yang sangat rahasia seperti yang diatur oleh undang-undang.

Namun yang pasti PPATK, akan terus melakukan analisa dan menelusuri informasi tersebut, tetapi hasilnya tak bisa di buka ke publik.

Dokumen FinCen  yang bocor ke publik terdiri dari 2.500 dokumen dalam kurun waktu pelaporan antara tahun 2000 hingga 2017.

Sebenarnya dokumen ini merupakan informasi sangat rahasia, Bank menggunakan informasi ini untuk melaporkan dugaan perilaku transaksi keuangan yang mencurigakan, tetapi bukan bukti perbuatan kriminal atau kejahatan.

FinCen  atau US Financial Crimes Enforcement Network merupakan Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan di Amerika Serikat (AS).

Lembaga ini berada dalam lingkup Kementerian Keuangan AS, para petugas yang bertugas di lembaga itu mengawasi berbagai transaksi keuangan yang dilakukan dalam bentuk Dolar AS, bahkan yang terjadi di luar AS.

Jika kemudian mereka menemukan transaksi yang mencurigakan maka aktivitas itu bakal dimasukan dalam klasifikasi laporan Suspicious Activity Report (SAR).

Mungkin prakteknya di lapangan tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh PPATK di Indonesia.  Bank akan mengisi formulir laporan jika profiling transaksi yang dilakukan sebuah individu tak cocok dengan profile transaksi individu tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x