Humaniora

What is Gender?

15 Maret 2019   23:56 Diperbarui: 16 Maret 2019   00:12 5 0 0

Seperti pada umumnya, disekitar kita di lingkungan kita. Sudah lumrahnya yaaa, seorang anak laki-laki bermain mobil-mobil an dan seorang anak perempuan bermain masak masak an. Disini dapat kita Tarik kesimpulan bahwa seorang anak laki-laki memiliki ciri yang maskulin dan seorang anak perempuan memiliki ciri yang feminim. Maskulin atau feminim ada hubungan nya dengan Gender. Lalu apasih yang namanya Gender itu? Mengacu pada pendapat Mansour Faqih, Gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional, dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa, dan tidak boleh menangis.

Identitas Gender, yang merujuk pada penghayatan seseorang terhadap gendernya, termasuk pengetahuan, pemahaman, dan penerimaan menjadi seorang laki-laki atau perempuan (Egan & Perry, 2001). Salah satu aspek identitas gender adalah mengetahui apakah anda perempuan atau laki-laki, dimana sebagian besar anak-anak dapat melakukannya pada usia sekitar 2,5tahun (Blakemore, Berenbaun, & Liben, 2009).

Peran gender merupakan seperangkat ekspetasi yang menentukan bagaimana wanita dan pria seharusnya berpikir, bertindak, dan merasa. Selama masa prasekolah, kebanyakan anak-anak mulai bertindak sesuai dengan peran gender yang ditetapkan oleh budaya yang berlaku.

Membicarakan tentang gender, terdapat tiga hal yang mempengaruhi perkembangan gender, yaitu pengaruh biologis, sosial, dan kognitif.

Pertama, pengaruh biologis jelas berperan dalam pengaruh perkembangan gender. Sejumlah faktor biologis yang berpengaruh adalah kromosom, hormone dan evolusi. Hormone berperan penting dalam perkembangan perbedaan seks, kedua kelas hormon seks yakni esterogen dan androgen. Esterogen mempengaruhi perkembangan karakteristik fisik pada wanita, sedangkan androgen mempengaruhi perkembangan karakteristik fisik pada pria. Hormone seks dapat mempengaruhi perkembangan sosio-emosi anak anak (Auyeung dkk, 2009).

Kedua, pengaruh sosial. Ada dua bagian di pengaruh sosial: pengaruh orang tua, melalui tindakan dan melalui contoh yang diberikan, mempengaruhi perkembangan gender anak-anaknya (Gore, 2009). Baik ibu maupun ayah penting secara psikologis terhadap perkembangan gender anak-anak mereka. Ulasan penelitian terbaru memberikan konklusi berikut (Bronstein, 2006) :

  • Strategi ibu. Dibanyak budaya, ibu mensosialisasikan anak perempuan nya agar lebih patuh dan bertanggung jawab daripada anak laki-laki. Ibu juga memberikan lebih banyak batasan terhadap otonomi anak perempuan.
  • Strategi ayah. Ayah menunjukkan atensi lebih kepada anak laki-laki daripada kepada anak perempuan, lebih banyak melakukan aktivitas dengan anak laki-laki, serta lebih mendukung perkembangan intelektual anak laki-laki.

Pengaruh kawan sebaya, dalam konteks ini kita ambil contoh anak perempuan yang hidup di lingkungan yang populasi kawan laki-lakinya lebih banyak daripada kawan perempuan. Maka, istilah tomboy mengimplikasikan peran anak perempuan tersebut. Gender membentuk aspek-aspek yang penting dalam relasi dengan kawan sebaya (Best, 2010). Gender memengaruhi komposisi dari kelompok anak-anak, ukuran kelompok, serta interaksi didalam kelompok (Maccoboy, 1998, 2002) :

  • Komposisi gender dari kelompok anak-anak. Ketika menginjak usia sekitar 3thn anak-anak sudah memperlihatkan preferensi untuk menghabiskan waktu dengan teman bermain yang bergender sama. Dari usia 4 hingga 12thn preferensi untuk bermain dengan kelompok gender yang sama meningkat, dan selama tahun-tahun sekolah dasar anak-anak melewatkan sebagian besar waktu luangnya dengan anak-anak yang bergender sama.

  • Ukuran kelompok. Usia 5thn keatas, anak laki-laki cenderung bergabung dengan kelompok yang lebih besar dibandingkan anak perempuan. Anak laki-laki juga cenderung berpartisipasi di dalam berbagai permainan kelompok yang lebih terorganisasi dibandingkan anak perempuan.
  • Interaksi dalam kelompok yang bergender sama. Dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki lebih suka terlibat dalam permainan fisik. Sebaliknya, anak-anak perempuan lebih suka terlibat dalam percakapan kolaboratif, dimana mereka berbicara, bertindak secara timbal balik.

  • Ketiga, pengaruh kognitif. Sebuah teori kognitif yang berpengaruh adalah teori skema gender yang menyatakan bahwa tipe-gender terjadi ketika anak-anak secara bertahap mengembangkan skema gender atas sesuai gender dan tida sesuai gender dalam budaya mereka (Blakemore, Berenbaum, & Liben, 2009; Zosuls, Lurye & Ruble, 2008). Teori skema gender yaitu teori yang menyatakan bahwa perhatian dan tingkah laku individu dibimbing oleh motivasi untuk menyesuaikan pada standar-standar sosiobudaya dan stereotip yang didasarkan pada gender.

  • Memang akhir-akhir ini, pendapat bahwa orang tua adalah satu-satunya agen sosial penting dalam perkembangan peran gender, mengalami berbagai kritik. Kita tahu bahwa orang tua hanyalah salah dari sekian banyak sumber dari mana individu belajar mengenai peran gender. Budaya, lingkungan, dan media dalam mempengaruhi peran gender anak. Mersikupun begitu, kita harus tetap menganggap peran orang tua sebagai lingkungan terdekat sangat penting dalam perkembangan. Orang tua menjadi pelaku awal dalam menanamkan doktrinasi identitas gender dari anak mereka.