Mohon tunggu...
Sri Wahyuni
Sri Wahyuni Mohon Tunggu... Freelance Writer

Menulis itu Mengobati

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Cinta Bahasa, Majukan Bangsa

28 Oktober 2019   22:39 Diperbarui: 29 Oktober 2019   21:17 135 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cinta Bahasa, Majukan Bangsa
Jakartasatu.com

Oleh: Sri Wahyuni

Sejak tahun 1980, setiap bulan Oktober Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan telah mengembangkan ikon kegiatan kebahasaan dan kesastraan, yakni Bulan Bahasa dan Sastra. Tahun ini tema yang diusung adalah "Maju Bahasa dan Sastra, Maju Indonesia".

Agenda Bulan Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan setiap bulan Oktober mengingatan kita pada peristiwa 91 tahun silam. Di Batavia, 28 Oktober 1928, berkumpul para pemuda dari berbagai organisasi pemuda seluruh Indonesia. Mereka menyatukan Nusantara, tak ubahnya seperti Gajah Mada. Mahapatih Gajah Mada menyatukan Nusantara dengan sumpah Palapa, para pemuda kala itu menyatukan Nusantara dengan bahasa melalui Sumpah Pemuda.

Butir ketiga Sumpah Pemuda berbunyi "Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Indonesia dicanangkan sebagai bahasa nasional. Dan diresmikan sehari setelah proklamasi.

Dalam perkembangannya, kedudukan bahasa Indonesia mencapai puncaknya ketika dijadikan bahasa negara yang rumusannya tercantum dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 36.

Setelah itu, berkembanglah penjabarannya dalam berbagai sektor kehidupan nasional, yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, berfungsi sebagai jati diri atau identitas bangsa Indonesia. Sebagai jati diri bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita bangga pada bahasa Indonesia.

Lalu di usianya yang menginjak 91 tahun ini, bagaimana kabar bahasa Indonesia? Sudahkah kita bangga padanya?

Memprihatinkan! Jika kita mau menengok orang-orang di sekeliling kita, mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa nasional. Bahasa asing mulai menghiasi berbagai dialog masyarakat saat ini.

Ada juga orangtua yang mengajarkan bahasa asing pada anaknya sejak kecil sehingga anak-anak merasa bahwa itu adalah bahasa utama baginya.

Tak hanya dalam percakapan, tempat-tempat umum banyak yang telah mengubah namanya dengan nama asing. Kantor-kantor megah, gedung-gedung pencakar langit, mal-mal mewah, perumahan-perumahan elite, dan merek-merek barang, semuanya lebih sering menggunakan nama asing di tubuhnya. Jika kita berjalan, ada saja penunjuk yang menggunakan bahasa asing. Entah itu penunjuk tempat maupun penunjuk jalan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x