Mohon tunggu...
Fauzi Wahyu Zamzami
Fauzi Wahyu Zamzami Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia. Tertarik untuk meneliti isu-isu Diplomasi Publik dan Nation Branding.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Diplomasi Publik dan Illiterasi Geopolitik

11 Juli 2020   22:11 Diperbarui: 13 Juli 2020   16:56 162 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Diplomasi Publik dan Illiterasi Geopolitik
Ilustrasi peta dunia | Photo by Adolfo Félix on Unsplash (unsplash.com/@adolfofelix)

Di era perang ideologis yang kini diperbarui, ada kerentanan strategis baru untuk dipertimbangkan diantaranya buta huruf geopolitik atau kekurangan literasi dalam membaca letak politik secara geografis.

Para ahli telah lama mengakui bahwa promosi literasi media mampu mendidik konsumen informasi untuk bernavigasi di ruang media global dan sangat penting untuk melawan distabilisasi gangguan informasi dan efek manipulasi informasi.

Namun literasi media tidak cukup. Kita perlu mengatasi tantangan yang lebih mendasar yaitu  tidak adanya literasi geopolitik atau apa yang perlu diketahui setiap warga tentang strategi imperatif yang dihadapi negaranya dalam konteks global, dan bagaimana imperatif ini berdampak padanya, anggota keluarganya, komunitasnya , kotanya, wilayahnya, negaranya. 

Dalam dunia yang sangat terhubung dan hiper-responsif ini, kita tidak lagi memiliki kemewahan isolasionisme informasi. Keamanan nasional dimulai pada tingkat pengetahuan individu tentang konteks global.

Untuk mengatasi fenomena buta huruf geopolitik, kita perlu memahami apa yang ada di baliknya, dimulai dengan identifikasi Joseph Nye tentang "paradox of plenty" yaitu pasokan data yang tak terbatas dalam ruang informasi global yang menghasilkan kelangkaan perhatian daripada pemahaman yang lebih besar. 

Karena ada begitu banyak data untuk dipilih, orang tertarik pada informasi yang mengkonfirmasi bias keluar mereka, menarik prasangka mereka atau mendukung keyakinan mereka. 

Penyerapan informasi yang ditentukan oleh naluri atau emosi menghalangi pemahaman yang luas dan inklusif yang diperlukan untuk keterlibatan yang efektif dalam ruang informasi global.

"Keamanan nasional dimulai pada tingkat pengetahuan individu tentang konteks global"

Cakupan penyempitan pemahaman semakin diperparah dengan disagregasi informasi. Buta geopolitik berkembang ketika berita dan informasi terlepas dari konteks asli atau alur cerita. 

Potongan elemen data yang tidak berkelanjutan ini kemudian didistribusikan kembali di sepanjang profil ekonomi, politik dan sosial individu. Apakah ini dihasilkan oleh algoritma platform media sosial, pola pembelian konsumen atau kecenderungan ideologis, atau narasi yang dihasilkan jauh dari asal mereka ?. Informasi yang kurang menghasilkan pemahaman yang kurang juga.

Akhirnya, di era digital, beban penilaian kredibilitas sumber telah bergeser ke konsumen informasi individu dan jaringan langsung mereka. Agar melek secara geopolitik, konsumen informasi harus berupaya mengidentifikasi sumber, mengklarifikasi klaim, dan keluar dari pola konsumsi data yang tetap yang mana sesuatu yang sulit dilakukan dalam ruang informasi yang terputus-putus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN