Mohon tunggu...
Fatir Natsir
Fatir Natsir Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Pria kelahiran Jayapura 22 Maret 1987 yang hobi membaca dan masih banyak belajar nulis, peace and respect

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Napak Tilas Jejak Maluku di Kota Makassar (Part.1)

17 Juni 2016   03:38 Diperbarui: 17 Juni 2016   04:09 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di tahun 2005, pertikaian mahasiswa antara pribumi Sulawesi Selatan dengan minoritas perantauan seperti Maluku kerap terjadi. Dan ini senantiasa tersimpan rapi secara rahasia dan tak pernah tergubris oleh media kala itu. Pertikaian kecil (Perseorangan) berujung besar hingga membawa basis massa paguyuban daerah. Beberapa tahun lalu Jogja pun terdengar demikian. Padahal mereka lupa, hubungan Sulawesi Selatan dan Maluku di masa lalu penuh persaudaraan dan bahu membahu dalam kepentingan ekonomi kala itu. sejak masa tragis itu, aku berniat menguak sejarah hubungan kedua daerah ini sejak masa lalu demi sebuah nostalgia perdamaian di masa yang akan datang.

Ketertarikanku pada sejarah berawal ketika mata pelajaran Sejarah telah dikenalkan guru SMP ku kala itu (2000). Kala itu aku duduk di bangku SMP yang tepatnya di SMP 1 Soa Sio Tidore eks Rumah Sakit di era perang dunia II yang masih sekarang terkenal akan bangunan horornya. 

Tidore, adalah kampung halamanku, sebuah pulau yang tak kusadari adalah pulau bersejarah dunia yang diperebutkan dua kerajaan katolik besar di dunia kala itu yakni Spanyol dan Portugis. Ketertarikanku memuncak usai mengetahui bahwa Rempah dunia berasal dari tanah yang subur ini, tanah leluhurku, tanah yang penuh dengan darah para perompak dan pribumi tak berdosa. Dari sinilah aku menyukai sejarah dan senantiasa memandang setiap tempat bak mesin waktu mengembalikanku ke masa yang pada hari ini sangat kupelajari dengan baik.

Identitas Maluku yang penuh misteri di kota Makassar 

Sejak kepindahanku  melanjutkan kuliah di Makassar (2005), ada hal menarik sepanjang aku merantau di sini. Ya, aku menemukan sisa identitas Maluku yang sampai hari ini tak mampu di tafsir oleh masyarakat setempat. Seperti halnya sebuah tempat di pesisir barat Makassar bernama Kampung Maloku yang kini menjadi salah satu kelurahan di kota ini. Demikian pula seorang misterius yang sangat dihormati di kampung itu yang mereka percayai merupakan orang besar asal Maluku yang pernah berjasa di daerah itu. Makamnya tepat di belakang sebuah masjid kuno yang tepat berdiri di tengah kelurahan kampung Maloku itu. Masyarakat setempat yang tak tahu siapa sebenaranya dibalik makam itu menyebutnya dengan nama Karaeng Malokua. Sejak melihat keunikan ini, hati saya tergerak mencari tahu siapa, apa, dan bagaimana bisa identitas Maluku bisa hadir di kota yang pernah terkenal sebagai kota bandar dunia di abad 15 ini.

Berawal dari tahun 1511

Pada tahun 1511, Malaka yang kala merupakan pusat pasar (bandar) dan ekspor rempah dunia runtuh total akibat gempuran Portugis. Kekalahan Malaka mengakibatkan krisis global sebab lumpuhnya perdagangan rempah dunia terutama ke Barat. Sontak harga rempah meningkat dan merangsang para pelaut Eropa ke timur tuk mencarinya langsung. Tapi mereka lupa, meskipun Bandar Malaka runtuh, Pakuan Pajajaran di bawah kuasa Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja (1482-1521) dan para keturunannya beserta para niagawan Islam kala itu masih memegang peranan terhadap ekspor rempah dan memainkannya di Jawa, sontak Jawa kembali menggeser Bandar Malaka menjadi Bandar utama kala itu. 

Kerajaan Demak yang saat itu didirikan dan dipimpin seorang pangeran dari Majapahit berdarah Tiong Hoa Muslim bernama Jim Bun alias Raden Patah pun tak kalah saing memainkan peran penguasaan maritim kala itu, namun ekstrim ketika dibawah Demak dibawah kepemimpinan menantunya Yan Tsun alias Raden Muhammad Yunus (Patih Yunus), Yunus mengikrarkan Jihad dan menghardik Portugis di Malaka, tragis Demak kalah dan kembali dengan hampa.

Konflik yang menguntungkan bagi kerajaan Gowa

Dibalik perseteruan penguasaan kawasan jalur rempah Jawa-Malaka, mereka lupa bahwa Gowa dan Tallo (Sulawesi Selatan) sedang berkembang menjadi pusat pasar rempah baru dan jauh lebih maju. Di sana harga rempah jauh lebih murah dan dijamin keamanannya oleh pihak Gowa dan Tallo yang bergabung membentuk sebuah kerajaan afiliasi bernama Kesultanan Makassar di bawah pimpinan Sultan Alauddin (1593) yang juga merupakan raja Gowa ke-14. Pelabuhan Makassar (Pao Tere) menjadi pelabuhan teramai kala itu dalam menerima pasokan rempah cengkeh dan Pala yang didatangkan dari pedagang Maluku ke kota ini. Bandar yang baru ini dikenal dengan nama Bandar Makassar.

Pengabdian muslim melayu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun