Mohon tunggu...
Fathurrachman Zuhdi
Fathurrachman Zuhdi Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (NIM 20107030044)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, NIM 20107030044. Sedang menempuh masa perkuliahan semester 2 di tahun ajaran 2020/2021. Akun Kompasiana ini saya buat untuk menunjang pembelajaran jurnalistik selama perkuliahan, khususnya dalam mengasah kemampuan menulis saya.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Fenomena "Honor Killing": Membunuh Demi Kehormatan yang Terbunuh

6 Maret 2021   19:55 Diperbarui: 7 Maret 2021   19:13 187 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fenomena "Honor Killing": Membunuh Demi Kehormatan yang Terbunuh
bbc.com

Manusia diciptakan oleh Tuhan dan diberikan akal. Berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain, seperti hewan maupun tumbuhan yang diberikan otak tanpa akal. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diberikan akal, sudah selayaknya manusia sebagai makhluk sosial memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya di lingkungan sosial.

Berbicara mengenai sosial, tidak jauh dengan istilah budaya maupun tradisi yang terjadi di setiap lingkungan sosial yang ada di dunia. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), budaya dapat dimaknai sebagai sebuah akal budi maupun adat istiadat. Jika diartikan dari tata bahasa kata kebudayaan, pengertian budaya merujuk pada pola pikir manusia. Sedangkan, tradisi menurut KBBI ialah adat atau kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun yang masih dilaksanakan oleh sekelompok orang atau masyarakat.

Lalu, apa perbedaan diantara budaya dan tradisi? 

Seperti yang dilansir dalam PremptiveLove.org dalam artikelnya berjudul The Difference Between Culture and Tradition  dijelaskan bahwa budaya menggambarkan tentang karakteristik bersama dari keseluruhan kelompok yang ada. Sedangkan, tradisi menjelaskan tentang kepercayaan maupun kebiasaan dari suatu kelompok, dan itu sudah terlaksana secara turun temurun. Sebagai contoh, ketika memasuki rumah, baik anak-anak maupun orang tua di Indonesia memiliki tradisi mengucapkan salam sebelum memasuki rumah dan mencium tangan kepada orang yang lebih tua, hal ini pun menurun dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut dilaksanakan demi menjunjung tinggi budaya di Indonesia yaitu sopan santun.

Apa hubungannya dengan “Honor Killing”?

“Honor Killing” adalah pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga kepada anggota keluarganya yang lain yang diyakininya telah merusak kehormatan atau telah melanggar prinsip yang telah ditetapkan keluarganya atau telah melanggar tradisi, budaya, norma atau aturan sosial maupun agama yang diyakininya. Pembunuhan dengan beralaskan 'mempertahankan kehormatan' ini bukanlah hal yang asing bagi beberapa kelompok masyarakat. Menurut Hillary Mayell, seorang jurnalis di National Geographic, tiap tahun ada ribuan kasus pembunuhan wanita oleh keluarga mereka sendiri yang mengatasnamakan kehormatan keluarga.

Jika dilihat secara kualitatif dari sebabnya, “Honor Killing” ini disebabkan oleh adanya “Toxic” atau sifat “racun” dalam berbudaya maupun berkeyakinan, dimana si penganut sangat mempertahankan apa yang ia yakini sehingga apapun yang melanggarnya akan ia respon dengan cara yang ekstrim, apalagi jika itu dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri. “Toxic” ini berlandaskan nilai-nilai patriarki dalam rumah tangga atau keluarga sehingga korban adalah anggota keluarga yang sama dengan pelaku dan disebabkan adanya nilai ketidaksetaraan hak dalam kehidupan berkeluarga.

Salah satu Fenomena “Honor Killing” di Britaniya Raya

Fenomena ini terjadi oleh seorang anak perempuan bernama Henshu yang dibunuh oleh bapaknya sendiri yang bernama Abdalla Yones. Ia dibunuh dengan digorok tenggorokannya karena sang bapak meyakini bahwa anaknya telah bersikap “kebarat-baratan”. Keluarga mereka adalah pengungsi dari Irak yang melarikan diri dari rezim Saddam Hussein dan mengungsi ke Inggris. Pembunuhan ini terjadi di Britania Raya pada tahun 2002, ketika itu Yones mengetahui bahwa anaknya, Henshu, tengah memiliki pacar. Henshu yang sejak kecil mendapatkan pendidikan barat di Inggris menganggap bahwa memiliki pacar adalah hal yang lumrah. Akan tetapi, Yones, sang ayah meyakini bahwa punya pacar itu tidak sesuai dengan agama keluarga dan dianggap sebagai “aib” karena ketidakserasian dengan budaya mereka. Terlebih lagi, pacarnya Henshu memiliki agama yang berbeda dengannya. Hal itu membuat Yones memukuli dan menendangi Henshu dalam jangka waktu yang tidak singkat, yaitu berbulan-bulan. Singkat cerita, Yones mendapatkan surat dalam bahasa Kurdi yang mengatakan bahwa kelakuan Henshu seperti pelacur. Yones meledak dan akhirnya menusuk Henshu berkali-kali lalu  menggorok lehernya. Abdalla Yones dijatuhi hukuman seumur hidup dan dinyatakan bersalah.

“Honor Killing” Telah Merenggut Banyak Jiwa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN