Mohon tunggu...
Fatmi Sunarya
Fatmi Sunarya Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pujangga

Penulis Sederhana - Penjelajah Buana - Kompasianer Teraktif 2020 "DILARANG MEMUAT ULANG ARTIKEL UNTUK TUJUAN KOMERSIAL 😡"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Proses Menuju Pernikahan dalam Adat Kerinci

15 Juli 2021   08:49 Diperbarui: 16 Juli 2021   10:16 712 79 23 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Proses Menuju Pernikahan dalam Adat Kerinci
Pengantin Kerinci, Sumber foto Ollyn/Dokumentasi pribadi

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan mempunyai naluri atau keinginan untuk hidup bermasyarakat dan juga melanjutkan keturunan. Melanjutkan keturunan tentunya melalui pernikahan. Di Kerinci, sebuah negeri di Provinsi Jambi, Sumatra, untuk menuju pernikahan melalui jenjang atau tahapan. 

Suku Kerinci memandang perkawinan di dalam lingkungan atau kerabat lebih diutamakan, dibandingkan dengan perkawinan di luar kerabat. Namun seiring zaman, suku Kerinci lebih terbuka dan tidak ada larangan untuk menikah dengan di luar kerabat ataupun di luar suku Kerinci.

Suku Kerinci mengenal beberapa tahap dalam mencari jodoh menuju pernikahan, pertama adalah berkenalan atau bamudo. Kalau di zaman sekarang dikenal dengan berpacaran. Dimana pasangan saling mengenal sifat dan juga keluarga masing-masing. Jika terdapat kecocokan akan dilanjutkan dengan proses batuek (bertanya, bahasa Kerinci) atau melamar.

Batuek atau melamar, pihak pria dengan melalui orang ketiga sebagai utusan akan menyambangi rumah pihak wanita. Proses ini juga dikenal dengan istilah Undain Bajaleang (runding sedang berjalan, bahasa Kerinci). 

Dalam proses batuek ini, orangtua pihak wanitalah mempunyai hak untuk menolak dan menerima. Jika orangtua pihak wanita menerima maka akan dilanjutkan dengan pertemuan kedua orangtua. Pada proses ini, sudah mulai membicarakan hal-hal yang serius untuk persiapan pernikahan.

Tahap selanjutnya adalah pemberitahuan kepada Tengganai. Tengganai dalam adat Kerinci adalah saudara laki-laki dalam keluarga pihak Ibu. Karena suku Kerinci menganut sistem matrilineal mengikuti alur keturunan berasal dari pihak Ibu. 

Pihak pria dan pihak wanita memberitahu kepada tengganainya masing-masing tentang rencana pernikahan. Tengganai mempunyai hak menyetujui dan juga menolak rencana pernikahan tersebut. Tentu saja harus dengan pertimbangan yang benar.

Setelah masing-masing tengganai kedua belah pihak menyetujui barulah berlanjut pada proses bertemunya kedua tengganai masing-masing pihak. Acara ini dikenal dengan nama temu ahak

Kedua tengganai akan membicarakan acara pernikahan yang akan digelar. Mulai perundingan tentang kapan hari pernikahan, biaya dan segala sesuat persiapan pernikahan.

Pertemuan tengganai, Sumber foto Zulfani/Dokumentasi pribadi
Pertemuan tengganai, Sumber foto Zulfani/Dokumentasi pribadi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN