farid wong
farid wong

hanya lelaki yang kebetulan lewat, sama sekali tak hebat, tapi suka bersahabat

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Ketika Gugun Blues Shelter Berbagi Panggung dengan Perupa Yogya

10 Oktober 2017   21:41 Diperbarui: 11 Oktober 2017   02:36 1182 1 1
Ketika Gugun Blues Shelter Berbagi Panggung dengan Perupa Yogya
Gugun Blues Shelter [Foto: Farid Wong]

Kemarin sore hingga malam, langit di atas Sangkring Art Space Yogyakarta memang dipenuhi awan, tapi ternyata tak berbuah hujan. Tentunya ini patut disyukuri, karena telah memberi kelancaran dan kemeriahan pada acara yang dihelat galeri seni itu, Senin (9/10).

"Ngeblues di Sangkring." Begitulah judulnya, yang poster acaranya baru tersebar di media sosial sehari sebelum acara digelar. "Acaranya memang mendadak," tutur Putu Sutawijaya, sang pemilik galeri, sekaligus perupa  yang belum lama ini memperoleh Anugerah Budaya dari pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Katanya, acara tersebut hasil senggol antarkawan yang akhirnya menyenggol grup musik blues top tanah air, Gugun Blues Shelter (GBS), yang kebetulan usai berpentas di Yogya.

Fajar, Bowie dan Gugun dalam acara bincang-bincang sebelum pentas. [Foto: Farid Wong]
Fajar, Bowie dan Gugun dalam acara bincang-bincang sebelum pentas. [Foto: Farid Wong]

Pentas musik ini diawali dengan bincang-bincang santai pada sore harinya, dengan menghadirkan tiga personil GBS, yakni Gugun (gitar), Fajar (bas) dan Bowie (drums). Sejumlah pertanyaan muncul dari audiens bincang-bincang, yang dijawab secara bergantian oleh ketiga personil tersebut. Mereka membincangkan berbagai hal berkait perkembangan musik blues di Indonesia sampai bagaimana bisa survive di jalur musik tersebut.

Usai bincang-bincang, pentas musik blues langsung digelar sampai malam. Jogja Blues Forum (JBF) tampil sebagai grup pembuka, yang secara berurutan disusul oleh kelompok Ikhlas Experience, Jeron Beteng (JB) Blues, Bright Size Trio (BST), dan dipungkasi dengan performance dari GBS. Hanya GBS yang berasal di Jakarta, yang lain berbasis di Yogyakarta.

Bright Size Trio [Foto: Farid Wong]
Bright Size Trio [Foto: Farid Wong]

Sudah barang tentu semua menampilkan materi musik blues. Namun melalui kreativitas dan energi masing-masing grup, mereka membawa blues ke berbagai arah dengan beragam rasa. Blues menjadi sangat menarik di tangan mereka, bahkan sungguh menghibur dan enak dinikmati.

Kita bisa melihat aksi JB Blues dengan barisan tiup (trumpet, saxophone dan trombone), yang menjadikan penampilan mereka kian atraktif. Lengkingan gitar elektrik yang secara kreatif bersahutan dengan brass section membuat penonton sulit untuk tidak bergoyang.

JB Blues [Foto: Farid Wong]
JB Blues [Foto: Farid Wong]

BST, yang baru saja menuntaskan tur mereka ke empat negara di Eropa, sudah pasti menyuguhkan rasa yang lain karena memiliki adonan "bumbu-bumbu" khas mereka. Tampil dengan format trio, grup yang relatif baru dari Kota Gudeg ini mampu bereksplorasi sampai pada latar bermusik masing-masing personil. Tarikan gitar yang ngeblues dan ngerock dari Angga yang ditimpali dengan cabikan bas Yabes yang kadang-kadang terasa jazzy, serta gebukan drums Endi yang sesekali mirip rampak gendang, menjadikan karya mereka lebih kaya warna.

Yang sekiranya lebih istimewa dari event bermutu yang gratis ini adalah kehadiran tiga perupa, yakni Samuel Indratma, Joseph Wiyono dan Bambang Herras, yang secara langsung melukis aksi para penampil. Mereka melukisnya di atas lembar kertas, dan hasil goresan mereka diberikan kepada setiap grup.

Samuel Indratma melukis aksi panggung sebuah grup. [Foto: Farid Wong]
Samuel Indratma melukis aksi panggung sebuah grup. [Foto: Farid Wong]

Bambang Herras melukis penampilan GBS di kanvas besar. [Foto: Farid Wong]
Bambang Herras melukis penampilan GBS di kanvas besar. [Foto: Farid Wong]

Ketika GBS -- yang dijuluki sebagai trend setter musik blues di Indonesia saat ini -- tampil memuncaki acara dengan sejumlah lagu yang diambil dari album-album mereka, Bambang Herras melukisnya di sebuah kanvas berukuran relatif besar. Ia bak berbagi panggung dengan kelompok musik blues kenamaan itu. Sementara Gugun dan kawan-kawan menyuguhkan karya-karyanya untuk menghibur penonton, Bambang terlihat sibuk berkarya dengan menyapukan kuasnya di kanvas.

"Ini peristiwa yang langka," ujar Bambang Herras di hadapan penonton seusai penampilan GBS. Mungkin benar apa kata Bambang, karena baru pertama kali ini perupa berbagi panggung dengan pemusik blues. Dan peristiwa ini sungguh-sungguh terjadi di Sangkring Art Space. Makanya, "Ngeblues di Sangkring" diharapkan bisa menjadi acara rutin, entah mingguan, entah bulanan. Semoga.