Mohon tunggu...
Fariastuti Djafar
Fariastuti Djafar Mohon Tunggu... Dosen - Pembelajar

Pembelajar sepanjang hayat, Email:tutidjafar@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Rusen, Dare Sage dan Sungai Singkawang

29 Maret 2019   06:20 Diperbarui: 29 Maret 2019   07:41 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Acara deklarasi Rusen. Undangan, Ketua Rusen, Pemadam Kebakaran dan Pengucapan Deklarasi. Sumber: Rusen

Sungai seharusnya identik dengan air, namun fakta tidak selalu demikian. Sungai bisa saja tak lebih dari aliran pada dataran rendah, dengan lumpur yang mengeras karena sungai yang kering dan sampah yang berserakan.  Kondisi ini dapat dilihat di sungai yang membelah kota Singkawang. Tahun demi tahun berganti tanpa perubahan berarti (Sungai Singkawang Merana).

Jika di cek di Google, berita dengan kata kunci "lapangan terbang" dan "pemerintah Kota Singkawang" lebih sering muncul daripada "sungai" dan "pemerintah Kota Singkawang". Lapangan terbang tampaknya dipandang lebih keren dan dianggap sebagai simbol kemajuan daerah daripada kebersihan lingkungan termasuk sungai dan sekitarnya.  Cara pandang tersebut merupakan ciri khas masyarakat negara berkembang, yang berbeda dengan cara pandang masyarakat negara maju, yang lebih melihat kebersihan termasuk kebersihan sungai sebagai indikator kemajuan. 

Keprihatinan terhadap Sungai Singkawang memunculkan ide bagi Kang Hana sebagai anggota  komunitas Ritual Untuk Singkawang Ekspresi Nusantara (Rusen), untuk memperingati Hari Air Dunia yang jatuh pada 22 Maret. Rusen mengundang para  Calon anggota legislatif (Caleg) Singkawang dari berbagai partai untuk diskusi tentang Sungai Singkawang pada 24 Maret. Harapannya nanti, khususnya bagi para Caleg terpilih, dapat membantu perjuangan komunitas Rusen guna menciptakan lingkungan yang bersih bagi Singkawang termasuk mewujudkan Sungai Singkawang yang bersih dengan tata kelola yang efektif.

Suasana peringatan Hari Air. Pidato Kadis LH (atas), undangan dan kondisi terbaru Sungai Singkawang (bawah). Sumber: Rusen
Suasana peringatan Hari Air. Pidato Kadis LH (atas), undangan dan kondisi terbaru Sungai Singkawang (bawah). Sumber: Rusen
Acara ini dihadiri oleh Ibu Emi Hastuti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Bapak H. Rustam Kepala UPT Pengelolaan Sampah, dan Bapak Rizki dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga. Acara dirangkai dengan musikalisasi puisi oleh kelompok 'Pelagu Sastra Singkawang" yang terdiri dari para anak muda di kota tersebut. Mereka membacakan puisi karya Pradono, aktivis seni budaya Kalimantan Barat kelahiran Singkawang.

Puisi karya Pradono. Sumber: Pradono
Puisi karya Pradono. Sumber: Pradono
Acara Hari Air didukung oleh Tavip Putra Purba, Tio Nurita, Alfa Dhe, Sumberanto Tjitra, Tina Laila dan Em Abdurrahman. Caleg yang hadir adalah Edylius Sean dari PSI, Rita Keyra Soerachmat dari Perindo, Nurhasanah dari PPP, Iin dari Gerindra, Tavip Putra Purba dari Demokrat dan Eko dari Hanura.

Puisi karya Pradono. Sumber:Pradono
Puisi karya Pradono. Sumber:Pradono
Adapun Rusen dideklarasikan pada 28 Oktober 2018. Rusen muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap masalah lingkungan di Singkawang. Hal tersebut jelas sekali terlihat dari kondisi sungai yang dangkal dan kotor di tengah kota sehingga tak akan luput dari pandangan mata baik warga setempat maupun pendatang.

Visi Rusen adalah "alam asri dan lestari, disayangi oleh manusia yang bahagia, sejahtera dan berbudaya ". Sementara itu misi  Rusen adalah "membangkitkan semangat cinta lingkungan, cinta antar manusia, dan cinta Nusantara melalui berbagai ritual komunitas".

Acara deklarasi Rusen. Undangan, Ketua Rusen, Pemadam Kebakaran dan Pengucapan Deklarasi. Sumber: Rusen
Acara deklarasi Rusen. Undangan, Ketua Rusen, Pemadam Kebakaran dan Pengucapan Deklarasi. Sumber: Rusen
Cikal bakal Rusen berasal dari keprihatinan Abdul Rani, pemuda yang lahir dan besar di Singkawang, terhadap Sungai Singkawang yang kotor dan tak terurus.  Abdul Rani tamatan SMA Soeltan Moehammad Tsjafioeddin Singkawang adalah seorang yang berjiwa seni, hobi menulis puisi dan  mencipta lagu. Salah satu lagu hasil ciptaannya berjudul "Singkawang di Awang Awang" berisi kritik terhadap Singkawang yang dijuluki kota pariwisata walau sampah berserakan di mana-mana.

Abdul Rani pernah membintangi film pendek yang dilombakan pada tingkat nasional. Haus akan ilmu mendorong beliau untuk rajin membaca. Abdul Rani pernah mendapat penghargaan sebagai "pengunjung perpustakaan paling aktif" dari Perpustakaan Daerah Singkawang. Sebagai orang yang berjiwa seni, Abdul Rani mencoba menarik perhatian masyarakat terhadap Sungai Singkawang dengan  menciptakan kisah "Selendang Dare Sage".

Dare Sage digambarkan sebagai mahluk halus penunggu Sungai Singkawang. Dare dalam Bahasa Melayu Sambas berarti gadis sedangkan "sage" merupakan singkatan dari disayang dan dijage (Bahasa Indonesianya "dijaga"). Dare Sage si penunggu sungai, berteman dengan seorang manusia bernama Budi. 

Dare Sage sangat prihatin dengan sikap manusia yang merusak dan mengotori Sungai Singkawang sehingga meminta Budi untuk merawat sungai tersebut. Atam, mahluk halus lain penunggu Sungai Singkawang cemburu melihat kedekatan antara Budi dan Dare Sage. Sebagai bukti tidak ada hubungan selain pertemanan, Atam meminta Budi untuk membuat rumah di hulu Sungai Singkawang dalam bentuk rumpun bambu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun