Mohon tunggu...
Jamalludin Rahmat
Jamalludin Rahmat Mohon Tunggu... HA HU HUM

JuNu_Just Nulis_

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Buku Nyaris Mati: Refleksi Memperingati Hari Buku Sedunia 23 April 1995-23 April 2020

29 April 2020   10:54 Diperbarui: 29 April 2020   10:57 49 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Buku Nyaris Mati: Refleksi Memperingati Hari Buku Sedunia 23 April 1995-23 April 2020
Illustrated by shutterstock

Janganlah rumahmu dijadikan kandang lantaran hanya roti dan air yang tersedia dengan mudah. Sediakan pula buku di seluruh pelosok rumahmu sehingga apabila ruhanimu haus dan lapar akan dapat dengan mudah mendapatkan minuman dan makanannya_Ali Syari'ati_Intelektual Islam Iran_

Melacak Asal Usul Hari Buku Sedunia

Unesco menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta. Ini merupakan perayaan tahunan. Mengutip dari Tribunstyle.com, Vicente Clayel Andres, penulis dari Valencia di tahun 1923 memberi ide untuk menghargai penulis Miguel de Carventes yang wafat di tanggal 23 April 1923 itu. Di Catalunya, Spanyol para pedagang buku merayakannya dengan pemberian buku dan kegiatan-kegiatan lain karena menerima ide Vicente.  

Tahun 1995, Unesco mengadakan pertemuan untuk berunding suatu masalah yang dihadapi dan diselesaikan bersama (konferensi) di Paris. Hasilnya tanggal 23 April ditetapkan sebagai Hari Buku Sedunia bersebab di tanggal itu ada beberapa sastrawan dunia ternama yang wafat. Diantaranya sastrawan asal Spanyol bernama Carventes dan Shakespeare asal Inggris. Pun di tanggal 23 April, beberapa orang sastrawan atau penulis besar dunia lainnya dilahirkan seperti Maurice Druon, Haldor K. Laxness, Vladimir Nabokov, Josep Pla dan Manuel Mejia Vallejo meskipun tahun yang berbeda.

Tulisan ini merupakan puzzle yang coba disatukan atas tiga peristiwa namun memiliki benang merah yang sama yaitu tentang lumpuhnya tradisi untuk membaca dan menulis, juga lunglainya fungsi dan eksistensi sebuah buku --mengutip sketsa Jack the Ripper--.

Peristiwa pertama. Di pagi hari sebelum pelajaran dimulai di maka si dosen mengabsen satu per satu mahasiswa/i di dalam lokal. Setelah selesai mengabsen maka si dosen tadi bertanyalah kepada mahasiswa/i "Siapa yang sudah membaca satu buku selama seminggu ini dan tamat? Dan tak satupun yang menjawab." Bertanyalah lagi "Siapa yang sudah membaca buku sebanyak 20 atau 10 halaman selama seminggu ini? Dan yang mengangkat tangan hanya tiga orang." Jumlah mahasiswa/i di lokal itu 22 orang.

Peristiwa kedua. Agnes Aristiarini menulis di Koran Kompas bertanggal 25/4/2018 berjudul "Buku Pemicu Nalar." Ada tiga hal yang disorot dalam tulisan Agnes Aristiarini.

Pertama. Fenomenalnya buku Magic Tree House. Tahun 1992 buku ini diluncurkan dan sudah terjual lebih dari 130 juta buku di berbagai dunia dan diterjemahkan ke 33 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Buku Magic Tree House ditulis oleh Mary Pope Osborne berisikan tentang petualangan. Buku ini tidak hanya mendapatkan penghargaan seri buku terlaris, tetapi juga seri buku terbaik pilihan orangtua, guru maupun pustakawan. 

Melalui dua bersaudara berusia 8 dan 7 tahun yang bernama Jack dan Annie maka anak-anak dapat dikenalkan dengan dinosaurus, bangsa Viking, ninja, bahkan merasakan letusan Gunung Vesuvius di Pompeii (Italia). Di lain kali, mereka bertemu tokoh-tokoh penemu yang berkontribusi mengubah peradaban dunia dengan ilmu yang mereka miliki seperti Alexander Graham Bell, Thomas Alfa Edison, Louis Pasteur dan Gustave Eiffel.

Kedua. Oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Persyarikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) setiap tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku.

Di Inggris dan Irlandia, Hari Buku merupakan peristiwa penting dan dihargai dengan cara anak-anak diajak menjelajahi imajinasi dan menikmati dunia baca, sekaligus membuka peluang agar anak-anak gemar membaca dan memiliki buku sendiri. Di Indonesia beberapa orang tua menjejali anak dengan gadget, smartphone, tablet yang berisikan permainan/games.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN