Mohon tunggu...
Faiz Romzi Ahmad
Faiz Romzi Ahmad Mohon Tunggu... Wiraswasta

Menulis adalah tanda bahwa kau pernah hidup

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Menyikapi Pasca Pilpres, Cebong-Kampret Harus Belajar dari Lagu-lagu Nasida Ria

24 Mei 2019   16:14 Diperbarui: 24 Mei 2019   16:16 0 3 0 Mohon Tunggu...
Menyikapi Pasca Pilpres, Cebong-Kampret Harus Belajar dari Lagu-lagu Nasida Ria
Nasida Ria

Sebelumnya artikel ini sudah saya kirim dan dimuat di mojok.co dengan atas nama penulis Faiz Romzi Ahmad (saya pribadi), kamu bisa kunjungi artikel yang sama di sini.

Dan kali ini saya akan mencoba mengirim ulangnya dikompasiana, agar sahabat-sahabat kompasianer bisa membacanya

__________

Siapa yang tak kenal Nasida Ria? Bagi yang di rumahnya dan emaknya adalah salah satu fans berat dengan memutar lagunya di radio tape atau pemutar musik kesayangannya di tiap pagi, siang, sorenya tentu tidak asing mendengar ataupun melihat formasi ibu-ibu lengkap dengan alat musiknya berlatar pemandangan pegunungan ataupun pesawat tempur sembari mendendangkan alunan nasyidnya.

Ya, Nasida Ria adalah sebuah grup qasidah yang pamor pada era 1980 an sampai medio 2000 an. Grup qasidah yang keseluruhan personelnya adalah ibu-ibu. Anjay~

Grup qasidah ini khas dengan penampilannya dipanggung bagai hendak pergi ke pengajian rutin di kampung setiap malam Selasa serta setelan make up yang hits pada zamannya.

Dari sejak berdirinya hingga sekarang total 35 album yang berhasil mereka keluarkan dan 350 an lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu mereka tidak hanya berkaitan dengan dakwah semisal Nabi Muhammad Mataharinya Dunia.

Tapi juga menyinggung permasalah sosial semisal keadilan, juga tentang pers semisal Wartawan Ratu Dunia, Dunia Dalam Berita, isu-isu peperangan semisal Bom Nuklir, Perdamaian dan juga lagu-lagu persatuan semisal Persaudaraan, Merdeka Membangun, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tahun 1975 adalah awal berdirinya Nasida Ria, terhitung dari tahun itu Indonesia sudah melakukan Pemilu sebanyak 10 kali, 5 kali di Orde Baru (1977, 1982, 1987, 1992,1997) dan 5 kali Era Pasca Orde Baru (1999, 2004, 2009, 2014, 2019).

Baru saja kita lalui pemilu serentak, hampir menginjak 1 bulan pasca 17 April, melihat kondisi dan fenomena pasca pemilu 2019,konflik diantara cebong dan kampret makin menemui titik klimaksnya. Bukannya dua faksi ini akur, mereka malah seperti dua magnet yang didekatkan tapi berlawanan kutubnya.

Fanatisme sempit dan egoisme masing-masing faksi ini yang menjadi perobek spirit kesatuan. Nampaknya mereka harus sering-sering memutar dan mendengarkan playlist Nasida Ria, agar pesan persatuan dari lirik-lirik lagunya bisa tersampaikan ke telinga mereka.

Lagu-lagu Nasida Ria jika diteliti menggunakan metode deskriptif-analitik dengan perjalanan konflik cebong dan kampret di pemilu 2019 sangat relevan sekali. Selain itu lirik lagu yang futuristik dan kompatibel sesuai dinamika zaman adalah alasan mengapa cebong dan kampret secara khusus, kita secara umum harus belajar dari lagu-lagu Nasida Ria untuk menyikapi Pasca Pemilu 2019 ini.

Lagu pertama, penggalan lirik, dan alasannya

Wahai manusia hidup di dunia
Siapa yang ingin panjang umurnya
Wahai manusia hidup di dunia
Siapa yang ingin banyak rizkinya
Bersilaturahmi agar tiada putus

Lagu yang pertama adalah berjudul Persaudaraan, lagu yang diciptakan oleh H Fadholi Ambar dan dibawakan Nasida Ria ini mengingatkan agar pasca pemilu ini untuk tidak memutuskan tali silaturahim walau sesama kita berbeda dukungan, jadi silaturahim antar cebong dan kampret harus terjaga ya, toh silaturahim memperbanyak rezeki, pesan itupun tegas dalam agama.

Dalam lirik, jelas bahwa Nasida Ria ingin menciptakan suatu tatanan masyarakat atau manusia Indonesia yang unity, bersatu dalam persaudaraan, tidak memutuskan tali silaturahim dan menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.

Kalau kata Gusdur sih jangan membeda-bedakan yang sama, dan jangan menyama-nyamakan yang beda. Bersatu dalam perbedaan, berbeda dalam persatuan (Unity in diversity, diversity in unity).

Lagu kedua, penggalan lirik, dan alasannya

masa depan penuh tantangan
masa depan penuh rintangan
masa depan penuh hambatan
masa depan penuh cobaan
namun di balik itu
penuh dengan harapan
oleh karenanya
perlu perjuangan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2