Mohon tunggu...
Fahrum Ahmad
Fahrum Ahmad Mohon Tunggu...

#indoGREENesia

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Pameran Produk Hasil Hutan 'Bukan' Kayu Pertama di Indonesia Sedot Perhatian Publik

2 April 2015   21:55 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pameran Produk Hasil Hutan 'Bukan' Kayu Pertama di Indonesia Sedot Perhatian Publik
14279863651955217670

[caption id="attachment_358797" align="alignright" width="300" caption="Para peserta pameran yang terdiri atas instansi pemerintahan, akademisi, dan NGO tengah melihat-lihat produk HHBK yang dipamerkan pada kegiatan yang diselenggarakan SCF di Hotel Kenari Makassar pada 1-2 April 2015 (Foto: Fahrum Ahmad)"][/caption] PRODUK HUTAN - Apa yang kira-kira terbesit dibenak ketika mendengar kalimat 'produk hutan'?. Kayu mungkin jadi hasil produksi hutan yang dominan dan secara umum diketahui masyarakat. Namun, tidak hanya itu ! - kekayaan alam dari hutan tidak terpaku pada jenis berkayu saja, ada banyak produk yang dekat dengan kita, yang berasal dari dalah hutan, dan bisa menjadi primadona. Beberapa diantaranya, rotan, bambu, aren hingga madu, merupakan produk hasil hutan 'bukan' kayu (HHBK). Hal ini dibuktikan pada pameran produk HHBK yang diselenggarakan Sulawesi Community Foundation (SCF) di Hotel Kenari Makassar pada 1-2 April 2015. Terlihat seluruh undangan yang berasal dari instansi pemerintahan, akademisi, dan beberapa organisasi non-profit (NGO) dari Sulawesi antusias menghadiri pameran pertama di Indonesia yang mengangkat 100% produk hasil hutan selain kayu. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Syukri Mattinetta mengungkapkan, potensi sumberdaya hutan selain kayu bisa menjadi alternatif untuk pengentasan kemiskinan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar hutan. "Produk seperti madu dan gula aren ini akan jadi salah satu andalan Sulawesi," ungkapnya. Kegiatan yang merupakan rangkaian dari 'workshop regional hutan dan kemiskinan' ini berupaya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sumberdaya hutan secara maksimal dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kelestarian hutan. Melalui pengelolaan kolaboratif yang multipihak antara masyarakat, NGO, pemerintah dan elemen lainnya, lahir optimisme bahwa pengentasan kemiskinan melalui sektor kehutanan bisa diwujudkan. Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 instansi pemerintah, NGO, dan akademisi, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diwakili oleh Direktur Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK, SKPD tingkat kabupaten se-Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, serta beberapa NGO dari 3 provinsi tersebut. Wiratno, Direktur PSKL mengungkapkan, dengan kemasan yang baik, tentu akan meningkatkan nilai ekonomi dari produk-produk hasil hutan. "Madunya bagus, unik dan saya rasa dengan tampilan seperti ini bisa bersaing di pasaran," ungkap Pak Wir, sapaan akrab Wiratno, saat diwawancarai medialingkungan.com. Dalam pameran tersebut, salah satu produk yang menyedot perhatian peserta adalah madu yang dipamerkan oleh Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM). Madu ini sangat unik karena berasal dari ekosistem hutan karst Kabupaten Maros - yang merupakan karst terbesar kedua di dunia. "Madu ini unik dan berbeda dengan madu lainnya, sekalipun berasal dari dalam hutan. Bukit Kkarst Maros di tumbuhi oleh beragam tumbuhan lokal sehingga aroma, rasa, dan teksturnya berbeda," kata Direktur TLKM, Ichwan. Menurut Ichwan, madu karst ini memiliki prospek yang baik karena pendampingan yang dilakukannya selama ini membuahkan hasil yang optimal. Proses pendampingan mulai dari pengambilan madu secara konservatif dan pengolahan hingga pengemasan dilakukan berdasarkan perspektif  sustainability, sehingga ia berharap madu ini bisa menjadi peluang dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan pada sektor kehutanan. TLKM juga mengakui, kapasitas masyarakat masih perlu ditingkatkan untuk produksi secara komersil. "Untuk itu, pemerintah juga harus mendukung melalui regulasi agar negara betul-betul hadir sebagai jembatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat," ujar Ichwan.