Mohon tunggu...
Fahrul Rizal bin Iskandar
Fahrul Rizal bin Iskandar Mohon Tunggu... Peminat Sejarah Kuno

Dilahirkan dan menyelesaikan pendidikan sampai lulus SMA di Banda Aceh, melanjutkan pendidikan S1 Teknik Perminyakan di Yogyakarta kemudian memperoleh kesempatan kembali ke Banda Aceh untuk menyelesaikan S2 Ilmu Ekonomi dengan beasiswa Bappenas. Peminat sejarah peradaban manusia, memiliki perhatian khusus pada sejarah peradaban Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Keindahan Kubah Emas di Tengah Paru-paru Dunia

19 Maret 2019   06:54 Diperbarui: 19 Maret 2019   07:14 122 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Keindahan Kubah Emas di Tengah Paru-paru Dunia
Instagram.com/irani_john_kapoor

Siapa yang tak pernah mendengar tentang Taman Nasional Gunung Leuser? Ya, itulah salah satu tempat dimana satwa liar seperti Gajah, Badak, Harimau Sumatera, dan Orangutan masih hidup bersama. Bahkan kabarnya Direktur Program Konservasi Orangutan Sumatera, Dr. Ian Singleton mengatakan bahwa bila Hutan Amazon Amerika Selatan disana telah dilabeli sebagai paru paru dunia maka Ekosistem Leuser sepatutnya dijuluki sebagai jantung dunia.

Instagram.com/kutacane.acehtenggara
Instagram.com/kutacane.acehtenggara
Kutacane dahulunya sebelum menjadi ibukota kabupaten hanya merupakan sebuah desa kecil di pedalaman wilayah Kesultanan Aceh hingga awal abad 20. 

Namun kegigihan para penghulu untuk mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan mereka yang sedang terancam selama Perang Aceh-Belanda, telah memaksa Van Daalen selaku Panglima Ekspedisi Belanda di Tanah Alas pada tahun 1904 membangun tangsi tangsi militer disekitar Kutacane sekarang.

Suasana pagi hari (dok.pri)
Suasana pagi hari (dok.pri)
Ketika revolusi kemerdekaan, rakyat Alas bersama para penghulunya sekali lagi membuat kelabakan tentara Belanda yang menduduki Tanah Karo, Dairi, dan Deli Serdang. 

Suksesnya konsolidasi dengan bala bantuan dari daerah lainnya di Aceh beserta para pejuang setia dari tiga daerah yang telah dikuasai Belanda tersebut, berulang kali pertahanan musuh di wilayah Sumatera Utara sekarang itu mendapatkan serangan dahsyat dari Kutacane.

Penjaja aneka dagangan diseputaran mesjid pada malam hari (dok.pri)
Penjaja aneka dagangan diseputaran mesjid pada malam hari (dok.pri)

Diantara tempat bersejarah yang menjadi saksi perjuangan ini adalah Mesjid Agung At-Taqwa yang terletak di pusat kota Kutacane. Cikal bakal mesjid ini dahulunya merupakan bangunan sederhana beratapkan daun yang sudah berdiri ketika Van Daalen menginjakkan kakinya pertama kali di tempat ini.

Bentang alam kutacane dari udara (dok.pri)
Bentang alam kutacane dari udara (dok.pri)
Kalau Van Daalen dipaksa untuk berjalan kaki menyeberangi sungai sungai, maka menjangkau Kutacane saat ini tidak lagi mesti dengan jalur perjalanan darat, terdapat juga jalur udara dari Medan maupun dari Banda Aceh. 

Jadi bagi traveler yang tidak sabar dengan perjalanan darat dapat memilih moda transportasi udara, namun harus menentukan jadwal keberangkatan yang tepat karena rute penerbangan kesini tidak dilayani setiap hari.

Tiba di Kutacane dengan Pesawat Udara (dok.pri)
Tiba di Kutacane dengan Pesawat Udara (dok.pri)
Secara topographi Kutacane merupakan lembah yang dikelilingi oleh barisan pegunungan yang tinggi menjulang. Pantas saja secara alamiah bila banyak sungai-sungai deras baik besar maupun kecil yang seakan mengepung Ekosistem Leuser.

Gambaran sungai dari atas bukit kecil (dok.pri)
Gambaran sungai dari atas bukit kecil (dok.pri)
Sisi yang lain sungai dari bukit yang sama (dok.pri)
Sisi yang lain sungai dari bukit yang sama (dok.pri)
Untuk jenis kuliner hasil alamnya jangan pernah lupa untuk mencicipi nikmatnya durian lokal atau ranumnya salak langsung dari pohonnya dan ditemani teh nira Kutacane yang melegenda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x