Mohon tunggu...
Evaristus Cahya
Evaristus Cahya Mohon Tunggu... Guru - Menulis bagian dari hobiku.

Belajar kapan saja, di tempat manapun juga, dan sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Belajar dari Kearifan Lokal

31 Agustus 2021   09:30 Diperbarui: 31 Agustus 2021   09:34 111 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bijak dalam Hidup (dokpri)

" Dadia uwong ki sing gemi, nastiti, lan ngati-ati."  Itulah kalimat yang masih terngiang dalam telingaku ketika mengenang ucapan dari simbahku. Kalimat sederhana tersebut menjadi kearifan lokal masyarakat Jawa yang wajib dilestarikan dan diterapkan dalam diri kita.  Bermakna hemat, cermat, dan hati-hati dalam berbagai kegiatan sehari-hari sehingga kita dapat mencapai harapan.

Mengapa kita perlu melakukan falsafah itu dalam kehidupan kita? Apa sih makna dari gemi, nastiti, lan ngati- ati? Semua orang bisakah untuk melakukannya? Yuk, berikut penjelasannnya sehingga kita bisa belajar untuk mengejawantahkan pernyataan baik tersebut.

Gemi bermakna  hemat. Hemat merupakan sifat rasa syukur atas nikmat  rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha .  Ketika mendapatkan pendapatan yang lebih perlu menyisihkkan sekian persen untuk ditabung, bukan malah menghamburkan semuanya.. Zaman sekarang budaya konsumerisme merebak di semua kalangan, tanpa kecuali. Budaya (Cash on Delivery (COD) menjadi gaya hidup manusia modern (bukan hal yang salah sih). Yang perlu kita renungkan, sudah bijakkah kita dalam mengelola rezeki kita? Sifat gemi tentu tetap menjadi pengeling-eling buat kita yang suka konsumerisme.

Nastiti bermakna cermat. Kata nastiti hampir sama dengan gemati. Kalau gemati, cermat dalam menjaga dan memelihara agar barangnya lebih awet, maka kata nastiti dalam menghitung suatu penghasilan dengan sangat cermat, supaya tidak merugi. Minimal seimbang dengan pengeluaran.  Syukur-syukur lebih dan dapat dipakai untuk menabung.

Ngati-ati artinya berhati-hati. Sikap berhati- hati sangat dibutuhkan dalam keseharian kita. saat kita berangkat sekolah, berangkat kerja sebaiknya berhati- hati di jalan. Selalu waspada akan kejadian yang bisa teralami tanpa terpikirkan. Mengingat kita sudah di jalan yang benar, tetapi tidak sedikit orang lain yang melanggarnya. Dalam bertutur kata pun kita wajib berhati-hati, ucapkan kalimat yang tidak melukai perasaan orang lain. Dengan demikian perasaan orang yang kita ajak bicara tidak tersinggung. Tidak asal bicara kalau tidak tahu dan tidak diminta. Itulah hal kecil tetapi jika tidak dibiasakan tak akan terjadi.

Mari, kita mulai dari diri sendiri untuk nguri-uri budaya gemi, nastiti, lan ngati-ati. Kelak anak cucu kita bisa merasakan dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan begitu dimanapun mereka berada, semoga akan selalu mengimbaskan kenyamanan dan ketenteraman hati bagi orang di sekeliling kita. Salam sehat.

Evaristus Cahya Triastarka/ Salatiga

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan