Mohon tunggu...
Eva Nurmala
Eva Nurmala Mohon Tunggu... karyawan swasta

Saya karyawan swasta yang gemar menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pendidikan dan Toleransi

14 September 2019   12:35 Diperbarui: 14 September 2019   14:20 0 1 1 Mohon Tunggu...
Pendidikan dan Toleransi
Sumber: sinarharapan.net

Beberapa pihak menyatakan bahwa melihat Indonesia kini, sebagian besar adalah melihat negara yang berada sangat dekat dengan radikalisme. Jika merujuk lebih dalam lagi, radikalisme berhulu pada intoleransi. Ya Indonesia kini dekat dengan intoleransi.

Kini intoleransi mencekeram sebagian besar dari relasi-relasi sosial di Indonesia. Juga pada sebagian politik dan birokrasi di negara ini. Dan lebih membahayakan adalah baha intoleransi juga merambah dunia pendidikan kita. Korbannya adalah anak didik dan mahasiswa yang masih belia. Kita tahu bahwa beberapa praktik intoleransi yang tidak terpuji terjadi di sekolah-sekolah. Bahkan seorang anak kelas tiga SD juga sering mengolok dengan keras agama temannya yang kebetulan non muslim dengan sebutan kafir.

Ini sangat berbahaya karena dalam usia belia itu, dia masih mencari jatidiri. Dia akan menemukan keyakinan pada orang-orang terdekatnya yaitu keluarga dan guru-gurunya di sekolah. Situasi ini tentu berbahaya karena jiwa seorang bocah dicecoki oleh faham-faham radikal tentu menjadikan situasinya amat memprihatinkan. Juga lingkungan sekitar faham itu tumbuh akan menjadi tidak toleran dalam arti tingkat toleransinya amat rendah.

Salah satu penyebab tumbuh suburnya kasus intoleransi di sekolah adalah sebagian besar tenaga pengajar adalah intoleran, padahal selama sekitar 5-9 jam sang siswa atau mahasiswa berlajar bersama dengan guru dan dosennya. Bahkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat  Universitas Islam Negeri Jakarta (PPIM-UIN) mengeluarkan survey soal keragaman di sekolah dan beberapa universitas di Indonesia. Hasilnya adalah 56,9 persen guru-guru TK hingga SMA di Indonesia memiliki opini intoleran. Bahkan kepala sekolah punya kecenderungan untuk menomorsatukan guru dari agama mayoritas saja, sedangkan minoritas tidak diprioritaskan.

Sebagian guru tidak bisa membedakan antara keyakinan pribadinya dengan nilai dasar yang harus ia ajarkan kepada anak didiknya. Bahwa Indonesia itu dibangun atas dasar perbedaan dan keragaman tidak saja soal budaya tapi juga keyakinan. Ada banyak budaya yang ada di Indoensianesia, begitu juga adat, bahasa dan keyakinan. Indonesia seakan melting pot (bejana pembauran) besar yang ada di khatulistiwa.

Ini bisa kita lihat misalnya dalam kasus kasus, surat edaran di Sekolah Dasar Negeri 3 Karang Tengah, Gunung Kidul, Yogyakarta, menimbulkan kontroversi karena mewajibkan siswanya mengenakan seragam Muslim. Masih di kota yang sama, intoleransi juga sempat terjadi di SMAN 8 Yogya karena kepala sekolahnya mewajibkan siswanya untuk mengikuti kemah sekolah pada hari Paskah. Padahal hari itu sebagaian murid kristiani merayakan hari besar. Protes yang dilakukan sebelumnya oleh guru agama Katolik dan Kristen tidak ditanggapi oleh kepala sekolah yang pada akhirnya mengubah tanggal perkemahan setelah ada desakan dari pihak luar.

Ini tentunya menjadi ironi karena bagaimanapun juga sekolah negeri harusnya mengakomodir seluruh agama yang dianut di Indonesia, bukan memberikan kesan keistimewaaan pada satu agama tertentu.

Situasi ini harus mendapat perhatian dan pembenahan dari semua pihak karena bagaimanapun negara kita harus mengedepankan toleransi. Toleransi kurang lebih berarti bahwa ada pihak lain yang berbeda dengan kita yang harus kita perhatikan dan mungkin karena keadaannya kita dahulukan. Semisal , ada orang yang menggunakan kursi roda adalah orang yang berbeda dan seharusnya kita dahulukan karena keadaannya itu. Atau paling tidak, sikap kita menyesuaikan dengan keadaan orang yang berbeda itu.