Mohon tunggu...
Eno Rusnadi
Eno Rusnadi Mohon Tunggu... Time wait for no one

Anyone wait for me

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Konon Akibat Upah Tak Ditunaikan Risiko hingga Tujuh Turunan (Dongeng Sunda Bagian 1)

11 September 2019   14:02 Diperbarui: 11 September 2019   16:59 0 2 2 Mohon Tunggu...
Konon Akibat Upah Tak Ditunaikan Risiko hingga Tujuh Turunan (Dongeng Sunda Bagian 1)
dokpri

Desa yang diapit dua kaki gunung itu amat subur. Tanah yang ada di sana seolah menyimpan banyak kandungan emas. Apapun ditanam pasti tumbuh, dan berbuah. Sawah yang terbentang luas milik masyarakatnya juga demikian. Di tambah air yang melimpah dari mata air maupun arus air sungai yang membelah pemukiman penduduknya, menyirami tiap petak sawah atau kebun tanpa lelah.

Semua itu dipandang masyarakat sebagai suatu karunia Ilahi. Rata-rata warga di desa ini hidup bahagia. Sandang, pangan, dan papan boleh dibilang cukup. Interaksi antarwarga berjalan harmonis. Tiada pernah ada perselisihan. Kehidupan desa berlangsung sebagaimana seharusnya.  Semua karena kerja keras Kuwu Naya.

Sebagai kuwu, Naya memang disegani oleh warganya. Ia amat cakap mengelola semua urusan, mulai dari irigasi sawah hingga gesekan antarwarga, yang satu dua kali sempat muncul, menyangkut soal jatah air untuk sawah mereka. Tapi itu semua bisa dikelola Naya dengan mulus.

Pendek kata, desa itu aman, tentram, dan sejahtera.

Namun begitu, ada yang mengganjal dipikiran Naya selama ini. Atau boleh jadi keluarganya secara turun temurun, menyangkut sawah yang sekarang ia kelola, sebagai sawah leluhur. Sawah yang letaknya di sisi sebelah kanan jalan itu berbeda dengan sawah kepunyaan warga lainnya. Pasalnya di titik tengah sawah berdiri  pohon kemuning yang tingginya satu setengah meter, kokoh, dan sejauh mata memandang, jika orang melihat hamparan sawah di desa ini dari bagian barat, maka pohon ini tampak menonjol.

Naya tidak tahu persis kapan pohon Kemuning itu ada. Sebab buyut moyangnya juga tidak sekalipun  mengabarkan soal ini. Di arsip desa pun tidak tercatat. Cuma satu pesan yang semua keturunannya ingat, "jangan ditebang pohon Kemuning itu".

Pesan ini pun di pikiran Naya justru yang paling mengganjal malah, Apa alasannya sehingga pohon itu tidak boleh disingkirkan? Sebagai Kuwu, tentu saja hal semacam ini mencederai logika kausalitas yang ia punya. Tiap orang mesti berpikir sebab, dan akibat dari suatu tesa. Jangan terima sesuatu keterangan itu absolute saja. Selalu demikian cara ia membenarkan tindakannya.

Sebab itu, tanpa konsultasi dengan siapapun. Juga tidak diketahui oleh istri, anak, dan warganya, ia nekad malam hari sendirian mendatangi pohon itu dengan perangkat tebangnya, kampak, dan golok. Karena memang diameter pohon ini amat tipis  Jadi pikirnya, sekali tebas, dan cacah, hilang sudah pohon yang di matanya amat mengganggu pemandangan itu.

***

Suara desir angin yang kencang menemani Naya malam itu yang tengah berada di tengah sawahnya. Pepohonan di sepanjang jalan di sisi persawahan, juga daunnya seolah berkibar tak kalah kencangnya. Suara katak yang didengar Naya seperti menyayat pilu. Tikus-tikus sawah yang tidur pun terbangun mencari tahu. Cacing tanah juga tak mau kalah, meliuk-liuk di tanah becek, seakan berteriak jangan.

Namun tanpa ampun, ia hantamkan juga kapak itu pada Kemuning. Sekali hantam, sekali itu juga katak, tikus, cacing, burung, dan binatang lain yang selalu ada di sawah, berlarian menjauh, dan berteriak nyaring, pergi. Cacing tanah tak mau kalah, langsung masuk menembus lapisan tanah yang paling dalam.  Hantaman demi hantaman kapak pada akhirnya meluluhlantakan pohon Kemuning yang konon sudah berusia ratusan tahun itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x