Mohon tunggu...
Erna Suminar
Erna Suminar Mohon Tunggu... Pembelajar, sederhana dan bahagia

# Penulis Novel Gerimis di El Tari ; Obrolan di Kedai Plato ; Kekasih yang tak Diinginkan ; Bukan Cinta yang Buta Engkaulah yang Buta. Mahasiswa Program Doktor Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Umur Saya 30 Tahun (+), Belum Menikah dan Bahagia

14 Mei 2011   04:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:43 6457 11 40 Mohon Tunggu...

Rupanya saya ditakdirkan untuk hidup dikelilingi para perempuan yang berusia antara 30-40 tahun, belum menikah. Usia mereka sudah matang,  memiliki penghasilan sendiri dan berpendidikan tinggi.Wajah-wajah mereka pun cantik-cantik. Sepintas orang akan bingung, koq belum ada satu pun yang melirik ?

Pernah kami berbicara agak serius dengan pura-pura mengungkap data statistik, namun sumbernya bukan dari Biro Pusat Statistik, melainkan angka khayalan kami.Rasio laki-laki dan perempuan di tempat aktivitas kamidengan umur 30-an dan belum menikahadalah2 : 6. Ketika rasio itu kami turunkan ke dalam hitungan matematika, dengan pemetaan  relasi satu-satu, maka jadi 1:3, artinya satu orang laki-laki bisa memperoleh pasangan 3 orang perempuan. Hahaha..kami pun terkejut sendiri..alamat poligami, mak..

Kami pun pernah membicarakan dengan menggunakan rumus matematika, peluang untuk memperkirakan harapan. Hasilnya ternyata peluangnya tipis banget karena teman-teman saya menambahkan syarat tertentu pasangan yangpantas jadi suaminya, minimal pendidikannya sama-sama pernah kuliah agar rada setara dengannya, umurnya jangan brondong, sudah bekerja dan bukan suami orang…hehehe…kembali lagi kami dikejutkan, laki-laki seumuran itu dan mapan rata-rata sudah digaet orang. Akhirnya kami tertawa tergelak. dan koor sama-sama..” Kunanti dudamu, sayang…..”

Kami mencoba melihat iklan-iklan biro jodoh,setelah diamatimemang benarperempuan yang mencari jodoh yang sepadan lebih banyak ketimbang laki-laki. Alamaaaak…

Diantara teman-teman saya ada yang cemas dan ada pula yang santai, itu perasaan manusiawi saya kira.

Bagaimanakah mereka menyikapi situasi ini ?

Pencemas

Kendati saya bukan anggota dari Paguyuban Jomblowati, karena sudah menikah. Keukeuh saja dalam hati ada perasaan ikut larut dalam sedih, terutama ketika pencemas cerita ditanya. “ Kapan nikah ?” pertanyaan itu merupakan palu godam untuk perasaannya, antara keinginan dan ketidakberdayaan, bagi sang pencemas. Hal lain yang membuat sang pencemas berdegup, saat menerima undangan pernikahan orang yang dikenal, sudah begitu yang memberi undangan pakai basa-basi do’a… “ Semoga cepat menyusul.”

Beban itu terasa berat kala orang-orang disekeliling memberi nasihat-nasihat basiseperti, “Jangan pilih-pilih..” dan ocehan-ocehan dari kejadian masa lalu kadang di putar ulang oleh keluarga. Tak jarang ada ungkapan sinis, “Umur 20-an, siapa saya. Sekarang, umur 30-an siapa saja.” Yang berkonotasi, kalau perempuan berusia lebih dari 30-an sudah tak bisa memilih, kepada siapa pun ia mau. Halah..ungkapan ini sangat kasar, dan merendahkan, saya rasa.

Orang-orang disekelilingterkadangmengait-kaitkan “terlambat” menikah dengan karakter, “ Judes, pendiam, dominan, kecentilan, matre dsb” Padahal perempuan yang sudah menikah pun beberapa diantaranya memiliki karakter ini. Dan yang paling sering sering dijadikan kambing hitammenjomblo nya teman-teman yang berpendidikan tinggi dan berpenghasilan baik adalah alasan status sosial, pendidikan(apalagi kalau sudah S2, S3) dan ekonomi mapan yang konon membuat laki-laki  kebanyakan "takut" mempersunting.

Easy going

Teman-teman yang easy going umumnya sudah tidak mempermasalahkan status jomblo selama tidak merugikan orang, karena memang mereka orang-orang sibuk, Beberapa teman saya bahkan sudah menerima ini sebagaicerita hidup. Tak apa tak menikah, yang penting bahagia. Toh yang menikah pun tidak sedikit yang menderita. Kalimat ini menjadiliris penghiburan untuk diri sendiri. Kalau kita tidak mau menghibur diri sendiri, alamat stress terus menerus mendengar daras negative orang-orang sekitar.

Sebagian teman itu berpikir, kita lebih baik tidak menikah daripada menikah asal mendapat status sebagai istri terlebih melukai perasaan perempuan lain. Toh dalam hidup yang terpenting adalah memberi manfaat dan pelayanankepadasesama, alam dan kehidupan,bukankah itu ukuran manusia terbaik? Bukan salah kami tidak menikah, memang waktunya belum datang, dan bukan urusan kami kalau sudah menyangkut takdir. Kelahiran, pernikahan dan kematian sudah urusan Tuhan…urrghhh..santaiiiii…

Saya kira apa yang dipikirkan teman yang easy going itu masuk akal, memandang hidup dari sisi positifnya,           “ Umur saya diatas 30, belum menikah danbahagia,” ini kalimat positif. Karena memang ruang kebahagiaan itu luas.

Jadi, bukan masalah jomblo-nya yang menyakiti kita, sesungguhnya karena respons kitalah terhadap keadaan yang menyakiti kita. Seperti kata Eleanor Roosevelt, “ Tak seorang pun dapat menyakiti anda tanpa persetujuan anda.”

Be Happy Single.

Selamat menikmati hidup dan selamat berakhir pekan….

_____

Sumber Gambar: www.fineartamerica.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x