erisman yahya
erisman yahya pegawai negeri

mantan wartawan n hoby menulis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Biadab, Teroris Menebar Teror di Riau

16 Mei 2018   14:10 Diperbarui: 16 Mei 2018   14:27 185 0 0

Belum kering air mata Bumi Pertiwi akibat rentetan teror yang dilakukan para teroris. Mulai dari teror 40 jam di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok hingga sejumlah aksi nekad bom bunuh diri di Surabaya, hari ini (Rabu, 16 Mei) sekitar pukul 09.00 WIB aksi biadab kembali terjadi di Riau. 

Para pelaku yang diduga teroris dengan menggunakan mobil Toyota Avanza menyeruduk Mapolda Riau sembari menyerang petugas Polri yang sedang bertugas.

Suasana terasa mencekam karena Kantor Mapolda Riau persis berada di depan Kantor Gubernur Riau. Sementara, di halaman depan Kantor Gubernur Riau sejak pagi digelar Tablig Akbar dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan menghadirkan Ustad Kondang H Abdul Somad, LC, MA. 

Baru berselang beberapa menit Ustad Somad selesai menyampaikan ceramahnya dan beranjak pergi meninggalkan Kantor Gubernur yang masih ramai disesaki para pegawai Pemprov Riau, tiba-tiba terdengar rentetan letusan peluru dari arah Mapolda Riau.

Suasana mulai panik. Sebagian ada yang berlari ke arah Mapolda untuk melihat kejadian secara lebih dekat. Benar saja. Telah terjadi aksi baku-tembak antara polisi dan para terduga teroris yang menyerang Mapolda. Selain bersenjata api, peneror juga membawa senjata tajam seperti pedang.

Hingga tulisan ini ditulis, tercatat 5 orang telah meninggal dunia akibat serangan yang tak terduga itu. Empat dari terduga teroris (penyerang) dan satu dari anggota Polri atas nama Ipda Auzar (56). Ipda Auzar dikenal sebagai polisi yang taat dan sering menjadi imam sholat. Sejumlah polisi dan wartawan juga disebut mengalami luka-luka akibat insiden tak berperikemanusiaan itu.

Aksi teror ini tentu kembali menjadi tamparan keras bagi Pemerintahan Jokowi-JK, khususnya lagi Kapolri Tito Karnavian. Apalagi Tito menyandang jabatan Kapolri antara lain karena kepiawaiannya dulu melawan dan memberantas aksi terorisme. 

Karena berbagai prestasi gemilang Tito, Presiden Jokowi berani mengambil resiko melantik jadi Kapolri sekalipun sebenarnya banyak yang lebih senior dari Tito.

Yang pasti, sejauh ini para teroris telah berhasil menebar ketakutan bagi masyarakat. Padahal masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam ingin ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa yang sudah di depan mata.

Hemat penulis, tidak ada kata lain, Presiden Jokowi harus segera mengambil langkah tegas untuk melawan dan memberantas aksi terorisme ini sampai ke akar-akarnya. Jika ada pejabat terkait yang dinilai lamban, sebaiknya segera diperingatkan atau diganti saja. 

Secepat-cepatnya. Jika aksi teror ini semakin meluas, maka tingkat kepercayaan masyarakat kepada Pemerintahan Jokowi-JK dipastikan semakin merosot.

Kita tidak bisa lagi berharap banyak kepada para ulama atau pun para tokoh. Sebab, yang kita hadapi sekarang adalah kelompok masyarakat tersesat yang kita sebut teroris, dimana pemahaman mereka berseberangan jauh dengan kita. Teroris harus dilawan oleh negara dengan segala kekuatan dan kedigdayaannya. Sekarang Pak Presiden tak perlu lagi banyak pertimbangan. 

Jika perlu kerahkan juga kekuatan TNI untuk menggempur terorisme hingga babak-belur. Pak Presiden, kami rakyat menunggu aksimu! #Negara Jangan Kalah Oleh Terorisme!