Erent Santoso
Erent Santoso profesional

Do Small Things with Big Love

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tahun 2018 Mari Bertransformasi, "Do Small Things with Big Love"

18 Januari 2018   23:40 Diperbarui: 18 Januari 2018   23:58 457 0 0

Tahun Persatuan 2018 sebagaimana Ardas KAJ,  telah dimulai secara serentak oleh Paroki di lingkungan KAJ pada tanggal 7 Januari 2018 bertepatan dengan hari raya Epifani.  Sebelum Misa dimulai,  terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan pembukaan logo Tahun Persatuan.  Nuansa kebangsaan sangat terasa di pembukaan Tahun Persatuan apalagi di nyanyikan themesong "Kita Bhineka Kita Indonesia".

Dalam Surat Gembala Bapak Uskup, Mgr. I. Suharyo, kita diajak untuk memaknai hidup  selalu dalam pencarian Tuhan, sebagaimana 3 orang majus dari Timur yang mencari Tuhan dan mengalami perubahan yaitu dengan mengambil jalan lain menuju pulang setelah adanya perjumpaan dengan Tuhan.  Bapa Uskup mengingatkan dalam setiap pencarian Tuhan selalu ada perubahan setelah adanya perjumpaan dengan Tuhan dalam bentuk apapun.

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita telah melewati peziarahan hidup dengan berbagai perjumpaan dengan Allah, melalui berbagai peristiwa sejarah perjalanan  bangsa Indonesia. Seperti yang di katakana oleh Bapak Uskup yaitu, sejarah Kebangkitan Nasional tahun 1908,  Sumpah Pemuda 1928 dan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 itu merupakan karya Allah untuk bangsa Indonesia termasuk  umat Katolik di seluruh Indonesia. Karya Allah ini tentunya harus selalu diingat dan dirawat dengan penuh tanggung jawab.  Selanjutnya dalam Surat Gembala mengajak umat katolik untuk merealisasikan tanggung jawab sebagai Warga Negara Indonesia adalah dengan mengamalkan Pancasila.

Untuk tahun ini umat Katolik diajak untuk melakukan gerakan transformatif dari wujud pengamalan sila Persatuan Indonesia dengan tema "Kita Bhinneka - Kita Indonesia". Terus menerus melakukan kebiasaan kebiasaan yang sederhana (Do Small things with Great Love -- Mother Teresa from Calcuta) seperti, (1) Mengunjungi tetangga yang sakit/berduka, (2) Tatakrama sosial [ramah dan menyapa], (3) Kejujuran [anti korupsi /anti nyogok], (4) Berbagi kepada yang berkekurangan [tidak membuang makanan], (5) Penghargaan kepada Asisten Kehidupan Sosial [petugas kebersihan, penjaga rel kereta, satpam, hansip, asisten rumahtangga, dll.], (6) Karya karitatif kepada yang berkeutuhan khusus/disable/lansia sakit/ anak terlantar dll, (7) Tertib lalu lintas, (8) Hemat energy dan air serta (9) Menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan kebiasaan yang sederhana ini apabila dilakukan secara konsisten dn terus menerus akan menciptakan habitus baru, yaitu menjadi manusia Indonesia yang selalu bertindak, berfikir, memiliki rasa persatuan tinggi baik dalam lingkugan keluarga, lingkungan Gereja, dan lingkungan masyarakat.

Habitus baru inilah yang akan menjadi daya transformatif dalam kehidupan. Kalau manusia semakin berbakti kepada Tuhan, berperilaku adil dan beradab, serta semakin bersaudara satu dengan yang lain, kerajaan Allah menjadi semakin nyata dan dalam kemuliaan Tuhan menjadi semakin tampak pula (bdk Yesaya 60:2).