Mohon tunggu...
Fajar Perada
Fajar Perada Mohon Tunggu... seorang jurnalis independen

Pernah bekerja di perusahaan surat kabar di Semarang, Jawa Tengah

Selanjutnya

Tutup

Teknologi

B30 Menjaga Ketahanan Energi Indonesia

10 Maret 2020   18:50 Diperbarui: 10 Maret 2020   19:04 32 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
B30 Menjaga Ketahanan Energi Indonesia
Presiden Jokowi saat meresmikan penggunaan B30 (foto: kompas.com)

Pemerintah tahun lalu sudah menuntaskan uji coba pencampuran 30 persen minyak sawit dalam solar atau Biosolar 30 persen (B30). Uji penggunaan campuran minyak nabati untuk BBM   kendaraan bermotor bermesin diesel itu sudah dilakukan dengan jarak tempuh  50.000 km . Seluruh jenis kendaraaan yang menjalani uji coba, sepanjang perjalanannya sama sekali tak mengalami masalah.  Baik mesin atau performa lainnya.

Selanjutnya penggunaan B30 (biosolar 30) secara resmi sudah dimulai sejak kahir 2019.  Artinya mulai tahun ini biosolar yang beredar di pasaran adalah campuran dari 30 persen minyak sawit dan 70 persen solar. Sebelumnya, pemerintah sudah menetapkan B20 sejak dua tahun lalu. Penggunaan bahan bakar jenis ini memiliki banyak keuntungan, terutama untuk sektor kelapa sawit

Keuntungan pertama yang dirasakan adalah pada penurunan impor BBM jenis solar. Maka jika impor makin kecil, devisa negara yang bisa dihemat tentu bisa lebih banyak. Data Kementerian ESDM mencatat penggunaan biodiesel B20 telah mampu mengurangi impor minyak mentah secara signifikan, sehingga cadangan devisa meningkat hingga 2 milyar dolar AS per tahun. Maka silahkan hitung jika program B30 sudah dimulai sejak 26 Desember 2019.

Selain itu, B30 bisa berperan dalam meningkatkan ketahanan energy jenis biodiesel. Pasalnya B30 ini semuanya diolah di dalam negeri, sehingga tak akan terganggu oleh turun naiknya harga minyak dunia. 

Namun, manfaat dari pelaksanaan program B30 ini tak semata-mata berkait dengan keuangan negara. Ada sekian keuntungan lain yang secara langsung maupun tidak akan ikut mendapat berkah. Apa saja itu?

Dari keuntungan sisi mesin. Performa kendaraan  dalam road test  B30 tersebut, khususnya untuk konsumsi bahan bakar naik rata-rata 0,87 persen. Sementara untuk tenaga juga meningkat sebesar  0,84 persen secara rata-rata. Fakta tersebut menunjukkan bahwa jika B30 diimplementasikan, maka dia adalah bahan bakar yang tergolong ramah lingkungan.

Di luar sisi migas sendiri, pelaksanaan program B30 ini diprediksi mampu mengangkat taraf ekonomi masyarakat, terutama petani sawit,  serta menambah tidak kurang dari 500.000 lapangan  kerja baru, khususnya di bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya.

Saat ini saja, Kementerian Pertanian mencatat, tidak kurang dari 2,6 juta orang petani menggantungkan hidupnya dari budi daya pohon akar serabut ini. Selain itu, terdapat juta tidak kurang dari 12 juta orang tenaga kerja  yang terkait langsung dengan perkebunan dan industri kelapa sawit ini.

Sedangkan yang terkait dengan lingkungan, untuk  B20 , program tersebut telah berhasil mengurangi emisi gas ruang kaca setara dengan produksi gas buang yang dihasilkan 20.000 bus kecil selama setahun.

Berdasarkan perhitungan sementara uji  coba B30 juga memberi pengaruh kepada lingkungan. Pasalnya emisi CO turun sebesar 0,1 -- 0,2 gram/km dan emisi PM turun sebesar 0,01 -- 0,08 gram/km.

Maka, dengan berbekal data di atas, bukan tidak mungkin pemerintah akan mempercepat pelaksanaan program B50, bahkan hingga B100, karena keuntungan luar biasa yang bisa didapat di dalamnya.  Maka wajar saja jika ada yang menyebut, biodiesel adalah salah satu soko guru masa depan ekonomi Indonesia. 

VIDEO PILIHAN