Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Penulis

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Guru Honorer, Sisi Hitam Dunia Pendidikan

5 Mei 2019   15:15 Diperbarui: 5 Mei 2019   15:18 0 7 1 Mohon Tunggu...
Guru Honorer, Sisi Hitam Dunia Pendidikan
Ilustrasi murid-murid sekolah (dok.mell)

Kalau bicara soal guru honorer, selalu mendatangkan kesedihan. Karena pada umumnya, nasib guru honorer lebih banyak penderitaannya dari kebahagiaannya.

Ini adalah problem yang sudah berkarat selama puluhan tahun. Tapi tidak ada yang sungguh sungguh ingin mengubahnya. 

Guru honorer yang beruntung apabila dia mengajar pada sebuah sekolah bergengsi. Honor yang diterima cukup tinggi, berdasarkan hitungan jam mata pelajaran. Sedangkan guru honorer sekolah biasa, paling banter hanya cukup untuk makan dan ongkos.

Nasib guru honorer di daerah jauh lebih mengenaskan. Banyak yang menerima kurang dari 500 ribu per bulan. Bagaimana mereka bisa bertahan? 

Ada beberapa sahabat yang menjadi guru honorer. Selama ini belum pernah menikmati kesejahteraan, terutama yang belum mengikuti sertifikasi.

Berikut ini beberapa masalah yang membelit guru honorer:

1. Honor terlalu kecil. Pada setiap sekolah, jumlah kisaran honor guru berbeda. Biasanya besar honor perjam dikalikan berapa kali dia mengajar.

Di daerah daerah, honor yang disediakan sekolah sangat kecil. Apalagi sekolah swasta yang tidak memiliki donatur tetap. Seorang guru honorer perempuan di wilayah Sumatera, ada yang cuma menerima kurang dari 300 ribu perbulan.

2. Honor sering terlambat. Sudahlah jumlahnya kecil, seringkali honor juga terlambat diberikan. Alasannya, kiriman dari pusat juga terlambat.

Mereka sering kali tidak diprioritaskan dalam pembagian gaji, dikesampingkan. Padahal kerja mereka juga sama beratnya dengan guru tetap.

3. Tidak ada tunjangan. Kalau guru tetap biasanya mendapat berbagai tunjangan. Misalnya tunjangan makan, beras, uang transportasi dan.

Berbeda dengan guru honorer yang kerap hanya diberi honor saja. Padahal mereka juga memiliki kebutuhan yang sama dengan guru tetap.

4. Permohonan menjadi guru tetap atau PNS sering menjadi ladang korupsi. Guru honorer yang ingin menaikkan dirinya, selain harus mengikuti test, juga diperas oknum untuk membayar jutaan Rupiah.

Salah satu teman saya pernah menjadi korban calo guru ini. Dia sudah membayar beberapa juta, tetapi ternyata tidak lolos menjadi PNS.

5. Terkena pungli dan potongan. Honor yang diterima guru honorer tak luput dari incaran koruptor. Terutama mereka yang berada di daerah daerah.

Kalau mencairkan honor, sudah dipotong oknum tertentu dengan alasan uang rokok atau uang lelah. Bayangkan, honor yang kecil saja dimakan orang sebagian.

6. Terpaksa kerja sambilan. Para guru honorer dengan penghasilan mengajar yang sangat minim itu, tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari hari. Mereka terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.

Ada guru yang 'nyambi' menjadi tukang ojek. Setelah mengajar, mereka langsung membawa motor ke pangkalan ojek mencari penumpang. Bahkan ada yang menjadi pemulung sampah karena harus memenuhi nafkah keluarga.

Seharusnya ada sistem yang bisa mengangkat mereka. Setidaknya jika tidak bisa menjadi PNS atau guru tetap, honor mereka bisa disetarakan supaya kehidupan lebih terjamin.