Mazmur Prasetya Aji
Mazmur Prasetya Aji karyawan swasta

Jemarikukah ini, yang menulis sedemikian bengis?

Selanjutnya

Tutup

Film

Wiro Sableng, Superhero Rasa Lokal

14 September 2018   19:23 Diperbarui: 14 September 2018   19:54 397 0 0

Akhir tahun 1978, pertama kalinya Warner Bros menghidupkan karakter komik Superman ke layar lebar. Film yang melambungkan nama aktor Christopher Reeve inilah yang mengubah segala imajinasi kita tentang sosok superhero.

Tiga dasawarsa setelah kesuksesan film pertama Superman itu, hegemoni dua raksasa komik Marvel dan DC Comics memproduksi banyak film superhero lain dengan distribusi ke seluruh pelosok dunia. Invasi para superhero bule ini -- dari Batman hingga Spiderman, dari Wonder Woman hingga Captain America, ke penonton bioskop kita sudah menjadi epidemi baru bagi semua kalangan usia. 

Keresahan akan ketiadaan superhero dengan identitas bangsa sendiri itulah yang menggerakkan produser film Sheila Timothy untuk mengangkat sosok jagoan asli Nusantara -- yang juga diadaptasi dari komik. Bicara tentang komik silat lokal tidak bisa lepas dari kisah Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya Bastian Tito. Wiro Sableng dianggap sosok superhero paling autentik yang merepresentasikan identitas Nusantara. Komik Wiro Sableng sendiri sudah 180 judul lebih sejak pertama kali diterbitkan tahun 1967.

Bak gayung bersambut, perusahaan film Fox International Productions yang menangkap semangat positif itu bersedia mendukung produksi film tersebut bersama Lifelike Pictures. Wiro Sableng menjadi film pertama di Asia Tenggara yang berkolaborasi dengan Fox.

Tidak tanggung-tanggung, dana produksi sebesar 26 milyar digelontorkan untuk film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko yang bisa jadi pembuktiannya setelah film terakhir Filosofi Kopi 2 (2017) kurang sukses di pasaran. Film Wiro Sableng ini keseluruhan menelan masa produksi lebih dari 19 bulan.

Arianto Sinaga, sang produser desainer, menceritakan film Wiro Sableng ini gabungan dari mitologi lokal, sejarah dan dibungkus fantasi. Sebanyak 99 visual effect artist dari 10 studio berbeda digandeng untuk mendukung efek CGI di film ini. Lebih lagi Arianto bercerita untuk kostum dan senjata yang dipakai kebanyakan adalah senjata tradisional dari Nusantara, seperti mandau Dayak, kalung Dewa Tuak bermotif Nias dan ukiran tongkat Sinto Gendeng khas Batak. Kapaknya Wiro Sableng sendiri ukirannya terinspirasi keris Majapahit.

Tata musik dipercayakan pada komposer berkelas Citra Aria Prayogi yang tangan dinginnya sukses menangani The Raid dan The Raid 2. Yayan Ruhian yang juga berperan di film ini didapuk sebagai koreografer silat. Sementara skenario dikerjakan keroyokan Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma.

Alur cerita berlatar belakang Nusantara abad 16. Dilihat dari karakter yang muncul, film yang direncanakan dibuat trilogi ini, ceritanya diambil dari beberapa komik di awal kemunculan Wiro Sableng. Vino G. Bastian yang adalah putra sang pengarang Bastian Tito dipercaya memerankan sang pendekar.

Seperti sinetronnya yang pernah tayang di televisi pada tahun 1990-an, cerita bermula dari diselamatkannya Wira Saksana, nama kecil Wiro Sableng, oleh pendekar sakti Sinto Gendeng dari Mahesa Birawa dan komplotan penjahat yang membakar desa Jatiwalu dan membunuh kedua orang tua Wiro.

Lima belas menit pertama film sangat mendebarkan, ekspektasi sesuatu yang baru saat peristiwa Jatiwalu hingga munculnya Sinto Gendeng tidak terbayar. Di luar efek CGI yang jauh lebih baik, alurnya sama persis dengan versi sinetronnya. Hingga adegan Sinto Gendeng, diperankan Ruth Marini, melepas muridnya turun gunung dan mewariskan kapak maut tidak jauh beda dengan pendahulunya.

Film mulai menarik ketika adegan baku pukul di kedai makan. Aksi silat para pemain patut diacungi jempol. Wiro Sableng dalam perjalanannya mencari pembunuh orang tuanya Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) bertemu sahabat-sahabatnya yang juga pendekar, seperti Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy), Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi) dan Anggini (Sherina Munaf), murid Dewa Tuak (Andy /rif).

Film pertama ini bukan tak luput dari kritikan -- ada yang mengritik CGI-nya masih kasar. Kalau dibandingkan dengan film superhero Marvel atau DC Comics memang masih ketinggalan, tapi saat ini itulah yang terbaik untuk sebuah film produksi sineas kita.

Harapan besar Sheila Timothy dan seluruh kru yang terlibat agar film ini dapat mengobati rindu dan memuaskan imajinasi para pembaca komik Wiro Sableng yang kebanyakan sudah berusia dewasa. Selain itu juga dapat menularkan pada generasi di bawahnya untuk mengenal sosok Wiro Sableng sebagai superhero lokal dari negeri sendiri. Apalagi film ini akan dibuat trilogi, besar kemungkinan akan semakin banyak karakter dari komik yang akan dihidupkan. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada Wiro Sableng universe, kan?  Dan kita bisa dengan membusungkan dada bilang: "Goodbye, Marvel! Goodbye, DC Comics!"

*****