Mohon tunggu...
Marissa Malahayati
Marissa Malahayati Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Bogor woman in Tokyo| Student| Writer| researcher| Photographer| cat and food maniac

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menyatukan Indonesia di Dunia Nyata dan Dunia Maya, Serta Sebuah Pesan dari Surat Al-'Ashr

4 November 2016   21:47 Diperbarui: 4 November 2016   23:09 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Semoga Indonesia bisa seindah ini (dokumentasi pribadi)

Hari ini, 4 November 2016, terjadi unjuk rasa akbar di Ibukota Indonesia: Jakarta.
Demo ini dipicu karena adanya pernyataan salah satu calon Gubernur DKI Jakarta (Petahana) yang diduga melakukan penistaan agama dengan keceplosan mengutip Quran surat Al-Maidah ayat 51 ketika melakukan kunjungan di Kepulauan Seribu. Sungguh, sesungguhnya saya kagum dengan Bapak yang satu ini, dengan gayanya yang cukup "nyentrik" dan ceplas-ceplos, Beliau sebenarnya cukup tahan banting menghadapi Jakarta yang konon lebih kejam daripada ibu tiri (dan ingat ibu tiri saja banyak yang baik hatinya setengah mati). Namun, sangat disayangkan, tindakan Beliau yang keceplosan bawa-bawa ayat Quran itu tentu kurang bijak. Saya punya dua alasan: 1.) Ayat Quran bukanlah hal yang Beliau kuasai dan pahami secara baik. Saya saja, yang muslim, masih segan membawa-bawa ayat Quran dalam pembicaraan sehari-hari kecuali saya sudah melakukan kajian mendalam atas ayat tersebut. Yang Muslim saja masih sungkan, mbok ya Bapak Petahana ini juga lebih hati-hati.   2.) Tidak ada isu yang lebih sensitif di Indonesia selain isu agama! Jadi jangan coba-coba menyentuh dan (maaf) sotoy masalah agama. Sekali Anda bersikap sok tahu, maka Anda sedang menyalakan sumbu granat untuk Anda sendiri. 

Tapi ya mau bagaimana? Semua toh sudah terjadi. Semoga Pak Petahana juga bisa lebih bijak selanjutnya.

Hari ini beberapa ormas Islam bersatu, bergabung, dan membanjiri Ibu kota. Sungguh sebenarnya tidak ada yang salah dengan demonstrasi karena itu konsekuensi negara demokrasi. Apalagi negara demokrasi sebesar Indonesia. Masjid Istiqlal pun Alhamdulillah kemudian penuh sejak adzan subuh berkumandang, sungguh pemandangan yang langka. Aksi unjuk rasa berlangsung cukup tertib apalagi ketika dipimpin oleh ustadz-ustadz dan ulama-ulama terkemuka. Beberapa tentu ada yang misuh-misuh karena demonstrasi membuat macet, kotor, dsb. Ya tapi memang begitu unjuk rasa. Walau kemudian akhirnya cukup "pecah" juga ketika ada gesekan antara demonstran dan aparat pada akhirnya. Cukup disayangkan. 

Namun di luar itu ada yang lebih ramai rupanya: DEMONSTRASI DI DUNIA MAYA.

Saya yang sedang melanjutkan studi saya di Jepang lebih fokus melihat perkembangan di media sosial. Beberapa rekan ada yang biasa saja. Namun ada juga statusnya sekeras suara para demonstran di Bundaran HI. Begitu kerasnya hingga tanpa sadar menyinggung rekan-rekan lain yang kebetulan non-Muslim. Rekan-rekan non-Muslim pun ada juga yang pada akhirnya jadi tersulut lalu balas menulis status yang tidak kalah pedasnya. Lemparan batu dan bom molotov virtual pun terjadi tanpa henti, bukan di kawasan Medan Merdeka tapi di kawasan facebook, twitter, dans sekitarnya. 

Yang satu berdalih Pak Petahana sungguh tak dapat dimaafkan
Yang satu berdalih "loh Ente siapa? Proses hukum saja masih berjalan"
Terus begitu hingga tanpa sadar hari Jumat pun akan berganti menjadi hari Sabtu. Waktu yang percuma dibuang untuk debat kosong. 

Lalu siapa yang benar?
Saya pikir semuanya salah. Ini jangan-jangan memang kedewasaan sosial dan politik kita saja yang belum matang.

Baiklah, sebagai seorang Muslim saya berpendapat bahwa Bapak Petahana memang melakukan kesalahan dan yang Beliau lakukan kurang bijak.
Namun apa saya perlu mencaci maki Beliau? Lha! Kalau begitu apa bedanya saya dengan Beliau? Malah itu membuat hati saya semakin gelap dengan caci dan makian.
Apa perlu juga saya melemparkan argumen kosong tanpa analisis mendalam mengenai Beliau sudah jelas-jelas salah secara sah dan meyakinkan (seperti layaknya dalam kasus kopi bersianida) melakukan penistaan agama. Saya adalah peneliti di bidang ekonomi dan perubahan iklim, saya lebih pantas mengkritisi emisi dari ban-ban yang terbakar. Saya pribadi merasa sungguh tidak bijak jika saya sok ikut campur masalah analisis agama dan hukum. Bisa-bisa saya bukan hanya melakukan "penistaan"  pada agama saya (karena agama saya tidak pernah mengajarkan saya untuk berbicara hal yang diluar kemampuan saya) tapi juga penistaan kepada hukum karena saya meragukan bahwa hukum di negeri ini "terlalu bodoh" dalam memutuskan apa yang salah dan benar.

Jika pada akhirnya kita semua merasakan hukum di Indonesia tidak adil, ya buatan manusia memang tidak ada yang sempurna. Lalu masih perlu kita misuh-misuh dan marah-marah dengan hukum lalu melakukan unjuk rasa yang lebih besar lagi? Boleh-boleh saja sih, kan bukan hak saya untuk melarang. Namun Tuhan, Dzat yang Mahamulia... Dia akan selalu berdiri tanpa pilar-pilar yang dibangun dari cacian dan kebencian. Saya pikir, Tuhan terlalu suci untuk dikaitkan dengan hal-hal yang terlalu duniawi.
Tidak mau Pak Petahana memimpin lagi? Ya tidak perlu memilih nanti ketika pemilihan Kepala Daerah. 

Jadi Anda pendukung Petahana ya? Wah Anda benar-benar Muslim yang fasik!
Wah, terserah lah... saya toh bukan warga Jakarta, saya kan tidak memilih. Saya hanya seorang Indonesia yang selalu bangga bercerita "Indonesia itu damai loh, semuanya akur! Katedral saja ada tepat di depan Masjid Istiqlal"
rasanya hati saya kok jadi meringis miris karena beberapa rekan saya akhirnya "khilaf" saling perang opini padahal jangan-jangan mereka juga tidak mengerti hukum, jangan-jangan masih belajar mengenai politik, dan jangan-jangan bukan warga Jakarta! Orang Jakartanya sendiri mungkin tidak ambil pusing dan sedang menikmati macet panjang untuk liburan ke kawasan Puncak? 

Saya, si dangkal yang masih terus belajar ini, kemudian teringat salah satu ayat pendek yang selalu saya lafalkan sepulang sekolah ketika masih SD. Quran surat Al-'Ashr. Mengutip sedikit dari ayat tersebut yang berarti:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun