Humaniora

Tragedi pada Lingkungan

3 Desember 2017   22:28 Diperbarui: 3 Desember 2017   22:49 114 0 0

Setiap melakukan suatu aktivitas apapun pasti ada terjadi tragedi yang kita sadari dan tidak disadari sama halnya yang terjadi pada jaman dulu atau silam banyak terjad tragedi-tragedi yang tidak kita duga sama kali. Seperti tragedi nuklir yang menyangkut masa depan perang nuklir yang dijelaskan Wiesner dan York  bahwa Kedua belah pihak dalam perlombaan senjata dihadapkan pada dilema yang hebat dalam meningkatkan kekuatan militer dan meningkatkan keamanan nasional. Hal ini menjadi pertimbangan yang sangat dilema dalam mencari solusi yang tepat dalam perang tersebut. Jika kekuatan semakin besar terus berlanjut maka untuk mencari solusi di bidang sains dan teknologi saja tidak efektif dan bahkan  hasilnya akan memperburuk situasi.

Namun pada kenyataannya justru solusi teknis tidak bisa memecahkan peperangan atau permasalahan ini. Pada jaman kita sebenarnya solusi teknis selalu diterima namuan tatkala juga menjadi penyebab kegagalan. Untuk itu Wiesner dan York menngatakan bahwa masalahnya tidak dapat ditemukan dalam ilmu alam. Seperti pada permainan tick-tack kaki. Dimana kita harus tahu "Bagaimana saya bisa memenangkan permainan tick-tack-toe? "Itu baik tahu bahwa saya tidak bisa, jika saya berasumsi (dalam konvensi teori permainan) bahwa lawan saya mengerti permainannya dengan baik. Dengan kata lain tidak ada"Solusi teknis" untuk masalah. Saya bisa menang hanya dengan memberi arti radikal kata "menang." Saya bisa memukul lawan saya di atas kepala atau saya bisa memberinya obat atau aku bisa memalsukan catatan Setiap cara di mana saya "Menang" melibatkan dan kiat juga bisa memilih meninggalkan permainan atau menolak untuk memainkannya.

Dari contoh diatas dapat dikatakan maslaah yang terjadi adalah populasi yang tidak bisa dipecahkan secara teknis. Populasi menurut Malthus secara alami cenderung untuk tumbuh "secara geometris" karena dunia yang terbatas hanya bisa mendukung yang terbatas (populasi) lalu faktor biologis untuk hidup juga menjadi faktor banyaknya pertumbuhan populasi yang harus dimaksimalkan. Caranya adalah harus memiliki sumber energi (misalnya makanan). Energi ini digunakan untuk dua tujuan yaitu pemeliharaan dan kerja.

Jika dilihat dari lingkungan dapat juga menyebakan polusi yaitu dapat kita lihat tragedi orang-orang biasa muncul dalam masalah pencemaran seperti limbah,bahan kimia, radioaktif, polusi udara (asap). Dengan berbagai macam masalah tersebut harus dicegah dengan undang-undang pemaksaan atau perangkat pajak yang membuatnya lebih murah bagi pencemar untuk diobati polutannya daripada mengeluarkannya untuk diobati. Hal ini bisa didapati pada pabrik dimana limbah dari pabrik dibuang disungai dengai sembarang yang nantinya bisa menyebakan pencemaran air dan lainnya. Masalah polusi adalah konsekuensinya dari populasi. Untuk itu William Forster Lloyd (1794-1852) menyebutnya tragedi commons yang harus memiliki utilitas atau komponen positif maupun negatif.

Setiap orang terkunci dalam sistem-sistem yang memaksanya untuk meningkatkan kawanannya tanpa batas yaitu dalam dunia yang terbatas. Sama halnya ketika terjadi polusi yang harus dianalisis inti dari masalah apa yang dapat disebabkan oleh polusi yaitu pencemaran. Kepadatan penduduk menjadi alasan utama terutama melihat bagaimana perilaku yang sama juga terjadi di kota metropolitan yang juag bisa membahayakan lingkungan sekitar mereka maupun bagi mereka sendiri. Diperlukannya hukum masyarakat yang harus mengedaepankan etika yang harus dituang dalam hukum perundang-undangan dengan memberikan sansksi yang tegas bagi orang-orang yang melanggara atau melakukan pencemaran (membakar sampah, membuang limbah,dll). Hal ini merupakan satu solusi yang baik dan efektif jika dilakukan dengan tindakan yang tegas namun tetap berpaku pada undang-undang.

Dengan kita mengikuti peraturan yang ada maka akan menghasilkan tanggung jawab yang dapat menciptakan peraturan sosial yang kemudian dapat dikuti oleh masyarakat luas.

Daftar Pustaka

Hardin,Garret. (1968).The Tragedy of the Commons.sciencemag