Mohon tunggu...
Robertus Elyakim Lahok Bau
Robertus Elyakim Lahok Bau Mohon Tunggu... Penulis - Pegiat Literasi di Komunitas Secangkir Kopi

Aktif menulis di media masa

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Mengenang Anastasia Lou

21 April 2021   10:55 Diperbarui: 21 April 2021   11:26 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anastasia Lou di usianya yang ke 92 tahun (Dokpri)

Dari tulusnya cinta yang tak terukur oleh jaminan akan hidup nyaman, Anastasia membentuk rumah tangga dan memulai hidup baru bersama Benediktus Linu. Sebagai lelaki pesisir Linu bekerja serabutan. Ia berladang, melaut dan sesekali menjadi buruh pelabuhan jika kapal singgah di Atapupu. Benediktus pandai menganyam tulang daun gewang untuk menangkap ikan. Maklum waktu itu belum ada alat tangkap ikan modern  seperti pukat di masa kini. "Jika petang menjemput, Bai Linu sudah pulang dari laut dengan sebakul penuh ikan segar yang masih hidup", cerita Avo. Kami sudah menunggu di rumah. Lempengan sagu masak sudah dihidangkan di atas tikar. Setelah kua asam matang, santap malam pun terhanyut bersama gelapnya malam ditemani lampu pelita sampai pagi menjemput.

Menjelang subuh, Avo Anas sudah bangun. ia pergi ke tepi pantai membawa sebongkah kayu kering besar untuk memasak garam. Pekerjaan ini hampir dilakukan oleh sebagian besar perempuan di pesisir Atapupu pada masa itu. Sebelum matahari terbit, mereka mulai menumpuk tanah bergaram. Tanah itupun diangkat, dikumpulkan di sebuah wadah yang kemudian disaring bersama air laut untuk mendapatkan bahan mentah kemudian dimasak menjadi garam. Proses penyulingan ini butuh waktu hingga matahari begitu menyengat di atas kepala.  Mereka menghabiskan waktu dalam proses produksi dengan menghadap bara api yang panas dan  di bawah terik matahari. Tak ada alas kepala, cuma selembar kain menemani rambut panjang perempuan-perempuan ini hingga sore hari. Cukup minimal 5 Kg garam untuk satu hari masak. Jika sudah terkumpul banyak baru di bawah ke kota untuk dijual. Ini tugas suami bersama anak lelaki untuk memikul garam yang terkumpul dihantar ke kota menempuh 20-an km dengan  berjalan kaki.

Benediktus dan Anastasia dikarunia 7 oran anak yakni, Gabriel Wadan, Maria Alai (Almahrum), Johanis Liban, Petronela Boke, Maria Alai, Martinus Nahak dan Hendrikus Mones. Avo Anastasia sungguh perempuan hebat dan diberkati karena dikarunia Tuhan boleh mengandung dan melahirkan 7 orang anak. Waktu itu, belum ada fasilitas kesehatan memadai. Avo melahirkan tanpa bantuan dokter atau bidan medis sekarang. Namun bukan berarti Avo Lou tidak mempersiapkan kelahiran anak-anaknya dengan baik. Avo sangat disiplin. Ia bercerita bahwa pada masa itu, setiap perempuan yang mengandung akan diperhatikan dan dirawat dengan baik. Tiba pada masa kelahiran dan setelah kelahiran, mereka akan dikurung selama 40 hari sampai diizinkan orang tua boleh keluar rumah. perempuan-perempuan saat itu berdedikasi penuh untuk keluarga. Merawat sejak di kandungan sampai proses kelahiran dan mendampingi anak hingga dewasa. Itu lah ibu yang sungguh mengabdi dan mengorbankan hidup kepada keluarga dan anak.

Dengan segala daya yang ada, Avo Lou dan Linu menyekolahkan anak-anaknya ke bangku pendidikan. Keenam anaknya masuk Sekolah Rakyat. Karena keterbatasan biaya, dua anaknya hanya selesai di sekolah rakyat sedangkan 4 anak yang lain menamatkan Sekolah Menangah Atas (SMA) atau setara. Kini salah satu anaknya kini sedang mengikuti program doktoral.

Tahun 1989 sampai tahun 1992 merupakan tahun yang berat baginya. Maria Alai anak gadisnya yang baru selesai menamatkan pendidikan di Sekolah Guru Agama meninggal di tahun 1989. Satu tahun berselang 1990 tepat pada bulan Februari, suaminya tercinta Benediktus Linu meninggal dunia. Duka itu belum lama terhapus. Berselang tiga bulan kemudian, saudara laki-lakinya yakni Petrus Mali juga pergi meninggalkannya.  Hingga 1992 Avo pun ditinggal saudara laki-lakinya yang kedua yakni Aloysius Foki. Duka ini sungguh dalam. Air mata pun tak cukup menceritakan kembali kesedihan Anastasia Lou. 

Sepeninggalan orang-orang terkasihnya, Avo tidak putus asa. Avo beriman penuh pada Tuhan. Ia berpasrah pada penyelenggaraan yang Maha Kuasa. Avo tetap optimis menjalani hidupnya dengan anak-anak dan cucu-cucu yang sudah mulai beranjak dewasa. 

Anastasia di masa tuanya menghabiskan waktu bersama 23 orang cucu dan 19 orang cece bersama 5 orang menantu dari anak-anaknya serta 10 orang cucu menantu. Dari rahim Avo Anastasia kini berkembang kehidupan baru yang sudah membangun garis keturunan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang suku dan daerah.

Avo menikmati masa tua dengan senyum gembira. Perempuan ini sungguh hebat.  Raganya telah melintasi 93 tahun lamanya dengan segala jenis wabah dan pandemi penyakit yang melanda. Hampir tak ada sakit berat mendera tubuhnya. Ketika memasuki usia 80-an dalam pemeriksaan dokter bila ia mengalami sakil ringan, dokter sering memuji detak jantungnya yang sangat stabil dan kondisi kesehatan organ dalam tubuh yang berfungsi normal.

Akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 kondisinya mulai menurun. Menginjak usia 93 Tahun Avo Lou mulai menghabiskan waktu di pembaringan. Kondisi fisiknya melemah. Jantung, paru-paru, ginjal dan organ tubuh lainnya masih tetap berfungsi normal. Tak ada demam ataupun batuk pilek berat. Avo memang sudah tidak bisa lagi berjalan dan hanya bisa tidur atau pun duduk di tempat tidur.

Senin, 12 April 2021 tepat pukul 12. 30 Avo Anastasia Lou menghembuskan nafas terakhir di rumah kediamannya di Abat. Avo berpulang ke hadirat yang Maha Kuasa dalam usianya yang ke 93 Tahun.

Avo Anastasia  adalah perempuan hebat dari masa awal 1900-an hingga tahun 2021.  Ia melewati waktu hampir seabat di dunia. Anastasia adalah pendongeng yang baik. Jika berkunjung ke rumah anak-anaknya, avo Lou akan menyempatkan waktu tidur dengan cucu-cucunya dan mendongeng. Apa lagi jika masa liburan mereka datang ke rumah tuanya, Avo akan mengeluarkan segala jenis cerita dongeng yang ia ketahui.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun