Mohon tunggu...
Suryan Masrin
Suryan Masrin Mohon Tunggu... Guru

Penulis Pemula, Guru SD Negeri 14 Parittiga, pemerhati manuskrip/naskah kuno lokal Bangka, guru blogger

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kebun Sahang di Menggarau (Peradong) dalam Peta Bangka 1933 dan 1935-1946

17 Oktober 2020   21:15 Diperbarui: 23 Oktober 2020   14:47 69 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kebun Sahang di Menggarau (Peradong) dalam Peta Bangka 1933 dan 1935-1946
Potongan peta Bangka tahun 1933/koleksi pribadi

Di wilayah Kampung Peradong, tepatnya di dusun Menggarau, jika melihat peta tahun 1933 (1933 Peta Bangka, nla.obj-553999488-1) dan tahun antara 1935-1946 (Peta 1946-1935 LEMBAR 32-XXIV D) tampak beberapa buah kebun sahang (lada) - reegelmatig aangeledge papertuinen. Di antara beberapa kebun tersebut ada yang sedikit lebih luas ketimbang yang lainnya. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, kebun-kebun sahang tersebut adalah milik orang-orang cina. 

Memang di dusun Menggarau merupakan pemukiman yang termasuk banyak orang cina kala itu. Di antara kepemilikan kebun tersebut salah satunya disebut milik keluarga Li Yong Bak (panggilan lokal A Bak), hingga simpang menuju kebun tersebut di sebut simpang Abak. Lewat sedikit dari arah dusun Menggarau menuju Kampung Pangek disebut tubir (tanjakan) Bongsifat (Bong Si Fat - mungkin sebuah nama orang cina). Di sini terdapat beberapa makan orang cina (pendem - sebutan lokal).

Potongan peta Bangka tahun 1935-1946/koleksi pribadi
Potongan peta Bangka tahun 1935-1946/koleksi pribadi
Dalam peta ini juga (1933) ada 2  buah makam cina (chineesche graven) yang terletak di dusun Menggarau, tepatnya di Pekal Bawah jalan menuju bukit putih. Salah satunya disebut-sebut sebagai pendem Nek/Kek Calak (nama panggilan, nama cinanya belum diketahui).

Kebun sahang yang disebut milik keluarga A Bak memiliki pondok kebun dengan dinding terbuat dari bambu (bambooe huizen). Jika dilihat dalam peta 1933, pondok kebun tersebut terdapat 2 buah, dan hanya ada di wilayah kebun A Bak tersebut. Berdasarkan tutur lisan masyarakat, keluarga A Bak adalah orang paling kaya di sana kala itu. Hal ini juga dibenarkan oleh Balog (Gunadi) Helmi (Sepupu A Pen - anak Kek Kung Chik?), anak dari Liem Kong Yam kepala kampung (waktu itu, di angkat pada saat pendudukan Jepang dan berhenti tahun 1962, karena migrasi ke Jakarta. Ia juga sebagai juru tulis caca jiwa pulau Bangka yang dilaksanakan oleh Bapak Bismar Siregar) seorang cines yang lahir di Menggarau dan sudah lama tinggal di Jakarta, berdasarkan dari cerita orangtuanya dahulu. Kampung ini orang cina menyebutnya dengan "Ngit Liung".

Penjelasan dalam peta Bangka tahun 1933/koleksi pribadi
Penjelasan dalam peta Bangka tahun 1933/koleksi pribadi
Dalam dua peta ini, juga terlihat di wilayah Kampung Peradong, di dusun Menggarau (pekal megareu) kampungnya lebih panjang dibandingkan dengan di dusun Peradong (pekal peradong). Namun demikian, di dusun Peradong lebih melebar (luas) dibandingkan dusun Menggarau yang hanya panjang saja.

Dilihat dari gambaran ini, rumah penduduk  yang ada di dusun Menggarau hanya berada di sepanjang pinggir jalan saja, hingga mendekati sungai Pelangas  (pelangas river) yang berada di antara dusun Menggarau dan Peradong. Berbeda dengan dusun Menggarau, dusun Peradong rumah penduduk tidak hanya di sekitar tepian jalan saja, melainkan berada di belakang rumah lainnya (gang).

koleksi pribadi
koleksi pribadi
Di antara dusun tersebut juga dapat dilihat dalam peta bahwa ada kampung (pemukiman) yang di dekat dengan sungai Pelangas tadi. Masyarakat setempat menyebut wilayah ini dengan Pekal Bawah. Di sini penduduknya didominasi oleh orang cina. 

Semoga bermanfaat.

Mentok, 15 Oktober 2020

Suryan Masrin

VIDEO PILIHAN