Mohon tunggu...
Elnado Legowo
Elnado Legowo Mohon Tunggu... Penulis

Kata-kata memiliki kekuatan untuk mengesankan pikiran tanpa menyempurnakan ketakutan dari kenyataan mereka. - Edgar Allan Poe

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Misteri Si Jubah Hitam Tanpa Kepala

7 Mei 2021   20:40 Diperbarui: 8 Mei 2021   11:09 130 0 0 Mohon Tunggu...

Seharusnya acara live-in kampus - di salah satu daerah di Jawa Timur - ini dapat membuat kita menjadi dewasa dan mandiri. Bahkan sepulang dari acara tersebut, seharusnya kita juga membawa berbagai macam pengalaman inspiratif yang dapat kita bagikan ke sesama kita. Akan tetapi, aku merasa terlalu banyak berandai-andai untuk mengharapkan hal itu. Karena pada kenyataannya, tidak dengan demikian. Tidak dengan temanku yang bernama Yudis.

Semenjak pulang dari acara live-in kampus; dia jatuh sakit. Bahkan dia sampai harus mengambil cuti kuliah selama dua pekan dan harus menginap di rumah sakit. Aku tidak tahu jelas mengenai penyakit yang diderita oleh Yudis. Namun keluarganya hanya memberitahu bahwa Yudis terkena demam.

Yudis sering menggeligis dan mengigau di malam hari. Bahkan dia bisa menjerit-jerit tidak keruan dan melontarkan kata-kata aneh. Puncaknya, Yudis dapat menyerang semua orang yang ada di sekitarnya secara membabi buta, seperti orang yang kesetanan. Melihat keadaan itu, pihak dokter tidak mengizinkan Yudis untuk ditinggal sendirian, untuk mencegah terjadinya hal buruk.

Mendengar kabar tersebut, aku bersama salah seorang teman dekatku - bernama Mikel - memutuskan untuk membesuknya. Meskipun pada awalnya kami merasa ragu, tapi rasa iba dan ingin tahu akan kondisi Yudis telah menguatkan tekad kami untuk membesuknya. Walhasil, kami mencari hari yang senggang, agar kami punya banyak waktu saat besuk.

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk memilih hari Jum'at pada waktu senja sebagai hari besuk. Tepatnya setelah kami selesai kelas. Sebab itu adalah jadwal yang paling senggang bagi kami; sebagai mahasiswa semester empat yang sedang sibuk-sibuknya kuliah. Selain itu, kebetulan jam besuk Yudis juga berada di sekitaran jam lima sore sampai jam tujuh malam.

Lokasi tempat kosan kami dengan rumah sakit Yudis lumayan jauh, yaitu berjarak 10,6 km dan membutuhkan 37 menit perjalanan. Ditambah dengan keadaan lalu lintas yang padat, karena jam orang pulang kerja atau keluar jalan-jalan untuk menyambut akhir pekan. Untungnya Mikel mempunyai sebuah motor bebek, sehingga kami dapat menghemat waktu dengan mengambil beberapa jalan tikus sebagai jalan alternatif.

****

Setibanya di rumah sakit yang terletak di Jakarta Pusat. Aku melihat bahwa rumah sakit itu berbentuk seperti bangunan era 90-an. Akan tetapi, bangunan tersebut masih terlihat lebih modern daripada bangunan-bangunan sekitarnya yang terlihat seperti bangunan era 60 hingga 70-an.


Setelah Mikel memakirkan motornya, lantas kami bergegas masuk ke dalam rumah sakit - melalui pintu utama - dan menuju lantai tempat Yudis dirawat; sesuai dengan informasi yang telah diberikan oleh orang tuanya. Sesampainya kami di lantai tempat Yudis dirawat, kami langsung menuju lorong penginapan pasien. Disana kami bertemu dengan ayah Yudis yang sedang duduk di bangku lorong, seolah sedang menanti kedatangan kami. Lantas ayah Yudis menyambut kedatangan kami dengan hangat, dengan wajah yang menyembunyikan rasa kesedihan.


Kemudian ayah Yudis langsung mengajak kami untuk masuk ke kamar pasien - tempat Yudis dirawat - yang bertuliskan nomor 404 di pintunya. Sesampainya di dalam, kami mendapati Yudis yang sedang duduk di atas kasur dengan raut wajah ketakutan dan tubuh yang menggeligis. Sedangkan ibu Yudis sedang duduk di samping kanan kasur rawatnya, dengan ekspresi yang resah.


"Ezra... Mikel... Terima kasih kalian sudah mau datang." ujar ibu Yudis menyambut kedatangan kami dengan ramah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x