Mohon tunggu...
Ella Zulaeha
Ella Zulaeha Mohon Tunggu...

Jadikan sabar dan sholat senagai penolongmu

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mencintai Itu Menyakitkan! Benarkah?

27 September 2011   12:26 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:34 0 3 2 Mohon Tunggu...
Mencintai Itu Menyakitkan! Benarkah?
13113202291442473698

Mencintai itu menyakitkan, tidak mencintai juga menyakitkan. Mencintai namun tidak dicintai menyisakan luka yang teramat besar - Benita Peres Galdes

Tulisan ini terinspirasi ketika melihat curhat seorang teman melalui statusnya di FB. "Ternyata mencintai itu menyakitkan! Lebih baik Dicintai daripada mencintai". Kalimat tersebut melukiskan kekecewaan hati ketika orang yang kita cintai ternyata menyakiti hati.

Pernahkah anda merasakan cinta yang begitu menyakitkan? Bukankah cinta itu sesuatu yang seyogyanya mampu membuat setiap insan bahagia, bahkan sejuta rasanya takkan sanggup untuk diuraikan dengan kata-kata. Cinta adalah sebuah kekuatan. Kekuatan yang mampu merubah duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur, sedih menjadi riang, amarah menjadi ramah dan musibah menjadi muhibah. Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah ketulusan. Cinta adalah keikhlasan. Cinta itu tidak mengekang. Cinta itu tidak menyakiti. Namun dengan kekuatannya, cinta mampu membuat kita berurai airmata. Airmata kesedihan ataupun airmata keharuan. Namun mengapa cinta juga bisa merubah perilaku seseorang menjadi sosok yang begitu menakutkan layaknya monster?

Tentu anda pernah mendengar atau membaca berita yang sangat tidak manusiawi. Akibat terbakar cemburu, seorang suami tega membakar isterinya. Atau seorang laki-laki yang begitu kejamnya membunuh kekasihnya dengan cara keji hanya karena tidak terima kekasihnya itu ber-bbm ria dengan lelaki lain. Api cemburu ternyata mampu melumatkan cinta. Cemburu buta, posesif berlebihan, amarah meluap mampu memadamkan cinta yang membara.

Begitu banyak pertanyaan yang melatarbelakangi mengapa mencintai seseorang justru sangat menyakitkan? Mengapa cinta bisa mengubah seseorang menjadi kejam? Dan bila cinta bersemayam dalam hati, mengapa begitu banyak pasangan suami isteri yang memutuskan bercerai? Kemanakah perginya cinta yang dahulu bergelora? Mengapa seseorang tega mengkhianati pasangannya? Mengapa suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap isterinya? Mengapa ada orang yang nekat mengakhiri hidupnya dengan tragis hanya karena putus cinta? Sedemikian dahsyat kah cinta memporak-porandakan hati? Benarkah mencintai itu menyakitkan?

Lantas, latar belakang apa yang membuat seseorang mencintai menjadi begitu terasa menyakitkan hati:

1. Cinta yang terkhianati

Siapapun orangnya di muka bumi ini tentu akan merasakan sakit ketika mengetahui seseorang yang yang dicintai ternyata tega mengkhianatinya. Seorang isteri tentu akan merasakan kekecewaan yang teramat dalam ketika mengetahui suami yang sangat dicintainya telah berselingkuh atau memiliki Wanita Idaman Lain. Atau ia memergoki suaminya begitu menikmati kecantikan atau mengagumi wanita lain. Begitu pula sebaliknya. Sang suami menerima kenyataan isterinya ternyata tidak setia. Atau suami yang kecewa karena ternyata sang isteri tidak sesuai dengan harapannya. Ketika ia mengetahui isterinya ternyata seorang perempuan yang cerewet, pemarah atau memiliki perilaku yang tidak pantas. Mengharapkan pasangan memiliki kadar cinta yang sama namun ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan, hal itulah yang membuat orang yang sangat mencintai akan merasakan sesuatu yang begitu menyakitkan.

Rasa takut kehilangan seseorang yang sangat dicintai akan membuatnya merasakan sakit ketika menerima kenyataan pahit bahwa orang yang dicintainya itu ternyata telah meninggalkannya atau melukai hatinya. Tentu saja cinta akan semakin menyakitkan bila bernilai posesif, rasa kepemilikan yang sangat tinggi, sehingga sulit berbagi rasa dengan yang lain.

Pada prinsipnya manusia akan merasa kesulitan mengalami kehilangan. Rasa sakit kehilangan sesuatu lebih kuat dibandingkan saat mendapatkan sesuatu.

Menurut Daniel Kahneman, peraih penghargaan Nobel atas karyanya "Prospect Theory", memposisikan bagaimana seseorang mengambil pilihan dalam suatu situasi. Ketika ia harus mengambil keputusan antara 2 hal yang mengandung risiko. Contoh, manusia akan memandang rasa sakit kehilangan uang sebanyak Rp.50.000 lebih besar ketimbang ia mendapatkan uang dengan jumlah yang sama. Hal ini merupakan fakta psikologis bahwa otak manusia memandang rasa kehilangan lebih berat ketimbang mendapatkan suatu hal yang baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x