Mohon tunggu...
Eliya
Eliya Mohon Tunggu... Konsultan - Master in Political Communication

Author Book : Framing Jurus Slick Menjebak Pembaca

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemilihan Presiden 2019, Masih Pertarungan "Soerkarnoisme Vs Soehartoisme" Berlanjut?

4 Mei 2018   14:33 Diperbarui: 5 Mei 2018   02:44 553
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Habibie dan Megawati jadi presiden bukan karena hasil pilihan, tetapi adalah pengganti. Habibie menggantikan Soeharto yang menyatakan mundur setelah menghadapi gejolak dan gelombang demonstrasi. Megawati jadi presiden menggantikan Gus Dus yang diturunkan oleh MPR setelah 22 bulan berkuasa. MPR yang menurunkan Gus Dur adalah MPR yang  sama memilihnya jadi presiden.  

Ada 5 Presiden yang terpilih melalui pemilihan. Soekarno terpilih secara aklamasi dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI), 18 Agustus 1945.  Soeharto dipilih MPRS tahun 1968, setelah pemerintahan Soekarno dilumpuhkan melalui peristiwa 1965. Gus Dur dipilih MPR (UUD 1945  belum diamandemen).   SBY dan Jokowi dipilih  langsung melalui pemilu Presiden.

DIBALIK FENOMENA KEKUASAAN

Mengangkat isi dibalik fenomena kekuasaan dari lima presiden ini dapat, secara ideologis pendukung para presiden ini ( rakyat Indonesia)  dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok.  

Kelompok Soekarnoisme seperti disebutkan di atas membawa rakyat Indonesia untuk outward looking, sementara  Soehartoisme inward looking. Gus Dur  merupakan tokoh Humanisme yang dapat diterima oleh semua pihak. 

Dari fenomena ini tidak dapat disangkal, setiap guliran waktu pemilihan presiden terdapat pertarungan 2 kelompok dalam memperebutkan kekuasaan dinegara ini, Soekarnoisme dan Soehartoisme. Dapat dikatakan bahwa  Gus Dur tak dapat bertahan lama memimpin bangsa ini, karena terjepit didalam pertarungan Soekarnoisme  dan Soehartoisme.

Bila kita  membuka lembaran sejarah, tentu sejarah kekuasaan dari dua tokoh besar di atas, maka akan terbaca ( terinterpretasikan) bahwa  Soekarno mendapat kekuasan melalui proses perjuangan yang panjang, tulus dan suci untuk memerdekakan rakyat Indonesia dari tindasan  penjajah. Soekarno merebut kekuasaan dari tangan penjajah. Namun sangat memprihatinkan,  Soekarno diturunkan dengan cara yang buruk. Naik secara suci, turun secara menyedihkan.

Soeharto mendapatkan kekuasaan melalui surat perintah sebelas maret (Supersemar).  Supersemar ada karena ada tragedi pembantaian para jenderal melalui gerakan 30S/PKI. 

Solusi peristiwa G30 S/PKI  adalah  penyerahan mandat dan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Beberapa tahun yang lalu eksistensi Supersemar menjadi  perdebatan. Ada atau  tiadakah Supersemar? Terlepas ada atau  tidak adanya Supersemar, kekuasaan telah berpindah saat itu melalui  proses yang gelap bagi bangsa Indonesia, terutama generasi muda millennial sekarang ini.

Turunnya Soeharto tak jauh berbeda dengan proses naiknya, ada  kerusuhan  yang menelan korban, Saat turunnya itu bukan jenderal yang dibunuh, tetapi kerusuhan yang terjadi menelan banyak jiwa, termasuk para mahasiswa yang tertembak  saat berdemontrasi. Dapat dikatakan , naik melalui tragedi turun juga melalui tragedi.

KEKUATAN  TENGAH

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun